Belasan Gedung Sekolah Terkena Banjir, Murid Diliburkan

240
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Palembang, Sumatera Selatan yang diguyur hujan deras pada hari raya iduladha, Selasa (12/9), menyebabkan jalan, permukiman hingga pertokoan digenangi air.

Bahkan banjir hari itu masih menyisakan di beberapa titik, sampai Selasa (13/9). Belasan sekolah masih tergenang air, sehingga muridnya terpaksa diliburkan.

Kondisi ini masih bisa terulang, mengingat hujan deras maupun ringan diprediksi masih akan terjadi hingga empat hari ke depan.

“Itu hasil prediksi kami,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten BMKG Kelas I Kenten Palembang, Indra Purnama, seperti diberitakan Sumatera Ekspress (Jawa Pos Group) hari ini (14/9).

Dia menyebut bulan September ini, sudah mulai masuk ke musim penghujan. Baru-baru ini curah hujan meningkat drastis akibat cuaca ekstrim. “Curah hujan mencapai 172 mm/hari dari biasanya hanya 20 mm per hari. Cuaca ekstrim juga disebabkan panasnya suhu muka laut di pantai Barat Sumatera,” ujarnya.

Lanjut Indra, panasnya suhu muka laut tersebut menyebabkan banyaknya uap air yang diperparah dengan tekanan rendah di bumi bagian utara atau sekitar Filipina. “Dengan gerakan angin yang cundong ke wilayah Palembang, sehingga menyebabkan hujan deras,” paparnya.

Geografis Kota Palembang memang berada di wilayah di dataran rendah dengan banyaknya rawa-rawa. Sebagian diantaranya juga telah ditimbun menjadi perumahan. “Saat curah hujan tinggi, memang diperlukan adanya tampungan air yang cukup,” tandasnya.

Pantauan Sumatera Ekspres, banjir masih mengenangi kawasan pemukiman di Jalan R Sukamto, Lr Kelinci. “Banjir mulai masuk rumah kami sejak pukul 21.00 WIB malam tadi. “Sampai-sampai tidak bisa tidur kami dibuatnya,” kata Hidayah, warga setempat.

Sampai pagi kemarin, banjir pun masih menggenangi sebagian dapur rumahnyanya. “Kami hanya berharap supaya tidak banjir lagi,” imbuhnya. apalagi, banyaknya perumahan baru dibangun yang menimbun tanah disekitar membuat banjir semakin dalam.

Tak jauh dari permukiman rumahnya, di SDN 185 juga terlihat digenangi air di seluruh sudut ruangan. Ada sekitar 11 ruangan disana dan semuanya digenangi oleh air yang tak kunjung surut. “Kami terpaksa meliburkan siswa,” aku Sayati SPd, Kepala SDN 185 Palembang.

Dirinya mengaku, hujan yang mengguyur kota Palembang cukup deras dan lama, sehingga banjir yang mengenangi ruang kelaspun ketinggiannya bahkan mencapai 1 meter. Kursi dan meja belajar pun juga ikut-ikutan terendam. “Kita masih bersyukur tidak ada bangunan yang roboh,” lanjutnya.

Lebih lanjut dikatakan Sayati, sekolahnya itu memang sering menjadi langganan banjir sejak puluhan tahun lalu. Tak dapat berbuat banyak, karena kontur tanah disana memang dulunya merupakan rawa yang rentan sekali disinggahi banjir.

Melihat kondisi beberapa SD banjir, pihak Disdikpora Palembang bidang TK/SD langsung melakukan pantauan dilapangan diketahui ada empat kecamatan yang mengalami kebanjiran dengan jumlah sekitar 17 sekolah. Di antaranya, kecamatan Kemuning SDN 177, SDN 178, SDN 185 dan SDN 188. Kecamatan Ilir Timur II SDN 50, SDN 51, SDN 65, SDN 66 dan SDN 67. Kemudian Kecamatan Sematang Borang ada SDN 12, Kecamatan Kalidoni ada SDN 201, SDN 202, SDN 207.

“Usai mendapat laporan melalui pesan singkat sms dan telpon, kita langsung mengecek kelapangan, untuk yang dipantau secara langsung ada tiga kecamatan yakni, SDN 177, SDN 178 kecamatan kemuning, SDN 125 sematang borang , SDN 50 kecamatan IT-II,”ujar kabid TK/SD Disdikpora Sutriana SPd Msi, melalui kasi kurikulum TK/SD Drs A Haris Basid Msi, kemarin (13/9).

Lanjutnya, ssetelah di cek dan melihat kondisi lapangan, pihaknya memintak pihak sekolah untuk membuat kebijakan falkutatif dengan memulangkan siswa namun, tetap diberi tugas di rumah.

“Dengan begitu anak-anak tidak akan ketinggalan pelajaran sesuai dengan kurikulum yang ada, terutama bagi kelas tinggi,”urainya.

Walikota Palembang, H Harnojoyo, mengatakan selain hujan deras yang mengguyur kota Palembang, banjir yang terjadi juga disebabkan volume sungai Musi yang mulai meluap. “Sungai Musi meluap, ketinggiannya hingga 2-3 meter diatas permukaan laut,” akunya.

Dirinya menyebut meluapnya permukaan air ini membuat aliran anak sungai musi tidak lancar dan sulit untuk dialirkan. Bahkan, Harno tak menapik banyak mendengar keluhan masyarakat yang tadinya tidak pernah disinggahi banjir sekarang justru mengalami banjir. “Kami juga sudah turun kemarin malam hingga pukul 02.00 WIB dini hari,” akunya.

Harno pun menyayangkan masih banyaknya drainase dan kolam retensi yang berisi sampah sehingga menyumbat resapan air. “Makanya kita terus tingkatkan upaya gotong royong,” ajaknya.

Dalam kesempatan itu pula, ayah tiga orang anak ini mengaku juga langsung memerintahkan PU Bina Marga untuk segera melakukan normalisasi sungai dan normalisasi drainase. “Terpenting, masyarakat jangan buang sampah sembarangan,” tegasnya. (jpg)

Respon Anda?

komentar