Sakit Perut Didiagnosa Sakit Jantung, Pasien di Natuna Tertekan

417
Pesona Indonesia
Ketua Komisi I DPRD Natuna Raja Marzuni.
Ketua Komisi I DPRD Natuna Raja Marzuni.

batampos.co.id – Beberapa pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Natuna mengeluhkan hasil diagnosa dokter karena tidak jarang meleset. Kecemasan pasien ini diutarakan Ketua Komisi I DPRD Natuna Raja Marzuni. Bahkan dirinya sendiri mengalami hasil diagnosa dokter yang tidak masuk diakal. Dengan penyakit-penyakit yang tidak diderita.

Seringnya kesalahan hasil diagnosa dokter ini, kata Marzuni, sudah mencemaskan warga yang akan berobat keluhan penyakitnya di RSUD. Kondisi ini sejak tahun 2015 lalu, dan sudah ditelusuri penyabnya.

“Terakhir itu tadi malam, ada warga Pulau Tiga sempat dirawat di rumah sakit. Menderita keluhan sakit perut, tapi malah didiagnosa penyakit jantung, kan aneh,” ungkap Marzuni di kantornya, Kamis (8/9).

Akhirnya, lanjut Marzuni menceritakan, pasien langsung dirawat di ICU, dipasangi selang oksigen. Dampaknya pasien bertambah stres dengan tekanan diagnosa penyakit yang sebelumnya tidak pernah dideritanya.

“Bapak itu warga saya di Pulau Tiga. Selama ini tidak pernah keluhkan sesak napas atau nyeri bagian jantung. Hanya sakit perut, tapi malah didiagnosa jantung,” kata Marzuni.

Dikatakan Marzuni, kejadian ini bukan kali pertama, namun sudah sering DPRD menerima keluhan. Pasalnya setelah pasien melakukan pemeriksaan di rumah sakit lain, tidak ditemukan penyakit yang didiagnosa sebelumnya.

Untuk mengatasi persoalan ini, sambungnya, secepatnya Komisi I mengundang pihak RSUD memperbaiki mutu pelayanan. Juga memaksimalkan badan layanan umum daerah (BLUD). Karena saat ini RSUD bukan karena kekurangan anggaran.

Tetapi, RSUD kekurangan dokter. Salah satunya dokter di instalasi gawat darurat (IGD). Semestinya terdapat 7 dokter tetap bertugas di IGD, tetapi sekarang hanya 3 dokter tetap, dan dibantu dokter magang.

“Sekarang ini RSUD tidak ada persoalan keuangan, saya sudah tanyakan kepada bagian keuangan. Malah anggarannya cukup dan bisa lebih. Tapi sekarang kenapa kekurangan dokter, dan didominasi dokter magang,” ujar Marzuni.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar