In Memoriam Tarman Azzam, Mantan Ketua Umum PWI Pusat: Dedikasikan Hidupnya untuk Pers Indonesia

485
Pesona Indonesia
Socrates dan Tarman Azzam berfoto bareng di depan Kantor Bupati Natuna saat berkunjung ke sana saat masih hidup beberapa waktu silam. Foto: dok. Socrates
Socrates dan Tarman Azzam(kanan) berfoto bareng di depan Kantor Bupati Natuna saat berkunjung ke sana saat masih hidup beberapa waktu silam. Foto: dok. Socrates

batampos.co.id – Pers Indonesia berduka. Ketua Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan mantan Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam meninggal dunia di Ambon, Jumat  (9/9/2016) pukul 09.23 WIT.

Tarman meninggal setelah mendapat serangan jantung di Ambon, Maluku, saat ingin menghadiri peluncuran Hari Pers Nasional 2017 bersamaan dengan pembukaan pesta Teluk Ambon.

Seperti apa sosok Tarman Azzam? Berikut catatan Mantan Ketua PWI Kepri Socrates yang mengenal dekat Tarman Azzam.

Saya mengenal Tarman Azzam saat masih jadi Ketua PWI Perwakilan Batam. Saat itu, Batam masih wilayah Riau. Hubungan saya dengan Tarman, tidak hanya sebatas Ketua Umum PWI Pusat, tapi saya anggap orang tua dan guru.

Ia seorang wartawan kawakan. Tarman memimpin Persatuan Wartawan Indonesia dua periode, saat reformasi bergulir dan bermunculan organisasi wartawan baru.

Saat saya bermasalah dengan Dandim Batam saat itu karena berita, Tarman menyuruh saya ke Jakarta, melapor ke PWI Pusat. Laporan saya disampaikan Tarman ke DPR RI. Akhirnya, hubungan saya dengan Edy Rahmayadi, mencair dan berteman baik.

Edy Rahmayadi kini jadi Pangkostrad. Saat itu, Tarman mengantar saya dari kantor PWI Pusat di Kebon Sirih, naik mobil sedan tua miliknya. “Bung Socrates, ini Ketua Umum mengantar Ketua PWI Perwakilan Batam,” katanya, tertawa.

Hubungan saya dengan Tarman Azzam makin intens setelah saya terpilih jadi Ketua PWI Kepri yang pertama. Tarman memberi kelonggaran, saat PWI berkantor di Batam. Padahal, sesuai AD/ART harus berkedudukan di Tanjungpinang sebagai ibukota Provinsi Kepri.

Meski PWI Kepri tercatat sebagai cabang termuda, Tarman memberi peluang besar organisasi wartawan ini berkembang, sama dengan cabang lain di Indonesia. Antara lain, diikutsertakan pada peringatan Hari Pers Nasional di Bali, rapat kerja di Papua, Porwanas di Pekanbaru serta berbagai kegiatan lain.

PWI Kepri saat itu dua kali mendapat penghargaan nasional sebagai cabang paling aktif dan sukses melaksanakan Training of Trainer se Indonesia.

Tarman Azam mendedikasikan hidupnya untuk PWI. Ia rajin mengunjungi berbagai daerah, termasuk Kepri. Tarman pernah datang ke Natuna dan Karimun, hadir pada pembentukan PWI Perwakilan. Hanya, ke Lingga niatnya belum kesampaian.

Kunjungan saya dan Tarman ke Karimun menyisakan cerita. Karena ketinggalan kapal, saya dan Tarman naik boat pancung, jam 4 sore. Tiba-tiba, cuaca buruk. Laut bergolak, karena angin Barat. Pancung yang kami naiki oleng dan mulai dimasuki air laut. Saya dan Tarman basah kuyup.

Hari mulai gelap. Tarman sempat mengirim SMS ke bos saya Rida K Liamsi. ” Saya dan Socrates naik pancung ke Karimun.” Balasan SMS Rida membuat Tarman bingung. “Ya, hati-hati di Selat Durian.” Ternyata, arus di selat Durian menjelang ke Karimun terkenal kencang.

Hampir empat jam saya dan Tarman serta dua tekong terombang-ambing di laut. Kami sudah ditunggu oleh HM Sani, Bupati Karimun saat itu. Begitu sampai di Karimun, Tarman langsung didaulat memberi ceramah buat calon haji. Saya yang masih trauma dengan ombak laut, bertanya pada wartawan di Karimun, apakah pernah naik pancung ke Batam. Mereka tertawa. “Mana kami berani,” kata mereka. Kisah perjalanan ke Karimun itu, selalu diceritakan Tarman saat berkunjung ke cabang lain.

Selain sangat paham soal wartawan dan dunia jurnalistik, Tarman Azzam sangat dikenal oleh kalangan pejabat penting sampai presiden. Ia berkali-kali menjadi ketua wartawan istana, yakni para wartawan yang bertugas di istana negara.

Yang saya kagum, Tarman seorang orator ulung. Pidatonya berapi-api dan tanpa teks. Saya pernah bertanya padanya. “Anda ingat saja poin-poinnya,” katanya, tersenyum.

Saya dan beberapa pengurus PWI Kepri masih hadir di Banda Aceh, saat kongres PWI yang memilih Margiono dan menggantikan Tarman sebagai Ketua Umum PWI Pusat. Tarman didapuk menjadi Ketua Dewan Kehormatan.

Meski tidak lagi menjadi Ketua Umum, saya masih terus berkomunikasi dengan Tarman Azzam. Ia hadir di Batam saat peluncuran tabloid Media Islam, bersama Gubernur Kepri Almarhum HM Sani dan Asman Abnur di Masjid Jabal Arafah. Terakhir, saya bertemu Tarman saat acara Hari Pers Nasional di Tanjungpinang. Sesekali, Tarman masih menelepon saya atau berkirim kabar melalui pesan pendek.

Tarman Azzam mengatakan, ia memilih profesi wartawan karena panggilan jiwa untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Kedengarannya klise. Tapi itulah yang selalu ia ucapkan setiap kali ditanya mengapa menjadi wartawan.

Bersama Rosihan Anwar, Tarman Azzam pernah menerima anugerah sebagai Tokoh wartawan Dunia Melayu dari Persatuan Bekas wartawan Berita Harian Malaysia.

Tarman memulai kariernya sebagai wartawan tahun 1970-an.Selama menjadi wartawan, Tarman juga aktif menjadi Anggota PWI. Hingga kemudian Tarman menjadi Ketua PWI Jaya dan Ketua Umum PWI Pusat.

Selain sebagai pengurus PWI ia juga pernah menjadi anggota MPR, anggota DPRD DKI Jakarta dan Majelis Pakar Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Tarman Azzam pernah menjadi Pemimpin Redaksi Harian Terbit.

Pria kelahiran Bangka, 11 Desember 1949 ini pernah menjabat sebagai Ketua Umum PWI periode 1998-2003 dan 2003-2008. Pada periode 2008-2013 Tarman dipercaya sebagai Ketua Dewan Kehormatan, dan mulai menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat  sejak tahun 2013, sampai akhir hayatnya.

Ketua Dewan Kehormatan PWI, Ilham Bintang mengatakan, Tarman merupakan satu di antara sedikit wartawan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk organisasi kewartawanan paling tua di Indonesia tersebut.

“Dia hampir tak menyisakan waktu untuk keluarga karena mengurus organisasi,” ujar Ilham Bintang.

Dedikasi Tarman Azzam terhadap PWI dan dunia pers Indonesia, juga mendapat dukungan penuh dari istrinya, Aas Sudiasih yang menjadi Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia, dan selalu mendampingi Tarman Azzam dalam kegiatan PWI yang diikutinya.

Mantan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, kepada saya juga menyampaikan kesan-kesannya terhadap almarhum. “Tiga bulan lalu, beliau masih menelepon saya membicarakan Batam dan Kepri serta perekonomian Indonesia. Sesekali kami jumpa di Jakarta minum kopi,’’ kata Ismeth Abdullah.

Di mata Ismeth, Tarman Azzam orang yang energik, punya banyak gagasan, berpikir positif dan pandai bergaul.

“Berdiskusi dengan beliau selalu mendapat ide segar. Dunia pers sangat kehilangan seorang pejuang pers bebas dan berintegritas. Saya yakin, Anda juga punya banyak kenangan dengan almarhum Tarman Azzam,’’ tulis Ismeth yang dikirimkan kepada saya.

Ya. Tarman punya banyak kenangan tidak hanya bagi saya, juga bagi para wartawan dan Pers Indonesia. Selamat jalan Pak Tarman. ***

Respon Anda?

komentar