Menyusuri Bungker Balai Kota Surabaya

623
Pesona Indonesia

BALAI  Kota Surabaya adalah bekas gedung Stadhuis te Soerabaia. Gedung tiga lantai itu berdiri pada 1923, saat masa kepemimpinan Wali Kota Ke-2 Surabaya G.J.

Dijkerman. Perancangnya adalah G.C. Citroen, arsitek kelas wahid pada zamannya.

Kabar-kabar pun berkembang. Termasuk tentang ruangan bawah tanah yang ditahbiskan sebagai bungker Kota Surabaya. Konon, kabarnya masih ada 257 ruang bawah tanah yang tersebar di Surabaya.

Setidaknya, itulah rangkuman informasi yang dibaca Jawa Pos pada pelat logam berwarna keemasan di belakang gedung balai kota. Bentuknya menyerupai spatula raksasa yang berdiri tegak. Berkilatan. Ada dua tulisan di kedua sisinya. Satu sisi berbahasa Indonesia. Baliknya bahasa Inggris.

Di belakang pelat emas itu, terdapat tangga turun. Terlihat pintu besi berwarna hijau tua. Jelas, itu adalah ruang bawah tanah ’’legendaris’’ tersebut. Bungker yang menjadi legenda kota.

Pintu itu tertutup rapat.

Ada gembok yang memperkuat. Benar-benar mengundang orang untuk masuk, membuktikan cerita di balik pintu hijau itu. Cerita tentang sebuah terowongan yang menjulur-julur di dalam tanah. Menuju tempat-tempat anyar di ujungnya.

Tapi, tidak ada seorang pun yang pernah masuk. Berdasar cerita dari sana-sini, terbayang bahwa kondisi terowongan akan sangat berbahaya. Tidak ada lampu penerangan. Oksigen juga minim. Bahkan, ada cerita pula bahwa terowongan tersebut mengandung gas beracun.

Karena itu, saya berencana meminjam tabung oksigen milik dinas pemadam kebakaran. Untuk masuk, harus ada izin. Saya beruntung ketika Kabaghumas Pemkot Surabaya M. Fikser mengizinkan.

Dia lalu berkoordinasi dengan Kabag Umum Wiwik Widiyanti. Sebab, kunci gembok bungker ada di bagian umum. ”Silakan. Beneran ingin masuk? Memang saya dengar terowongan itu menuju ke rumah dinas wali kota,” ujar lelaki asal Papua tersebut. Salah seorang staf bagian umum, Bram Bennito, ditugasi untuk mengantar saya masuk.

Klik. Halangan pertama terasa begitu mudah. Gembok gampang sekali terbuka. Justru pintunya yang sulit tersibak. Bram terlihat sulit menarik gagang pintu. Tak kurang akal, Bram menjejakkan kaki kanannya ke tembok. Kekuatannya pun bertambah. Pintu akhirnya tersingkap.

Petugas bagian umum Pemkot Surabaya Giyarno menaiki tangga bungker balai kota. Foto kanan, foto balai kota diambil dari udara. Diperkirakan hasil jepretan pada 1947.
Petugas bagian umum Pemkot Surabaya Giyarno menaiki tangga bungker balai kota. Foto kanan, foto balai kota diambil dari udara. Diperkirakan hasil jepretan pada 1947.

Terdengar suara decitan dari gerak engsel yang sudah puluhan tahun tidak pernah tersentuh minyak. Entah, berapa berat pintu itu. Yang terang, bahannya adalah besi utuh setebal dua sentimeter. Diketuk seperti jari, rasa dan bunyinya seperti mengetuk batu.

Di balik pintu tersebut, ada pintu lain. Tapi, sudah terbuka. Jadi, tidak perlu ada perjuangan lagi. Terlihat betul bahwa Citroen membangun bungker itu seaman-amannya.

Siang itu, Rabu (7/9) udara sedang panas. Dan, hawa terasa kian hot di dalam ruang bawah tanah. Pengap. Lima menit di dalam, kami berdua mandi keringat. Maklum, pintu bungker hanya dibuka saat ada kunjungan wisata. Jadi, selama beberapa pekan belakangan, bungker  tertutup rapat. Pengapnya udara membuat saya batuk-batuk. Suara batuk tersebut menggema di seluruh ruangan. Tak ada perabot apa pun di dalam bungker. Suara langsung memantul dari dinding bercat putih.

Di dalam bungker, ada dua pintu lagi. Di sisi barat dan timur. Benarkah pintu itu adalah terowongan yang menjulur ke rumah dinas wali kota dan Gereja Maranatha?

Untuk menuju pintu, kami harus menaiki tangga besi. Pendek saja. Hanya enam anak tangga. Di ujungnya, ada dua lapis pintu lagi. Ukurannya 1 x 1 meter. Pintu pertama terbuat dari besi, pintu kedua kayu.

Saat diketuk, terasa betul bahwa kayu sudah lapuk. Maklum, usianya sudah 93 tahun. Pintu kayu itulah yang konon menjadi gerbang menuju terowongan. Tidak ada yang berani masuk.

Yang mengecewakan, pintu yang juga dicat hijau tersebut ditutup terali besi. Mirip penjara. Ada banyak baut yang ditanam untuk menahan terali tersebut. Bram pun tidak berani membongkar pintu tersebut tanpa seizin atasan.

Saya lalu menghubungi Fikser. Tak disangka, dia mengizinkan kamimembukapintuberterali besi itu. Kali ini petugas bagian umum lainnya bergantian menemani saya. Dia adalah Giyarno. Lelaki 37 tahun tersebut tampak sudah tahu seluk-beluk ruang bawah tanah. Dialah yang bertugas membersihkan bungker itu lima tahun silam.

Kala itu, Tri Rismaharini baru saja dilantik sebagai wali kota. Dia meminta bungker yang sebelumnya menjadi gudang dibersihkan. Saat itu sudah berembus kabar bahwa bungker tersebut menyimpan misteri terowongan.

”Saya dulu ditugasi membuka pintu ini,” ujar Giyarno sambil jongkok karena langit- langit hanya berjarak semeter.

Karena sudah pernah dibuka, saya meminta Giyarno membuka pintu itu lagi. Dia menolak. Saya sempat meyakinkan dia bahwa Fikser memperbolehkan pintu untuk dibuka. Saya juga menceritakan bahwa ada terowongan bawah tanah yang terkoneksi dengan sejumlah gedung.

Tapi, Giyarno hanya meringis. Beberapa kali dipaksa untuk membuka, Giyarno merasa hal itu percuma. ”Ini bukan pintu terowongan. Ini keluarnya di bawah kanopi depan,” ujar pria yang hobi memancing tersebut.

Saya tak lantas memercayai perkataan Giyarno dan terus membujuknya agar pintu dibuka. Dia akhirnya mengajak saya keluar dari bungker. Ditunjukannya pintu serupa yang berada di kanan-kiri pintu masuk Balai Kota Surabaya.

Memang benar. Pintu itu berukuran sama dengan pintu yang ada di bungker. Tapi, pintu tersebut tidak bisa dibuka dari luar. Sebagian sudah tertutup semen karena lantai kanopi depan ditinggikan. Bila mau membuka pintu tersebut, tentu lantai harus dirusak. Tidak mungkin dilakukan tanpa seizin wali kota. Dan, Risma tentu tak bakal mengizinkannya begitu saja.

Pria yang mengenakan baju batik itu kemudian meminta saya untuk tetap berada di pintu berwarna abu-abu tersebut. Dia kembali menuju bungker dengan maksud mengetuk pintu itu. ”Coba buktikan. Kalau diketuk terdengar dari luar, berarti tidak ada terowongan,” ucap pria yang tinggal di Kecamatan Menganti, Gresik, itu.

Yang dia katakan benar. Dua menit menunggu, terdengar suara nyaring. Tiga kali dia mengetuk. Tiga kali pula saya membalas ketukan tersebut. Tanda bahwa saya sudah mendengarkan suara ketukan itu. Kesimpulannya, cerita orang-orang selama ini salah.

Lalu, mengapa hampir seluruh pegawai di pemkot masih memercayai cerita adanya terowongan di bungker tersebut. Giyarno yang tahu bahwa pintu itu bukanlah terowongan memang tidak banyak bercerita. Mencoba bercerita pun, bakal sulit dipercaya. Saya pun baru percaya setelah dia mengetuk pintu itu dari dalam.

Kabar adanya terowongan bawah tanah tersebut tak lepas dari beredarnya foto lawas. Freddy H. Istanto memiliki foto itu. Foto hitam putih tersebut diambil dari ketinggian. Sangat mungkin dari pesawat. Tertera pula tahun foto itu diambil. Yakni, 1947. ’’Siapa yang memotret dan asal foto itu juga masih belum terjawab,’’ ujar direktur Syarikat Poesaka Soerabaia itu.

Bermodal foto tersebut, pemkot pernah mencari jejak terowongan itu. Halaman kediaman wali kota digali. Giyarno menjadi salah seorang petugas yang turut menggali. Tapi, hanya ditemukan beberapa lempengan besi. Bungker dan terowongan yang berada di foto belum ditemukan.

Freddy menjelaskan, tidak aneh bila foto tersebut membikin penasaran. Masuk akal bahwa pejabat saat itu menginginkan tempat persembunyian yang aman dari serangan udara maupun darat.

Kemungkinan lain, foto yang menunjukkan bekas galian itu hanya menjadi sistem drainase. ’’Seperti box culvert (beton gorong- gorong) yang banyak dibangun sekarang. Soal kemungkinan masih adanya terowongan, saya belum tahu pasti,’’ ucap dekan Fakultas Industri Kreatif, Univer- sitas Ciputra, tersebut.

Pemerhati sejarah Nanang Purwono berpandangan berbeda. Dia meyakini, kecil kemungkinannya ada terowongan rahasia di Surabaya. Dia pun lebih sreg menyebut bungker balai kota itu basement atau ruang bawah tanah.

Sejumlah gedung buatan Belanda juga memiliki basement serupa. Salah satunya, gedung PT Perkebunan Nusantara (PTPN) di Jalan Merak yang kini dipakai sebagai ruangan arsip.

”Secara konstruksi, ruangan bawah tanah itu dipakai untuk isolasi. Untuk membuat ruangan di atasnya lebih sejuk. Sekaligus tempat menyimpan harta,” ujar penulis buku Benteng-Benteng Soerabaia tersebut.

Dari penelusuran kecil itu, terjawab sudah mitos dua pintu terowongan di bungker. Namun, bila pemkot masih ingin menelusuri jejak terowongan berdasar peta, tidak ada salahnya. Kemungkinan selalu ada. (SALMAN MUHIDDIN, Surabaya ) 

Respon Anda?

komentar