Usai Wukuf, Jamaah Indonesia Banyak Tersesat

318
Pesona Indonesia
Para jamaah menjejali Jabal Nur di Padang Arafah saat menjalani wukuf.  Foto: NARIMAN EL-MOFTY/AP PHOTO
Para jamaah menjejali Jabal Nur di Padang Arafah saat menjalani wukuf. Foto: NARIMAN EL-MOFTY/AP PHOTO

batampos.co.id – Hari pertama usai pelaksanaan wukuf ibadah haji, kemarin, kepadatan memenuhi jalan-jalan yang menghubungkan kawasan Mina dengan Jamarot (tempat melempar jumrah) di Makkah, Arab Saudi. Tak ada sarana transportasi yang bisa mengakses kawasan tersebut. Jamaah Indonesia pun banyak tersesat setelah melempar jumroh dan hendak kembali ke maktab masing-masing.

Contohnya yang dialami Mussaji Sahiman Atmo. Jamaah berusia 71 tahun itu kemarin tampak kebingungan setelah keluar dari terowongan King Fahd. Dia mengaku tersesat saat hendak kembali ke maktab di Mina, dan akhirnya terdampar di Kantor Urusan Haji Indonesia (KUH) Daerah Kerja Makkah.

”Semalam saya dari Muzdalifah untuk mabit (menginap) ambil batu. Setelah istirahat sebentar, saya ke Jamarot untuk lempar jumrah. Sekarang bingung,” ujar jamaah ibadah haji khusus asal Kabupaten Penajam Pasir Utara, Kaltim, itu.

KUH Indonesia Daker Makkah yang memang berdekatan dengan mulut terowongan King Fahd. Kemarin, jalan besar di depan KUH ibarat terminal bus. Sebab, di depan terowongan yang berhubungan langsung dengan kawasan Jamarot itulah batas akhir bagi kendaraan yang mengantar jamaah.

”Bapak-bapak dan ibu-ibu, tolong bersabar di sini. Istirahat dulu dan banyak berzikir. Nanti akan dipandu petugas untuk kembali ke maktab masing-masing,” ujar Kasubdit Bina Petugas Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Khoirizi.

Sejatinya PPIH sudah menetapkan waktu larangan melempar jumrah untuk jamaah Indonesia sesuai dengan ketentuan dari pemerintah Arab Saudi. Untuk 12 September kemarin, larangan waktunya adalah pukul 06.00 sampai pukul 10.30. Hari ini (13/9), jamaah dilarang melempar jumrah pada pukul 14.00 hingga pukul 18.00. Sementara untuk besok (14/9), waktu yang dilarang adalah pada pukul 10.30 sampai pukul 14.00.

Jam larangan itu sebenarnya merupakan waktu yang diyakini paling afdal untuk melempar jumrah. Setiap tahun, jamaah dari berbagai negara berebut menuju jamarot pada jam tersebut. Dengan pertimbangan keselamatan, jamaah dari Indonesia yang rata-rata lanjut usia dan risiko tinggi diminta memilih waktu paling aman.

Larangan waktu itu sudah disosialisasikan kepada seluruh petugas kloter.  Termasuk kemarin, jamaah juga disarankan melempar jumrah setelah waktu larangan. Sebab, jamaah dari berbagai negara sudah berangkat ke Jamarat sejak dini hari.

Namun banyak jamaah yang memaksa memilih waktu pagi sebelum jam larangan. Akibatnya mereka bertemu dengan kepadatan jamaah dari negara lain, dan tersesat saat hendak kembali ke maktab masing-masing di Mina.

Kondisi itu juga dialami Muharis Muhrim Dukarim. Jamaah yang juga berusia 71 tahun itu mengaku berangkat dari Muzdalifah ke Mina pada pukul 02.00. Setelah melempar jumrah, dia berusaha menuju Masjidil Haram untuk melakukan thawaf Ifadah. Namun dia terpisah dari rombongan dan akhirnya diarahkan ke kantor KUH. ”Kalau berangkatnya gampang. Pulangnya saya terpisah dan bingung,” papar jamaah yang tergabung dengan kloter 2 embarkasi Lombok itu.

Kondisi lebih parah terjadi pada jamaah bernama Surateman. Sekitar pukul 10.00, jamah asal Kediri itu terbaring di bawah fly over yang jaraknya sekitar 500 meter dari terowongan King Fahd.  ”Saya tidak kuat lagi jalan kaki. Naik ojek kursi roda malah diturunkan di sini,” ujar  pria kelahiran 1950 itu.

Surateman mengaku sudah habis 400 riyal (Rp 1.400.000) untuk membayar ojek kursi roda yang akan mengantarnya kembali ke Maktab. Lantaran lupa nomor maktabnya di Mina, pendorong kursi roda itu menurunkannya di kerumunan jamaah dari berbagai negara yang sedang beristirahat di bawah fly over.
Surateman akhirnya diantar seorang mukimin menuju kantor KUH.

Hingga kemarin siang Waktu Arab Saudi, jamaah yang ”terdampar” di KUH Daker Makkah sekitar 25 orang. Mereka beristirahat di karpet-karpet yang sengaja digelar petugas untuk jamaah beristirahat. Kepada para jamaah yang rata-rata sudah berusia lanjut itu, Khoirizi meminta agar tidak memaksakan diri melempar jumrah sendiri. Apalagi jika berangkatnya sudah terlalu mepet dengan jam larangan.

”Kalau tidak mampu, lebih baik diwakilkan. Ini demi keselamatan bapak-bapak dan ibu-ibu,” ujarnya.  (fat/jpgrup)

Respon Anda?

komentar