Kiai Ahong dari Makam Wali Ningxia

731
Pesona Indonesia
Masyarakat muslim Cina, di perbatasan Korea Utara dan di perbatasan Rusia. Foto: Dahlan Iskan
Masyarakat muslim Cina, di perbatasan Korea Utara dan di perbatasan Rusia. Foto: Dahlan Iskan

Sebelum kembali lagi ke Amerika, Dahlan Iskan beberapa hari di daerah Muslim Cina, di perbatasan Korea Utara dan di perbatasan Rusia. Ini kisahnya:

Inilah pengalaman saya Jumatan di salah satu dari 3.100 masjid di Provinsi Ningxia, Cina bagian barat.

Saya memilih masjid ini demi kepraktisan. Lokasinya di tengah kota. Kota Wuzhong, dua jam dari Yinchun, ibukota Provinsi Ningxia.

Masjid ini bersebelahan dengan restoran. Selama saya Jumatan istri saya bisa makan siang. Bersama beberapa teman Cina yang mengaku bertuhan tapi tidak beragama.

Sebenarnya saya bisa Jumatan di satu masjid berumur 600 tahun. Bahkan ada dua yang segitu tuanya. Sama-sama besarnya. Sama-sama seperti kelenteng bentuknya. Yang pagi itu juga sama-sama saya kunjungi. Yang dua jam jaraknya dari Wuzhong.

Tapi hari masih terlalu pagi. Lebih baik saya jalan lagi. Waktu yang tersedia bisa saya manfaatkan untuk ziarah. Ke makam wali penyebar Islam di Ningxia: Kyai Hong Shou-lin.

Saya membayangkan betapa sulitnya Kyai Hong Shou-lin membawa Islam ke negeri Cina. Hingga ada 70 juta orang Islam di sana saat ini.

Makam ini letaknya di tengah gurun pasir. Dua jam naik mobil dari Kota Wuzhong, tempat saya Jumatan tadi. Tidak ada kampung di dekat makam ini.
Dari jarak setengah jam saya sudah bisa melihat makam itu. Dari menara-menaranya yang tinggi. Begitu megahnya semula saya pikir itu masjid besar. Ada empat menara setinggi menara masjid Istiqlal Jakarta. Di tengah menara-menara hijau itu terlihat kubah besar yang juga berwarna hijau.

Itukah masjid utama di komplek makam waliullah ini? Ternyata bukan. Menara-menara itu, dan kubah besar itu, ternyata hanya pintu gerbangnya. Di balik bangunan gerbang ini masih banyak bangunan lain. Masing-masing memiliki gerbang sendiri. Juga menaranya sendiri.

Yang paling belakang barulah bangunan seperti masjid. Saya menapaki tangga-tangganya. Ternyata ini juga bukan masjid. Inilah makamnya.
Tiga orang terlihat sedang berdoa di dekat makam itu. Satu orang lagi, tua, berada di lantai atas. Lagi menyimak kitab.

Saya tidak mau menegur mereka. Agar tidak mengganggu. Saya langsung menyiapkan diri untuk sembahyang sunnah. Menghadap searah dengan mihrab, tempat imam, yang lagi kosong.

Begitu melakukan gerakan takbiratul ikram (gerakan pertama salat dengan mengangkat kedua tangan sampai setinggi telinga) orang yang menyimak kitab tadi berteriak-teriak ke arah saya. Marah-marah.

Saya membatalkan sembahyang saya. Saya datangi dia.
“Saya tidak mengerti mengapa Anda marahi saya,” kata saya. Dalam bahasa Mandarin.
“Anda ini Islam atau bukan?”
“Islam,” jawab saya.
“Kok tidak tahu cara sembahyang?” tanyanya masih dengan nada tinggi.

Saya memahami sikapnya itu. Orang Islam di Cina umumnya curiga dengan orang asing. Atau orang yang bukan suku Hui.
“Apanya yang salah?” tanya saya.
“Menghadap ke mana sembahyangmu itu,” tegurnya.
Oh, saya tahu.
Saya tadi ternyata menghadap ke utara. Bukan menghadap ke barat.
Lalu saya jelaskan bahwa saya tadi hanya mengikuti arah mihrab. Tempat imam. Begitulah di Indonesia.
“Itu bukan tempat imam,” katanya, “itu kamar saya”.

Saya baru sadar bahwa ini kan bukan masjid. Tidak ada tempat imam. Ini bangunan makam. Meski bentuknya, besarnya dan penataan karpetnya persis seperti masjid.

Saya pun kembali salat. Dengan arah yang benar. Lalu membaca Qur’an.
Usai ziarah, di halaman tengah komplek ini, saya bertemu dengan rombongan yang berdoa tadi.

Dialah yang memberitahu saya siapa yang dimakamkan di situ. “Beliau itu wali Allah,” katanya. Rombongan itu sendiri datang dari satu desa sekitar 30 menit dari situ. Ternyata dia juga seorang kyai. Yang di Cina disebut Ahong.

Kalau lagi tidak liburan musim panas, ada 200an santri yang mondok di komplek makam ini, katanya.

Masih adakah keturunan wali ini? Masih. Cucunya. Yang sekarang juga jadi tokoh agama. Dan tokoh politik. Tinggalnya di ibukota Provinsi Ningxia, Yinchun. Namanya kyai (Ahong) Hong Yang. Beliau tamatan Beijing University, Harvard-nya Cina. Kini juga menjabat wakil ketua DPRD Provinsi Ningxia.

Tiga hari saya keliling provinsi ini. Terutama ke gurun pasir Gobi. Untuk meninjau pembangkit listrik tenaga angin. Yang lagi dibangun besar-besaran di gurun pasir itu. Yang satu kincirnya sudah bisa menghasilkan 2 MW.

Dalam perjalanan dua jam berikutnya saya melintasi desa-desa pertanian Cina. Tapi perasaan saya seperti melintasi desa-desa di Lombok: begitu banyak masjidnya. Tiap desa pasti ada satu atau dua masjid besar. Terlihat dari menara-menara tingginya. Satu masjid umumnya memiliki tiga menara.
Akhirnya saya tiba di masjid besar kota Wuzhong. Masih ada waktu setengah jam untuk menemani istri dan teman-teman saya makan siang. Tapi saya memilih ke masjid lebih awal. Ada dzikir tertentu yang harus saya lakukan sebelum Jumatan itu.

Tepat jam 13.00 imam masjid tiba dan duduk di dekat mihrab. Tujuh orang lainnya, yang semua berpakaian persis imam, duduk berjajar di belakangnya. Saya mengembalikan tasbih dan duduk di barisan berikutnya. Masjid yang di lantai dua itu sudah mulai penuh.

Sang imam berbalik menghadap ke jamaah. Lalu bersama-sama melafalkan sholawat nabi. Dibaca dari buku tipis.

Ada dua podium di masjid itu. Yang satu di dekat tempat imam. Bentuknya mirip podium pidato. Satunya dihiasi ukiran.

Tepat jam 13.30 seorang pengurus tampil ke dekat imam. Membawa dua lidi hio. Seperti di kelenteng. Lidi hio itu dibakar ujungnya. Lalu ditancapkan di dupa.
Saat itulah sang imam berdiri menuju podium. Pidato. Ceramah agama. Dalam bahasa Mandarin. Tanpa assalamualaikum.

Lima belas menit kemudian, ada adzan. Lalu salat sunnah empat rakaat.
Sesaat kemudian salah satu dari tujuh orang tadi berdiri. Menuju podium berukir. Mengambil tongkat. Dan mulai mendendangkan kalimat-kalimat berbahasa Arab.
Semula saya pikir ini bilal sebelum khotib naik mimbar. Tapi dendangnya kok tidak selesai-selesai. Lima menit kemudian dia duduk sekedipan mata lalu mendendangkan lagi kalimat-kalimat berbahasa Arab dengan lagu mengalun-alun.

Dendang itu secara total sekitar 7 menit. Lalu ada qamah. Tanda salat segera dimulai.

Oh, dendang tadi ternyata khotbah. Dia Bukan bilal, tapi khotib.
Begitu singkat dan simple khotbah ini. Karena itu rupanya ada ceramah sebelumnya. Kalau mengandalkan isi khotbahnya saja pasti tidak banyak yang paham apa maksudnya.

Habis Jumat saya ngobrol dengan beberapa anak muda di serambi masjid. Ternyata mereka para ustadz madrasah. Dari provinsi lain: Yunnan.
Saya pun bertanya apakah di Yunnan khotbahnya juga dilagukan.
“Tidak,” katanya.

Saya tahu Islam di Cina hampir semuanya bermadzhab Hanafi. Dan hampir semuanya penganut tarekat. Satu prinsip yang mengutamakan hubungan batiniyah. Bukan hanya lahiriyah.

Tapi umumnya tarekat mereka terbelah dalam aliran-aliran sufi yang sangat banyak.

Wali tadi misalnya, mengajarkan filsafat sufi Khuffiyah. Dzikr Khuffiyah. Di seberangnya ada aliran Jahriyyah. Sedang anak muda dari Yunnan tadi mengaku menganut Qadiriyah.

Selama 35 tahun terakhir mengikuti perkembangan Cina saya melihat ini: kian banyak anak muda datang ke masjid. Ini sangat berbeda dengan 35 tahun lalu yang kalau ke masjid hanya melihat orang-orang yang renta. ***

Respon Anda?

komentar