Rahma-Rahmi Harus Jalani 60 Kali Fisioterapi

443
Pesona Indonesia
Meliari Lantika merawat bayi kembar siam, Rahmi saat menjalani terapi  sinar infrared  bertahap paska operasi pemisahan yang dilakukan Tim Kembar Siam Kepri di ruang Fisioterapi Rumah Sakit Awal Bros, Lubukbaja, Selasa (13/9/2016). Foto:Rezza Herdiyanto/Batam Pos
Meliari Lantika merawat bayi kembar siam, Rahmi saat menjalani terapi sinar infrared bertahap paska operasi pemisahan yang dilakukan Tim Kembar Siam Kepri di ruang Fisioterapi Rumah Sakit Awal Bros, Lubukbaja, Selasa (13/9/2016). Foto:Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Paska-operasi pemisahan, bayi kembar Nur Rahma Fairuz Manuniyyah dan Nur Rahmi Fahira Nahlannisa rutin menjalani fisioterapi.

Selasa (13/9/2016) kemarin menjadi kali kedua bayi kembar itu menjalani terapi di RS Awal Bros.

“Kalau di kertas ini (kertas rekomendasi fisioterapi) tertulis perlu 60 kali fisioterapi,” kata Ibu Bayi Kembar, Warmin Bahruddin, Selasa (13/9/2016).

Fisioterapi itu dilakukan untuk menghilangkan dahak yang masih bersarang di saluran pernafasan kedua bayi kembar. Keduanya terserang batuk tepat setelah operasi selesai dilakukan.

Warmin mengatakan, fisioterapi sudah mulai dilakukan sejak mereka dirawat di ruang NICU, paska-operasi.

“Kemarin Sabtu (10/9/2016) diperiksa lagi sama dr Fisher Iwan, SpKFR. Katanya, masih ada dahak di dada depan,” ujarnya.

Proses terapi tidak berlangsung lama. Masing-masing bayi mendapat tiga perlakuan. Yakni, penyinaran, penepukan, dan penguapan. Penyinaran dan penguapan berlangsung, masing-masing, tujuh menit.

Rahma-Rahmi menangis ketika proses terapi berlangsung. Junaidi Bakri Ratulolly, ayah keduanya, mengatakan, mereka kepanasan. Di rumah, keduanya juga kerap menangis karena panas.

Ini mungkin proses adaptasi, katanya. Sebab, udara di rumah tidak sama dengan di rumah sakit. Di rumah sakit dingin karena mesin pendingin ruangan. Sementara di rumah, ia hanya mendinginkan ruangan dengan kipas angin.

“Dia juga suka ngucek-ngucek mata kalau kepanasan,” tuturnya.

Junaidi menggunakan BPJS Kesehatan untuk perawatan fisioterapi ini. Seluruh biaya ditanggung. Begitu juga untuk biaya kontrol rutin ke dokter spesialis jantung dan dokter spesialis anak.

“Untuk yang kemarin kontrol, kami masih ikut BPJS waktu UGD lalu. Tapi kalau untuk kontrol besok, kami sudah harus minta rujukan dari klinik,” ujarnya lagi.

Warmin Bahruddin kini tak lagi bekerja. Ia mengundurkan diri sejak Rabu (7/9/2016) lalu. Ini dilakukan supaya ia bisa fokus menjaga bayi kembar.

Katanya, si kembar masih kerap menangis. Terutama karena kepanasan. Rahma lebih keras menangis ketimbang adiknya, Rahmi.

“Kurang tidur juga saya karena mereka juga sering bangun malam, minta susu,” ujar Warmin.

Ditanya tentang operasi lanjutan untuk Rahma, Warmin mengaku masih belum tahu. Dokter Spesialis Bedah Thorax Kardio Vaskular RSAB, dr Victor J Nababan, SpB-TKV mengatakan, kepastian operasi lanjutan itu akan ditentukan setelah Rahma berusia enam bulan.

Rahma akan genap berusia enam bulan pada Kamis (29/9/2016) nanti. Dokter meminta Warmin dan Junaidi membawanya lagi ke RSAB untuk diperiksa.

“Apakah nanti akan dioperasi atau tidak tergantung hasil pemeriksaan itu,” tuturnya.

Lantaran sudah tak lagi bekerja, Warmin harus mengalihkan keanggotan BPJS Kesehatan kedua bayinya menjadi keanggotaan mandiri. Ia menggantungkan semuanya biaya kebutuhan pada suami. Suaminya, Junaidi Bakri Ratulolly, kini bekerja sebagai pengemudi ojek online.

“Sekarang belum lagi terima orderan karena masih bantu saya jaga Rahma-Rahmi. Nanti kalau saya sudah bisa ditinggal sendiri, dia terima orderan lagi,” tuturnya. (ceu/koran bp)

Respon Anda?

komentar