Wali Kota Bengkulu Dukung Pembangunan PLTU

232
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mendapat penolakan dari berbagai kalangan masyarakat. Meski begitu, Wali Kota H. Helmi Hasan, SE justru mendukung.

Menurutnya pembangunan PLTU berdaya 2×100 megawatt di kawasan Teluk Sepang Kecamatan Kampung Melayu, menjadi salah satu solusi krisis listrik yang melanda Bengkulu. Selain itu tenaga listriknya dapat membantu menaikkan investasi rumah tangga maupun pendapatan daerah.

“Kita tahu sendiri kalau listrik kita kekurangan. Saya pikir ini solusi baik. Jika ada kekhawatiran (soal pencemaran lingkungan), dapat dimediasikan saja. Nanti kita undang dari PLTU atau pihak mana yang dapat diklarifikasi dari investornya. Kita tidak boleh menghalangi investasi masuk. Apalagi ini investasi listrik,” terang Helmi Hasan seperti diberitakan Rakyat Bengkulu (Jawa Pos Group) hari ini (8/9).

Terkait soal surat izin lahan tersebut, Helmi mengatakan, pihaknya akan berkordinasi dengan pihak Pemda Provinsi Bengkulu. Lokasi tersebut diketahui bertempatan lahan milik Pelindo. Sehingga jika terdapat permasalahan merugikan masyarakat setempat, maka Pemkot Bengkulu siap membantu masyarakat sekitar.

“Jika memang ada dampak yang fatal, maka kita harus duduk bersama. Sebab segala sesuatu itu ada jalan keluarnya. Yang penting pembangunan ini unuk kepentingan bersama,” ungkap Helmi.

Selain itu menurut Helmi, dirinya siap menampung masukan dari masyarakat terkait perihal pembangunan PLTU tersebut. “Silakan sampaikan saja ke Pemkot. Karena apapun masukan masyarakat akan kita tindaklanjuti,” tuturnya.

Seperti diketahui, penolakan pembangunan PLTU sebelumnya dilakukan dari masyarakat yang mengatasnamakan diri sebagai Koalisi Masyarakat Sipil Bengkulu (KMSB). Lalu juga datang dari aktivis lingkungan dan masyarakat Kelurahan Teluk Sepang.

Argumen masyarakat tersebut jika PLTU berdiri, maka limbah yang nantinya akan dibuang ke laut. Sehingga bisa mengakibatkan kerusakan trumbu karang. Hal itu akan membunuh mata pencarian masyarakat Teluk Sepang yang sebagian besarnya nelayan.(jpg)

Respon Anda?

komentar