Makin Mandiri, Perempuan Tiongkok Enggan Menikah Cepat, Pilih Bekukan Sel Telur

691
Pesona Indonesia
Puluhan orang tua menempelkan identitas anaknya di payung dengan harapan ada orang tua lain yang tertarik dan menjodohkan anaknya yang sudah berumur namun memilih tak menikah. Foto; Thestar.my
Puluhan orang tua menempelkan identitas anaknya di payung dengan harapan ada orang tua lain yang tertarik dan menjodohkan anaknya yang sudah berumur namun memilih tak menikah. Foto; Thestar.my

batampos.co.id – Ekonomi Tiongkok yang terus membaik tak hanya melahirkan banyak orang kaya baru, tapi juga membuat berbagai kalangan menjadi lebih sejahtera, termasuk kaum hawa.

Kaum hawa ini pun makin mandiri dalam hal finansial sehingga banyak enggan menikah cepat-cepat. Mereka lebih memilih menikmati hidup.

Soal keturunan, mereka tak khawatir. Belakangan, muncul tren membekukan sel telur. Jika mereka menikah di usia tak produktif, itu bukan masalah. Tinggal ambil sel telur, sperma, dan lakukan fertilisasi in vitro alias pembuahan di luar rahim.

’’Saya tahu pada satu titik saya mungkin ingin punya anak, tapi jelas bukan sekarang,’’ ujar Lu Yi yang membekukan sel telurnya di California, Amerika Serikat (AS), tahun lalu.

Perempuan 35 tahun itu belum menikah hingga saat ini. Tren membekukan sel telur tersebut dimulai tahun lalu setelah artis Xu Jinglei mengunggah pengakuan di Weibo bahwa dirinya telah membekukan sel telur di AS pada 2013.

Namun, kepercayaan diri para perempuan lajang itu tak sejalan dengan sikap orang tua. Banyak yang panik ketika anaknya tak kunjung menemukan jodoh.

’’Pasar jodoh’’ pun kian ramai dan bertebaran di berbagai kota di Tiongkok. Mayoritas di kota-kota besar seperti Beijing, Nanjing, Chengdu, Xi’an, dan Fuzhou. Meski namanya pasar, letaknya berada di taman.

Orang tua yang mencarikan jodoh untuk anak-anaknya datang dengan membawa biodata mereka. Jika yang mencari jodoh pria, data-data yang ditulis orang tuanya mulai pekerjaan si anak, penghasilan, hingga punya rumah atau tidak.

Jika perempuan, biasanya ditulis jenjang pendidikan dan pria yang diinginkan seperti apa. Biodata itu lantas ditempel di payung.

Mereka yang dicarikan jodoh tersebut sudah berusia di atas 30 tahun. Selain itu, syarat-syarat menantu yang mereka inginkan tercantum dengan jelas. Foto anak-anak yang dicarikan jodoh itu hanya ditunjukkan kepada orang yang tertarik, tidak dipajang.

’’Tidak perlu dikatakan, pria harus punya apartemen sendiri. Entah itu beli dengan usaha sendiri atau dengan bantuan orang tuanya,’’ ujar salah satu orang tua yang mencarikan jodoh untuk anaknya di Shanghai tentang syarat menyunting putrinya.

Dia menceritakan bahwa putrinya sudah berusia 33 tahun dan sudah bekerja. Penghasilannya lebih dari 20 ribu yuan (Rp 39,5 juta) per bulan. Jumlah tersebut tiga kali lipat dibandingkan rata-rata penghasilan di Shanghai. Putrinya menikmati hidup sendiri dan tidak mau membagi penghasilannya dengan pria yang berpenghasilan lebih rendah. (Star2/The New York Times/sha/c17/any/JPG)

Respon Anda?

komentar