Sampah di Laut Musuh Utama Jelang Penyelenggaraan Festival Bahari Kepri

252
Pesona Indonesia
Seorang warga membersihkan sampah laut di Plantar 3 Tanjungpinang, Selasa (15/3). Foto:Yusnadi/Batam Pos
Seorang warga membersihkan sampah laut di Plantar 3 Tanjungpinang, Selasa (15/3). Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Tidak mudah untuk menancapkan Provinsi Kepri sebagai Gerbang Pariwisata Bahari Indonesia. Kabupaten/Kota perlu bekerja lebih keras dalam menghias diri. Tanjungpinang khususnya, sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri masih perlu berbenah diri. Karena persoalan sampah laut masih menjadi musuh utama dalam menyongsong Festival Bahari Kepri (FBK).

Pantauan dilapangan, sejumlah lokasi di Tanjungpinang yang masih menjadi langganan penumpukan sampah dilaut terlihat di Pelantar I, Pelantar II, dan Pelantar KUD Tanjungpinang. Masih pantauan dilapangan, kapal-kapal kayu yang berlabuh di kawasan Pelabuhan Laut Jaya, Tanjungpinang juga tidak terlihat ada tong sampah. Begitu juga pompong-pompong penambang ke Senggarang juga tidak dilengkapi dengan tong sampah. Selain warga yang tinggal di pelantar penyebab banyaknya sampah dilaut, juga disebabkan oleh kapal-kapal yang berlabuh.

“Persoalan sampah memang masih menjadi persoalan yang masih menghantui. Apalagi waktu kita untuk menggelar FBK semakin sempit. Mimpi besar kita adalah menancapkan Kepri sebagai Gerbang Pariwisata Bahari Indonesia. Festival Bahari Kepri hanya laluan untuk memperkenalkan Kepri,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti, kemarin

Menurut Guntur, Tanjungpinang sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri, masih perlu berbenah diri. Apalagi laut adalah beranda utama yang harus diperbaiki. Mengingat sampah laut menumpuk disana sini, sehingga merusak wajah ibu kota dipandangan mata. Disebutkan Guntur, hajatan FBK sejatinya akan dimulai 20 Oktober mendatang. Ditandai dengan Eco Heroes atau aksi bersih-bersih lingkungan

Pria yang bernah menimba pengalaman di Pemko Batam tersebut mengharapkan, masyarakat di Kepri, Tanjungpinang khususnya untuk menjaga kebersihan lingkungan, dengan cara tidak membuang sampah ke laut. Dijelaskannya, tindakan tersebut termasuk tindakan sadar lingkungan. Keinginan mulia tersebut bisa terwujud, apabila ada kesadaran bersama.

Disebutkan Guntur, rencana Eco Heroes atau bersih-bersih pantai dan lingkungan di kawasan Tepi Laut, Pelantar I Tanjungpinang dan Pulau Penyengat. Lebih lanjut katanya, tekad ini bukan hanya untuk FBK saja, akan tetapi untuk pembangunan pariwisata Kepri menjadi lebih baik lagi.
Saat ini, Kepri tengah berjuang untuk menjadikan Penyengat sebagai warisan budaya dunia. Tidak mudah untuk mewujudkan itu. Tentu membutuhkan kerjasama.

“Penyengat adalah wajahnya pariwisata Tanjungpinang, tentu harus kita jaga. Kebersihan lingkungan dan kebersihan lautnya. Untuk mewujudkan ini, butuh kepedulian kita bersama,” papar Guntur.

Ditambahkannya, pada FBK nanti, pihaknya tengah berupaya mendatang kapal-kapal yacht ke Kepri, Tanjungpinang khususnya. Meskipun terlihat sepele, sampah juga menjadi ancaman besar, karena bisa menyebabkan kerusakan kapal-kapal yacht. Langkah ini juga, bukan hanya untuk FBK saja, tetapi untuk Kepri kedepannya.

“Melihat lingkungan laut kita bersih, kemudian mendapat perhatian dari dunia luar. Tentu menjadi sesuatu yang istimewa bagi Kepri. Apabila kebersihan laut kita terjaga dan terpelihara, bukan tidak mungki pariwisata bahari menjadi kekuatan baru bagi pembangunan daerah,” tutup Guntur. (jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar