TNI Siapkan Pasukan Khusus untuk Bebaskan WNI yang Disandera Abu Sayyaf

494
Pesona Indonesia
Pasukan katak, salah satu tim yang dipersiapkan untuk membebaskan 10 WNI yang disandera di Filipina. Foto: istimewa
Pasukan katak, salah satu tim yang dipersiapkan untuk membebaskan 10 WNI yang disandera di Filipina. Foto: istimewa

batampos.co.id -Meski Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam akan membelah dada masing-masing anggota militan Abu Sayyaf lalu memakannya, namun tak membuat nyali militan ini ciut. Mereka malah mengeluarkan ancaman akan mengeksekusi sandera asal Indonesia jika tebusan tak diberikan paling lambat 20 September 2016.

Ancaman itu dilontarkan militan Abu Sayyaf setelah Duterte pulang dari kunjungan kenegaraan di Indonesia.

Menerima ancaman tersebut, pemerintah langsung menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk membebaskan sandera sebelum tenggat habis. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir setelah mengikuti rapat koordinasi di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (13/9/2016).

Meski tidak menjelaskan secara detail langkah yang akan diambil, Fachir menyatakan bahwa komunikasi intensif dengan pemerintah Filipina terus dilakukan.

“Kami percaya pemerintah Filipina akan membantu menangani masalah ini,” katanya.

Kendati demikian, Fachir memberikan sinyal bahwa penerjunan pasukan TNI ke Filipina untuk membebaskan para sandera masih menjadi pilihan solusi yang memungkinkan. Hal tersebut mengingat adanya deklarasi bersama antara para menteri pertahanan, panglima angkatan bersenjata, dan menteri luar negeri Indonesia serta Filipina.

Namun, aturan secara teknis terkait hal tersebut akan dibahas di tingkat menteri. “Semua dasarnya ada di sana (deklarasi bersama, Red). Kalau presiden itu bahasannya besar, bukan kecil. Sehingga perlu ada SOP-nya lagi di tataran menteri,” jelasnya.

Fachir menambahkan, pemerintah optimistis mampu membebaskan para sandera sebelum batas waktu yang diberikan kelompok Abu Sayyaf berakhir.

“Ya, kita harus tetap optimistis. Kami tetap berkomunikasi di semua tingkat stakeholder, termasuk masalah batas waktu,” imbuhnya.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menegaskan, seluruh sandera WNI yang ditawan kelompok radikal Abu Sayyaf harus dibebaskan. Bahkan, hal tersebut telah menjadi pembahasan khusus antara dirinya dan presiden Filipina Jumat lalu (9/9).

Dari pembahasan tersebut, dihasilkan sebuah kesepakatan yang bernilai positif bagi posisi Indonesia. Yakni, pihak Filipina setuju melibatkan pasukan TNI dalam operasi darat bersama di wilayah Filipina dengan mempertimbangkan eskalasi perkembangan situasi di lapangan.

Di samping itu, Presiden Duterte memerintah Menhan Filipina meningkatkan intensitas koordinasi dengan Menhan RI dalam upaya pembebasan sandera. (dod/c9/oki/JPG) 

Respon Anda?

komentar