Ketika Panglima Koarmabar Mengunjungi Tanah Kelahirannya, Lingga

Rindu Masa Kecil, Inginkan Lingga Maju

668
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Panglima Komando Armada Republik Indonesia Bagian Barat, Laksamana Muda TNI Aan Kurnia. Ia tak kuasa memendam rindu akan tanah kelahirannya.

Atraksi pencak silat menyambut kehadiran Panglima Koarmabar, Laksamana Muda TNI Aan Kurnia, di Gedung Daerah Dabo Singkep, Lingga, Senin (5/9) lalu. Suasana mendadak berubah menjadi haru biru saat penyambutan dilanjutkan dengan tradisi tepuk tepung tawar.

Bahkan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Lingga, Datuk Raja Ruslan, nyaris meneteskan air matanya saat memberikan kata sambutan. Begitu juga dengan Aan sendiri, yang terlihat tak bisa menyembunyikan rasa harunya atas sambutan warga Dabo Singkep, siang itu.

Momen ini seolah membawa siapapun yang hadir kembali ke masa lalu. Tepatnya di Dabo Singkep, 51 tahun silam seorang anak bernama Aan Kurnia lahir dari pasangan Hariono Mukhana dan Nana Hanif. Hariono yang kala itu berstatus karyawan PT Timah turut memboyong istrinya setelah mendapat penugasan di Dabo Singkep. Aan kecil kelahiran Bunda Tanah Melayu itu, kini telah menyandang bintang dua di pundaknya dan sebagai pemegang tongkat komando tertinggi di Armada RI Bagian Barat.

Selang puluhan tahun berlalu meninggalkan Dabo Singkep, Aan tak kuasa menahan kerinduannya untuk datang kembali menginjakkan kaki di kampung halaman di mana ia dilahirkan. Pada Senin (5/9) siang, sang Panglima kembali menapak dan menyeruak kisah kecilnya di Dabo Singkep. Dengan wajah sumringah, Aan mengunjungi sejumlah tempat yang masih kental dalam ingatannya.

pangarmabarSeolah kembali ke masa silam, dengan lancar Aan menceritakan kisahnya menghabiskan waktu kecilnya di daerah penghasil timah terbesar di Indonesia saat itu. Ternyata, Gedung Daerah yang menjadi tempat penyambutannya siang itu, dulunya merupakan tempat bersejarah bagi dirinya.

Kala itu, gedung tersebut merupakan kediaman salah seorang pimpinan PT Timah di Dabo Singkep. Aan pernah menginjakkan kaki di rumah dinas bos dari bapaknya yang saat itu dijabat oleh Suranto.

Tidak hanya Gedung Daerah, Aan mengantongi berjuta kisah masa kecilnya di berbagai lokasi di negeri timah ini. Wisma Timah yang dahulu penuh dengan sarana hiburan menjadi lokasi kegemarannya. Sebab gedung ini merupakan pusat hiburan dan permainan yang digemari anak-anak seusianya, kala itu.

“Dahulu saya sering bermain di Wisma Timah, di sana ada kolam renang, kebun binatang, tempat bermain bowling, dan biliar,” ujar Aan sembari mengenang masa itu.

Panglima berbintang dua itu seolah tak mau melewatkan kenangan indah yang pernah dirasakannya di waktu kecil. Selepas acara penyambutan, Aan langsung mengunjungi sejumlah lokasi yang sangat bersejarah yang telah menjadi bagian cerita hidupnya. Walau beberapa lokasi yang dia kunjungi tidak lagi sama seperti dulu.

Seperti di Wisma Timah itu, kini tak ada lagi kebun binatang kesukaannya, tak ada lagi kolam renang yang menjadi saksi bisu bermain masa kecilnya, tak ada lokasi bowling favoritnya, tak ada lagi berbagai tempat hiburan yang selama ini mengkristal dalam ingatannya.

Bahkan rumah tempat ia berteduh dari panas dan hujan sewaktu baru dilahirkan di Dabo Lama, kini telah berganti dengan bangunan lain. Namun raut wajah sang Panglima menunjukkan isyarat puas, dengan menyaksikan sejumlah lokasi yang menjadi ladang juang ayahnya sebagai karyawan PT Timah untuk membesarkan dia dan kakak kandungnya yang juga lahir di Dabo Singkep.

Tak lupa Aan menyempatkan diri mengunjungi rumah Fatimah di Dabo Lama. Dahulu, wanita berumur lanjut itu pernah berjasa kepada orang tuanya. Fatimah mengenang, ia sering memberikan masakan kepada ayah Aan yang kala itu baru bertugas di Dabo Singkep setelah mendapat tugas penempatan dari PN Timah, kala itu Hariono belum memboyong istrinya ke pulau ini.

Kunjungan itu digunakan Aan untuk mengenang masa lalu. Ia menanyakan kondisi Fatimah yang telah berumur lanjut itu. Aan sangat antusias mendengar kisah dari nenek berambut putih itu walau kisah yang disampaikan terbata bata. Nenek Fatimah juga pernah singgah di kediaman Aan di Jakarta, saat Fatimah berangkat menunaikan ibadah haji bersamaan dengan keberangkatan haji kedua orang tua Aan ke Tanah Suci, Makkah.

Saat Aan tinggal di Dabo Singkep, dia sering berpindah-pindah rumah mengikuti orang tuanya menyesuaikan jabatan yang semakin tinggi di PT Timah. Terakhir, Aan menempati rumah di kawasan Setajam sesuai jabatan yang diemban ayahnya sebagai Kepala Bagian Purel di PT Timah.

Slametto Rabingu salah seorang bawahan Hariono, mengingat jelas sikap ayah sang Panglima sebagai atasan yang sangat perduli terhadap bawahan. Bahkan Slametto naik jabatan sebagai pegawai PT Timah adalah atas jasa Hariono. Sebelumnya Slametto hanya sebagai rangkong yang sekarang dikenal dengan sebutan Pekerja Harian Lepas (PHL) di Perusahaan Timah.

Sekitar tahun 1968, Hariono kembali ditarik ke Jakarta oleh PT Timah untuk bertugas di pusat. Begitu juga tentunya dengan Aan yang masih berumur empat tahun mesti mengikuti orang tuanya berpindah ke Jakarta pula. Namun setahun kemudian, Hariono bersama keluarga kembali lagi ke Dabo Singkep dan bertugas di PT Timah.

“Sekembalinya Pak Hariono ke Dabo Singkep, tidak bertugas di bagian Purel lagi. Saat itu dia pindah menjabat di bagian sekretariat protokol PT Timah,” kata Slametto.

Aan yang mengikuti orang tuanya juga kembali ke Dabo Singkep dan  sempat bersekolah di SD UPTS milik PT Timah di Jalan Perusahaan. Kala itu Aan sempat beberapa lama mengecap pelajaran di Dabo Singkep, hingga akhirnya Aan ikut ayahnya pindah tugas ke Jakarta.

Setelah puluhan tahun berlalu, akhirnya Aan kembali menyambangi tanah kelahirannya. Dia membuat bangga seluruh warga Tanah Bunda Melayu karena telah mengangkat Kabupaten Lingga sebagai salah satu daerah yang melahirkan seorang putra terbaik bangsa.

Alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke- XXXII/tahun 1987 yang dulu gigi susunya rusak karena minum air Dabo Singkep, kini datang dengan senyum indah dan ramah kepada warga yang menyambutnya. Dia datang dengan membawa semangat kepada seluruh masyarakat Kabuapten Lingga.

“Jika saya tidak lahir di sini mungkin saya tidak jadi panglima,” sebut Aan tegas di hadapan masyarakat membesarkan hati warga Dabo Singkep.

Dia juga menegaskan kepada bawahannya agar menjaga perairan dan daerah tempat dimana dia lahir agar selalu aman dari segala bentuk gangguan. Baginya, kampung kelahiran adalah tempat pembentukan karakter manusia, dan Dabo Singkep adalah tempat terbaik dalam hidunya.

“Saya lahir di sini, minum di sini, ari-ari saya juga di tanam di tanah ini. Daerah ini harus aman dan maju,” tegasnya. (wijaya satria)

Respon Anda?

komentar