Pelaku Jambret Bawah Umur Ini Diserahkan Orang Tuanya ke Polisi

599
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Unit Reskrim Polsek Kota Balai Karimun berhasil mengungkap kasus jambret yang terjadi pada Selasa (6/9) malam di Jalan Teluk Air, Kecamatan Karimun. Dari pengungkapan ini polisi mengamankan dua orang pelaku yang masih di bawah umur.

”Dua orang pelaku jambret yang berhasil ditangkap adalah Sh dan Sf, masing-masing masih berusia 17 tahun. Penangkapan dilakukan secara terpisah. tersangka pertama yang berhasil ditangkap adalah Sh di Telaga Mas, Kecamatan Karimun, pada Kamis (8/9) dini hari pukul 02.00 WIB. kemudian, sore harinya, pukul 18.00 WIB, Sf menyerahkan diri setelah diserahkan oleh orang tuanya,” ujar Kapolsek Kota Balai Karimun, Kompol Wisnu Edhi Sadono kepada koran Batam Pos, Sabtu (9/9).

Kronologis terjadinya pencurian dengan kekerasan atau jambret, kata Wisnu, ketika korban, Nina Sandika yang membawa sepeda motor baru pulang kerja dan tepatnya di depan Kantor Pelindo, Teluk Air, didatangi oleh dua orang yang tidak dikenal menggunakan sepeda motor. Keduanya adalah Sh yang membawa sepeda motor dan Sf yang bertugas menjambret tas. Pada saat itu, tas milik korban diletakkan di bahu.

”Sempat terjadi tarik menarik antara pelaku dengan korban yang berusaha mempertahankan barang miliknya. Namun, akhirnya tali tas korban putus dan pelaku berhasil membawa kabur tas korban. Korban tidak tinggal diam. Melainkan, berusaha mengejar pelaku dan juga sambil berteriak. Teriakan korban didengar oleh warga, sehingga membantu mengejar pelaku jambret,” paparnya.

Kejar-kejaran terjadi sampai di Rutan Tanjungbalai Karimun. Di lokasi ini pelaku terjatuh dan untuk menghindari ditangkap massa, pelaku melarikan diri. Namun, sepeda motor milik pelaku dan tas milik korban tidak dibawa. Selain itu, terdapat satu unit ponsel milik pelaku. Dari sini dilakukan pengembangan dan akhirnya diketahui siapa pelaku jambret tersebut.

”Proses hukum saat ini, kita belum melakukan pengembangan terhadap kedua pelaku apakah pernah melakukan hal yang sama atau tindak pidana lainnya. Melainkan, kita fokus untuk melakukan diversi atau tidak melalui persidangan di pengadilan. Antara korban dengan kedua pelaku. Hal ini dilakukan mengingat usia pelaku masih anak-anak. Biasanya, anak-anak di bawah umur yang terlibat tindak kriminal akan menjalani pembinaan oleh petugas diversi,” jelasnya. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar