Mentan Siapkan Lingga dan Natuna Jadi Sentra Produksi Beras Organik di Kepri

363
Pesona Indonesia
Menteri Pertanian Andi Amran saat turun menyemai padi di persawahan Lingga. Foto: hasbi/batampos
Menteri Pertanian Andi Amran saat turun menyemai padi di persawahan Lingga. Foto: hasbi/batampos

batampos.co.id – Beras oraganik diklaiam akan menjadi andalan Indonesia untuk masa depan. Selain menghasilkan produk yang segar dan menyehatkan, beras organik juga menguntungkan bagi petani karena nilai jual produknya lebih tinggi dibanding produk pertanian tradisional (anorganik).

“Kenapa masa depan, karena masyarakat di dunia sudah beralih ke organik. Di Belgia, kita ekspor beras ini dengan harga Rp 6 euro atau Rp 90-100 ribu perkilogramnya,” ujar Menteri Pertanian, Amran Sulaiman disela Rapat Kordinasi Pangan Provinsi Kepri di Hotel Novotel, Selasa (6/9/2016) malam.

Amran menyebutkan, di tengah upaya pemenuhan kebutuhan beras di dalam negeri, pihaknya akan mengupayakan peningkatan luas lahan menjadi 100 ribu ha se-Indonesia, untuk ditanami padi dengan cara organik. Oleh karena itu, ia mengajak petani Indonesia untuk mulai melirik pertanian ini.

“Mulai sekarang sifat mental petani harus kita ubah, untuk beralih ke organik,” ucapnya.

Di Kepulauan Riau, kata Amran, Lingga dan Natuna akan dijadikan prioritas padi organik. Tidak tanggung-tanggung, Menteri Pertanian (Mentan) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga dan Natuna sudah menyediakan 4.000 hektar lahan untuk ditanami padi masa depan tersebut.

“Dikerjakan mulai hari ini, Rabu (7/9/2016), anggaran dan lahan sudah ada. Selain memenuhi kebutuhan lokal, pasar kita Malaysia dan Singapura,” tutur menteri yang berasal dari Bone tersebut.

Keunggulan lainnya dari padi organik ini, kata Menpan ialah tidak perlu memakai lahan yang luas. Biasanya satu hektar sawah hanya menghasilkan maksimal tiga ton padi. Namun padi organik ini mampu menghasilkan tujuh sampai delapan ton beras. Efisien dengan hasil yang maksimal tentunya.

“Kita ambil rata saja lima ton per hektare, dengan harga segitu bisa menghasilkan uang Rp 6 triliun. Apalagi setahun kita bisa panen, tiga hingga empat kali,” imbuhnya.

Amran menambahan, kehadiran beras organik ini nantinya akan mampu menghilangkan ketergantungan masyarakat Indonesia akan beras Vietnam dan Thailand. “Ketahanan pangan adalah ketahanan negara. Negara akan makmur kalau pangan masyarakatnya tidak bermasalah,’ tuturnya lagi.

Sejak dilantik dua tahun yang lalu, kata Amran, Indonesia sudah tak mengimpor beras lagi. Bukan itu saja, berdasarkan survey yang dirilis Economist Intelligence Unit, tahun 2015 indonesia berada di posisi ke 75 untuk ketersediaan pangan. Sedangkan di tahun 2016 naik ke posisi 66 dunia.

Sedangkan untuk kenaikan ketahanan pangan yang dirilis lembaga dunia tersebut, Indonesia menempati posisi pertama dunia dan disusul Myanmar di posisi kedua. “Ini kerja keras kita semua, ada tekat yang kuat tak ada yang tak bisa. Mari kita jadikan Lingga sebagai lumbung padi organik Kepri,’ pungkasnya. (rng)

Respon Anda?

komentar