Melihat Peternakan Ikan Napoleon di Sedanau, Natuna: 1 Kilogram Dihargai Rp 1 Juta

3798
Pesona Indonesia
Turis melihat penangkaran ikan Napoleon di Natuna. Foto: Immanuel sebahyang/batampos
Turis melihat penangkaran ikan Napoleon di Sedanau, Natuna. Foto: Immanuel sebahyang/batampos

batampos.co.id – Ternyata tak sulit mencari ikan napoleon. Buktinya, di laut Pulau Sedanau, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, ikan istimewa itu dibudidayakan.

Ya, perjalanan menuju Pulau Sedanau dari Kota Ranai, ibu kota Natuna, memerlukan waktu 1 jam 15 menit. Empat puluh lima menit dari Bandara Ranai menuju Pelabuhan Binjai via mobil, dilanjutkan menyeberang ke Pulau Sedanau dengan feri selama 30 menit.

Meski berjuluk ibu kota, Ranai termasuk kota sepi. Penduduknya tak lebih dari 17 ribu jiwa. Di jalan-jalan tak banyak ditemui lalu-lalang kendaraan. Beberapa kali mobil sewaan yang saya tumpangi melewati perbukitan dan keluar masuk hutan. Jarang sekali ada perkampungan penduduk.

Sesampai di Pelabuhan Binjai, saya langsung ke loket pembelian tiket feri. Memang, Pelabuhan Binjai bukan pelabuhan besar. Hanya kapal-kapal seukuran 15 meteran yang bisa ditampung. Itu pun tidak banyak. Pelabuhan tersebut diapit hutan bakau di kanan-kirinya.

Hanya ada satu kali penyeberangan ke Pulau Sedanau dalam sehari, setiap pukul 15.00. Begitu pula sebaliknya, dari Sedanau ke Binjai, setiap pukul 07.30. Maka, kalau calon penumpang terlambat tiba di pelabuhan, konsekuensinya harus menunggu esok untuk menyeberang.

Feri yang saya tumpangi menuju Pulau Sedanau berisi 33 kursi. Semua terisi. Bahkan, ada sejumlah penumpang yang harus berdiri selama perjalanan karena kehabisan tempat duduk. Suasana seperti itu, tampaknya, sudah biasa. Mereka lebih baik berdiri daripada harus menunggu esok hari. Yang penting, mereka bisa terangkut ke tujuan.

Kapal berjalan dengan kecepatan sekitar 20 knot laut. Lumayan kencang. Sesekali air memercik ke jendela saat haluan kapal membelah ombak. Sementara itu, para penumpang dihibur alunan suara merdu Ari Lasso yang membawakan lagu-lagu lawas milik mantan grupnya, Dewa 19.

Tak terasa, sekitar 30 menit kemudian, feri tiba di Pelabuhan Sedanau. Pelabuhan itu ternyata lebih besar daripada Pelabuhan Binjai. Banyak kapal berukuran besar yang sandar. Terlihat pula perahu-perahu pompong, perahu nelayan khas Natuna, yang berseliweran.

Meski begitu, Pulau Sedanau lebih sepi jika dibandingkan dengan Kota Ranai. Penduduknya tak lebih dari 450 kepala keluarga. Disebut Pulau Sedanau karena posisinya dikitari gunung-gunung di Pulau Tiga dan pulau-pulau kecil lainnya.

Sedanau terkesan seperti kota apung. Banyak rumah yang berada di bibir pantai. Bangunannya berupa rumah panggung. Ada yang berdinding kayu, ada pula yang berdinding batako. Air laut berwarna hijau kebiruan berada di bawah rumah-rumah itu. Ikan-ikan kecil terlihat berenang dalam gerombolan, menandakan ekosistem di daerah tersebut masih bagus.

Setiba di Sedanau, saya langsung menuju ke penginapan. Di pulau kecil itu, terdapat banyak penginapan. Maklum, sebelum ada larangan ekspor ikan napoleon, pulau tersebut ramai disinggahi kapal asing. Kapal-kapal dari Hongkong dan Cina rutin datang untuk membeli ikan yang dibesarkan nelayan setempat.

Selain penginapan, di pulau itu terdapat persewaan sepeda motor. Jadi, untuk mengelilingi pulau, cukup dengan sewa motor. Jangan lupa untuk memenuhi BBM-nya. Sebab, tak banyak warung yang menjual bensin eceran.

Saat saya keliling Sedanau, tampak di sisi timur pulau rumah-rumah tunggu keramba milik warga. Kebanyakan warga Sedanau berprofesi nelayan. Rumah-rumah tunggu tersebut berada agak menjorok ke laut dengan kedalaman minimal 5 meter. Keramba-keramba milik warga itulah tempat pembesaran ikan napoleon.

Kawasan laut Pulau Sedanau memang menjadi habitat bagi ikan-ikan mahal itu. Di Pulau Sedanau nelayan tidak harus menunggu musim untuk mencari bibit-bibit ikan napoleon. Setiap saat mereka bisa menjaring, sebelum kemudian dibesarkan di keramba-keramba milik warga.

Ikan napoleon hingga saat ini termasuk komoditas laut yang banyak dicari tengkulak ikan dari Cina. Bagi warga Cina, ikan itu menjadi hidangan istimewa yang disajikan untuk menjamu pejabat atau orang-orang penting lainnya. Tak heran bila harganya melambung. Ikan tersebut bisa tumbuh hingga panjangnya mencapai 2 meter. Namun, yang banyak dicari para tengkulak justru yang ukurannya kecil-kecil, sebesar ikan gurami.

Menurut Mukh Rizal, salah seorang pemilik keramba, ikan yang banyak dicari seukuran berat 1 kilogram. Konon, pada ikan napoleon seukuran itu, dagingnya sangat lezat. Gizinya juga tinggi. Orang Cina sangat suka.

’’Makanya, ikan napoleon seberat 1 kilo saja harganya di sini mencapai Rp 1 juta,’’ ujar Rizal.

Kenapa ikan yang bentuk kepalanya menyerupai topi pahlawan Prancis Napoleon Bonaparte tersebut sangat mahal? Selain kandungan gizi dan kelezatannya, bagi orang Cina, memakan ikan itu dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan (hoki). Terlebih, bagi mereka, tidak mudah menemukan ikan napoleon di negara mereka. Untuk mendapatkan ikan istimewa tersebut, para tengkulak mesti berlayar beribu-ribu kilometer menuju perairan Cina Selatan yang berbatasan dengan Indonesia.

Apalagi, diperlukan proses panjang untuk mendapatkan ukuran ikan yang ideal untuk dikonsumsi. ’’Untuk proses pembesaran dari bibit hingga ukuran sekitar 1 kilogram saja, diperlukan waktu sekitar empat tahun. Jadi, wajar kalau harganya jadi mahal. Saya tidak tahu, di Cina dijual berapa,’’ jelas Rizal yang juga dikenal sebagai lurah di Pulau Sedanau.

Rizal sudah lama menjadi peternak ikan napoleon. Karena itu, dia tahu betul manis pahitnya beternak ikan tersebut. Termasuk ketika pemerintah pada 2015 mengeluarkan kebijakan larangan penjualan ikan napoleon secara bebas seperti selama ini kepada para tengkulak ikan dari Cina. Pemerintah beralasan melindungi keberadaan ikan napoleon yang makin sedikit di perairan Indonesia.

’’Sejak ada larangan penjualan ikan secara bebas itu, kami mulai susah menjual napoleon,’’ ungkap Rizal. ’’Padahal, ikan itu andalan kami. Harganya mahal,’’ tambahnya.

Dulu, saat larangan itu belum keluar, Rizal bisa mendapatkan keuntungan lumayan. Satu keramba ikan berukuran 4 x 6 meter miliknya bisa menghasilkan puluhan juta rupiah sekali panen. Pasalnya, keramba seluas itu bisa menampung sekitar 50 ekor ikan napoleon.

Dia mengakui, bila ikan-ikan di Pulau Sedanau tidak bisa dijual bebas lagi, nelayan akan mengalami kerugian besar. Apalagi, saat ini ada ribuan ikan napoleon yang siap dipanen. Bila ikan-ikan tersebut tak segera dipanen dan kemudian terus membesar, bisa jadi para pemilik keramba tidak bisa menjualnya lagi. Sebab, ikan napoleon yang telanjur besar, seukuran lebih dari 1 meter, tidak diminati para tengkulak asal Cina. Sebab, rasa daging ikannya sudah berubah. Tidak enak lagi.

’’Kalau kebijakan itu tetap diterapkan, jelas kami akan merugi banyak,’’ katanya.

Meski begitu, masih ada tengkulak ikan napoleon dari Cina yang mampir ke Pulau Sedanau untuk membeli ikan napoleon. Hanya, kuantitas pembeliannya sudah sangat jarang. Bila selama ini kapal-kapal Cina bisa datang sebulan sekali, dalam setahun terakhir, baru tiga kali ada kapal negara itu yang berlabuh di Sedanau.

’’Kata pemerintah, yang ditakutkan itu, ikan napoleon punah,’’ ujar Rizal.

Namun, menurut dia, kekhawatiran tersebut berlebihan. Sebab, di Pulau Sedanau banyak ikan napoleon yang hidup di laut lepas. Nelayan bisa mencarinya dengan bebas. ’’Kami menangkap ikan itu dengan jaring, bukan dengan racun atau bom,’’ ungkapnya.

Rizal menandaskan, dengan adanya larangan penjualan ikan napoleon secara bebas, warga Pulau Sedanau merugi. ’’Setidaknya, ikan yang sudah siap panen ini bolehlah dibeli orang (Cina). Setelah itu baru dilarang tidak apa-apa. Jangan melarang ketika kami hampir panen,’’ tegasnya. (c5/ari/FERLYNDA PUTRI)

Respon Anda?

komentar