Persiapan Indonesia Ikut Lelang Jadi Tuan Rumah Piala Dunia

1180
Pesona Indonesia
Jafni Zul Fahmi (kiri) dan Fikri Izza , 2 mahasiswa fakultas arsitektur ITS merancang konsep stadion piala dunia 2026 di Indonesia.. Sebanyak 8 stadion disiapkan dan dibagi perwilayah secara mendetail, selain menjadi tuan rumah sepak bola,  juga dapat mengangkat banyak aspek ekonomi seperti transportasi, ekonomi, ,dan memperkenalkan budaya indonesia.
Jafni Zul Fahmi (kiri) dan Fikri Izza , 2 mahasiswa fakultas arsitektur ITS merancang konsep stadion piala dunia 2026 di Indonesia.. Sebanyak 8 stadion disiapkan dan dibagi perwilayah secara mendetail, selain menjadi tuan rumah sepak bola, juga dapat mengangkat banyak aspek ekonomi seperti transportasi, ekonomi, ,dan memperkenalkan budaya indonesia.

KABAR yang diterima Jafni Zul Fahmi dan Fikri Izza pada Jumat malam (2/9) tergolong mendadak. Kabar itu menyebutkan bahwa Menpora Imam Nahrawi akan berkunjung ke Graha Pena Surabaya pada Sabtu (3/9). Dijadwalkan, pagi itu Menpora menghadiri peresmian Honda DBL Camp 2016 dan kantor manajemen PT DBL Indonesia di sebelah kantor redaksi Jawa Pos.

Tak pelak, dua mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut dibuat bingung. Sebab, mereka belum merampungkan bahan-bahan yang akan dipresentasikan ke Menpora

“Tapi, kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Makanya, kami malam itu lembur untuk menyelesaikan semua,” kata Jafni.

Selain dalam bentuk video, Jafni dan Fikri harus membuat brosur maupun gambar desain dalam coretan kertas.

“Semangatnya melebihi saat ngerjain tugas kuliah,” tambah Jafni, lantas tertawa.

Fikri mengungkapkan, dirinya bersama Jafni sudah lama ingin bertemu Menpora. Dua mahasiswa itu ingin menunjukkan hasil rancangan mereka tentang stadion-stadion yang layak dipergunakan untuk World Cup 2026.

“Kami ingin Menpora tahu stadion-stadion rancangan kami tersebut. Karena itu, kami harus mengomunikasikan langsung kepada beliau,” ujar Fikri.

Maka, begitu saatnya tiba, Jafni dan Fikri langsung menemui ajudan Imam untuk memastikan jadwal presentasinya. Awalnya, mereka ditolak karena jadwal Menpora cukup padat hari itu. Namun, keduanya terus ngotot agar diberi kesempatan untuk menunjukkan karya mereka kepada Menpora.

“Hanya lima menit,” rayu Jafni kepada ajudan Imam.

Setelah dikomunikasikan dengan Menpora, Jafni dan Fikri akhirnya bisa bernapas lega. Usaha mereka membawa hasil. Menpora bersedia menerima mereka di sesi terakhir kunjungannya di Jawa Pos.

“Tapi, sambil jalan ya. Awalnya sih gitu,” kata Jafni menirukan jawaban ajudan Imam. Mereka tidak berpikir ulang dan langsung mengiyakan kesepakatan tersebut.

Nah, saat menunggu itulah, dua pemuda tersebut mengaku deg-degan dan grogi. Maklum, mereka belum pernah melakukan presentasi di depan pejabat, apalagi pejabat yang langsung berhubungan dengan rancangan mereka.

Di ruang khusus, Jafni dan Fikri langsung meminta Imam Nahrawi untuk menyaksikan video rancangan lima stadion itu. Sambil menonton, Jafni dan Fikri bergantian menjelaskan gambar stadion-stadion tersebut.

Imam tampak kagum melihat kreativitas dua anak muda tersebut.

“Ini karya kalian berdua?” ujar Imam seperti tidak percaya. “Hebat. Bagus. Boleh nanti saya putar di kantor Kemenpora?” pintanya, lalu disambut senyum gembira oleh Jafni dan Fikri.

“Terima kasih apresiasinya, Pak,” tutur Jafni.

Bukan hanya itu. Mereka juga berhasil mengulur-ulur waktu presentasi. Dari yang semula hanya lima menit menjadi sekitar setengah jam. Selama itu Jafni dan Fikri menjelaskan secara terperinci rancangan mereka yang diberi judul Karya Istimewa untuk Indonesia Merdeka.

“Kata Menpora, rancangan kami ini sesuai dengan keinginan dan cita-cita beliau,” ujar Jafni.

Menpora seketika langsung meminta softcopy video dan gambar rancangan stadion-stadion itu. Yakni, 5 rancangan stadion baru dan 7 stadion lama yang direnovasi. Stadion-stadion tersebut tersebar di sembilan kota besar di Indonesia. Yakni, Makassar, Bali, Semarang, Jogjakarta, Jakarta, Banjarmasin, Medan, Pekanbaru, dan Bandung. Setiap rancangan mengambil ciri khas budaya daerah setempat.

Jafni mencontohkan desain stadion di Bali yang diberi nama Mayadenawa Stadium. Lokasinya di kawasan Benoa. Mahasiswa 21 tahun tersebut menjelaskan bahwa Mayadenawa Stadium berkapasitas 58.300 orang. Keunikan desain stadion tersebut terletak pada bagian atap. Bentuk atap Mayadenawa Stadium menyerupai gerakan tangan para penari kecak.

“Gelombang-gelombang di atap ini seperti kumpulan tangan penari kecak,” ujar Jafni.

Lain lagi dengan stadion di Makassar, Sulawesi Selatan. Atap stadion yang diberi nama Sultan Hasanuddin Sport Complex tersebut menyerupai atap rumah adat Toraja.

“Jadi, para pengunjung stadion nanti bisa belajar tentang keberagaman budaya Indonesia,” terang mahasiswa kelahiran Jombang, 25 Agustus 1995, tersebut.

Selain itu, desain stadion mereka ramah lingkungan. Misalnya, stadion di Semarang. Seluruh atap stadion menggunakan panel surya yang dapat menghasilkan aliran listrik sebesar 10 ribu kWh. Dengan begitu, masyarakat sekitar stadion dapat memanfaatkannya.

Stadion-stadion rancangan Jafni dan Fikri juga dilengkapi tata cahaya yang megah, akses keluar-masuk penonton yang memadai, serta museum dengan koleksi barang-barang khas daerah setempat. Museum tersebut diletakkan setelah pintu masuk utama. Dengan demikian, pengunjung dapat menikmati sajian budaya yang ada di museum di sepanjang jalan menuju venue penonton.

Soal biaya, Jafni dan Fikri sudah menghitung dengan terperinci. Dalam rancangan mereka, pembangunan stadion-stadion tersebut menghabiskan anggaran Rp 200 triliun untuk stadion baru maupun yang direnovasi. Termasuk untuk pembangunan akses pendukung di sekitar stadion.

Jafni dan Fikri tidak mau setengah-setengah dalam merancang karya itu. Mereka bahkan sudah menghitung keuntungan yang bakal diperoleh dari stadion-stadion tersebut ketika sudah beroperasi.

Itu dapat dilihat dari lokasi yang digunakan. Setiap stadion diletakkan di titik dengan kemudahan akses transportasi. Misalnya, dekat dengan bandara, stasiun kereta, atau pusat keramaian lainnya. Dengan begitu, pembangunan stadion ditambah dengan penyelenggaraan Piala Dunia nanti dapat meningkatkan perekonomian negara dan rakyat.

Jafni dan Fikri memang tidak menyangkal bahwa peluang Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 masih kecil. Namun, bila pemerintah terus mendorong dan berupaya keras, tidak tertutup kemungkinan Indonesia terpilih sebagai host pergelaran akbar sepak bola dunia itu.

“Kami sudah menghitung peluang Indonesia terpilih itu pada 2026,” ungkap Fikri.

Untuk itu, Jafni dan Fikri akan terus menggelorakan optimisme Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026. Selain lewat kegiatan-kegiatan di kampus, mereka memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan semangat tersebut.

Contohnya, melalui website, YouTube, dan Instagram. Sejak hal tersebut dirilis pada 17 Agustus, jumlah dukungan yang masuk melalui komentar dan like ke medsos mereka sudah mencapai jutaan orang. Semua komentar menunjukkan dukungan positif.

“Bahkan, orang PSSI ikut mendukung gerakan kami ini,” tandas Jafni. (BRIANIKA IRAWATI, Surabaya ) 

Respon Anda?

komentar