Industri Properti di Batam Bergerak Naik

501
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri mencatat, tingkat kredit konsumsi di Batam tahun 2016 ini naik 11,91 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Jumlah kredit dari bank umum di Batam mencapai Rp 8,9 triliun dan berkontribusi sebesar 69 persen dari tingkat kredit konsumsi di Kepri sebesar Rp 13 triliun,” ungkap Kepala Bank BI Kantor Perwakilan Kepri, Gusti Raizal Eka Putera, Senin (12/9).

Menurut Gusti, tingkat kredit konsumsi tersebut terbilang sangat tinggi. Sebagai pembanding, Kota Tanjungpinang saja hanya mencatat angka Rp 3,2 triliun untuk jumlah kredit konsumsi dan hanya berkontribusi 25 persen untuk se-Kepri.

Gusti menambahkan, kredit konsumtif di Batam didominasi sektor Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Terdiri dari kredit pembelian rumah tinggal, apartemen, dan ruko.

“Jumlahnya mencapai Rp 5,7 triliun. Meningkat 10,87 persen dari Juli 2015,” jelasnya.

Sedangkan untuk kredit kendaraan bermotor (KKB) sedikit menurun dibanding tahun lalu. Hingga Juli 2016, jumlah kredit yang sudah digunakan masyarakat untuk membeli kendaraan bermotor mencapai Rp 329,4 miliar. Terjadi penurunan sebesar 0,15 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan terbesar terjadi pada tingkat pertumbuhan kredit elektronik dan furniture. Pada Juli 2016 ini, hanya ada transaksi secara kredit sebesar Rp 15, 64 miliar.

“Turun sekitar 42,40 persen dibanding tahun lalu,” ujar Gusti.

Kemudian, sektor terakhir yakni keperluan lainnya naik 16, 25 persen. BI mencatat Juli 2016, ada transaksi sebesar Rp 2,91 triliun untuk keperluan lainnya.

“Keperluan lainnya itu barang-barang di luar dari properti, kendaraan, dan elektronik. Jumlahnya cukup meningkat,” imbuh Gusti.

Gusti kemudian menjelaskan, tingginya tingkat kredit KPR disebabkan karena tingkat kebutuhan akan rumah di Batam masih sangat tinggi. Walaupun harga rumah di Batam terus melambung, masyarakat Batam tetap berbondong-bondong untuk membelinya. Sebab rumah merupakan kebutuhan primer.

“Apalagi setelah BI mengeluarkan kebijakan penurunan Loan To Value (LTV) dari 20 persen menjadi 15 persen pada April. Sektor properti menjadi sangat bergairah,” ucapnya.

Terkait dengan penurunan tingkat kredit elektronik dan furniture, Gusti menjelaskan pada Juli kemarin masyarakat cenderung menghabiskan uangnya untuk membeli barang habis pakai daripada membeli televisi, meja atau kulkas baru.

“Kemarin lebaran dan masyarakat dapat tunjangan hari raya (THR). Namun dihabiskan untuk keperluan lebaran. Hal itu bisa dilihat dari indikasi menurunnya tingkat tabungan masyarakat di bank,” katanya.

Selain itu, masyarakat Batam juga cenderung untuk membeli barang elektronik dan furniture secara tunai sehingga tingkat kreditnya menurun.

Tingginya tingkat kredit konsumsi masyarakat Batam, khususnya KPR, juga disebabkan oleh semakin beragamnya promosi-promosi menarik yang ditawarkan oleh pengembang perumahan di Batam.

“Contohnya ada pengembang yang memberikan kesempatan untuk mencicil uang muka beberapa kali sebelum melakukan akad KPR,” jelasnya seperti dilansir koran Batam Pos.

Bukan hanya itu, ada juga pengembang yang memberikan hadiah menarik ketika si pembeli melunasi uang mukanya saja. Hal tersebut sangat memudahkan si pembeli dalam memiliki rumah idamannya. (leo)

Respon Anda?

komentar