Pelayaran ke Anambas Tidak Layak Dengan Kapal Cepat

609
Pesona Indonesia
Feri Seven Star yang biasanya melayari rute Tanjungpinang-Anambas. foto:net
Feri Seven Star yang biasanya melayari rute Tanjungpinang-Anambas. foto:net

batampos.co.id – Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjungpinang, Capt Teddy mengatakan apabila mengacu pada standarisasi pelayaran di laut terbuka, sebenarnya tidak ideal menggunakan kapal cepat. Artinya kapal yang memenuhi standar untuk pelayaran ke Anambas hanya KM Sabuk Nusantara dan sekelasnya.

” Apabila kita mengacu standar kapal non convensi berbendera Indonesia yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan, kapal cepat yang ada saat ini, tidak layak untuk berlayar di laut terbuka dengan jarak tempuh 8-10 jam,” ujar Capt Teddy menjawab pertanyaan koran Batam Pos di Kantor KSOP Tanjungpinang, Rabu (7/9).

Dijelaskannya, standarisasi minimal yang ditentukan panjangnya adalah 50 meter, lebar 10 meter. Sementara itu kedalaman kapal saat muatan maksimal adalah 4-5 meter. Lebih lanjut katanya, skala lain yang ditentukan adalah untuk pelayaran laut terbuka yang jarak tempuhnya diatas 8 jam harus menggunakan double bottom atau dasar ganda. Adapun fungsinya adalah mencegah kapal tenggelam ketika terjadi kebocoran pada lampu. Karena masih ada lampisan dalam

“Kelayakan kapal juga harus punya sekat tubrukan yang berfungsi mencegah tenggelamnya kapal ketika terjadi kebocoran di haluan. Artinya kapal-kapal yang kita stop sementara, karena memang tidak memenuhi standar,” jelasnya.

Ditegaskannya, sebagai putra daerah Provinsi Kepri, dirinya juga ingin memberikan yang terbaik. Sehingga sarana transportasi yang ada memberikan rasa nyaman dan aman bagi masyarakat yang menggunakan jasa. Bukan sebatas profit oriented. Sehingga tidak memperhatikan aspek-aspek keselamatan dalam berlayar.

Masih kata Capt Teddy, pihaknya juga sudah mendorong pihak manajemen Rempang Sarana Bahari selaku pengelola Mv. Seven Star Island, Mv VOC Batavia, dan Mv. Trans Nusa untuk melakukan peremajaan. Artinya tiga armda yang ada tersebut bisa dijual, sehingga dapat menyediakan armada transportasi yang stadard yang dibutuhkan.

“Kebijakan yang kita berikan kepada kapal cepat yang berlayar saat ini, karena sudah mendekati standar yang ditentukan. Seperti Blue Sea Jet yang panjang kapalnya 38 meter dan lebarnya 12 meter. Artinya dua kali lipat dari armada yang kita stop pelayarannnya sementara ini. Apabila cuaca tidak mendukung, juga tidak akan diizinkan berlayar,” paparnya.

Stadarisai keselamatan yang lainnya dan menjadi penting keberadaanya adalah alat keselamatan skoci, inflacable life raft atau raket penolong kembung. Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah life jacket kurang lebih 115 persen. Sedangkan life jacket untuk anak-anak 10 persen dari dewasa.

“Khusus untuk kapal kecepatan tinggi, dia harus punya kualfikasi ijazah brefet a dan brefet B. Brefet A familiar dengan keadaan kapal, sehingga ketika terjadi sesuatu bisa bertindak cepat. Brefet B, nakhoda harus paham rute yang dijalani, sehingga bisa terus berlayar ketika terjadi gangguan pada alat bantu navigasi,” paparnya lagi.

Ditambahkannya, jika melihat kelayakan kapal-kapal dihentikan sementara pelayaranya lebih layak untuk perjalanan dari Tanjungpinang ke Karimun, sampai ke Dumai. Karena melintasi pulau-pulau Atau ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Langkah ini, memang perlu dilakukan.

“Kita berharap belajar dari pengalaman ini, akan melahirkan armada-armada yang kompetitif. Bukan sebatas hanya mengedepankan kepentingan bisnis atau profit oriented,” tutupnya.

Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Kepri, Irwansyah mengatakan armada-armada yang berlayar memang harus memenuhi standarisasi yang ada. Politisi PPP Kepri tersebut juga mengharapkan, ketegasan dari KSOP. Apalagi menyangkut keselamatan berlayar. Sehingga kapal yang tidak layak, jangan dipaksakan berlayar.

“Kita juga mendorong transportasi di Kepri terus berkembang. Tetapi tetap dengan mematuhi ketentuan yang ada. Kami juga sudah sampaikan kepada Dirjen Perhungan Laut, Kemenhub untuk menambah kapal perintis di Kepri,” ujarnya.(jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar