Bela Jessica, Ahli Patologi Sebut Mirna Tewas Bukan Karena Sianida

687
Pesona Indonesia
Jessica saat menjalani reknstruksi pembunuhan Mirna di kafe Olivier. (foto: jpnn)
Jessica saat menjalani reknstruksi pembunuhan Mirna di kafe Olivier. (foto: jpnn)

batampos.co.id – Sidang lanjutan kematian Wayan Mirna Salihin yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berlangsung hingga Rabu (14/9) tengah malam.

Salah satu saksi yang dihadirkan adalah ahli patalogi anatomi, Gatot Susilo Lawrence.

Gatot bersaksi setelah toksikolog kimia lingkungan, Dr Budiawan. Keduanya sama-sama dihadirkan kuasa hukum Jessica Kumala Wongso.

Dalam kesaksiannya, Gatot menyebut Mirna meninggal bukan karena sianida tapi karena hal lain.

“Karena tadi, kalau sianida dosisnya kecil, itu tidak mematikan, hanya ada di lambung. Kalau dosisnya besar, sampai ke hati untuk dinetralisir. Alasan itu dasarnya scientific,” terang Gatot di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/9) malam.

Gatot menuturkan, kondisi keracunan sianida dapat diketahui dengan pemeriksaan secara lengkap dari jantung, hati hingga otak. Selain itu kata dia, apabila Mirna diracun menggunakan sianida bentuk cair, maka kemungkinan kematian akan kecil karena racun yang terkandung dalam sianida dapat dinetralisir oleh hati, sebagai organ tubuh penetralisir racun.

“Kalau sianida bentuknya cair, itu bisa dinetralisir. Masuk ke lambung, bisa dinetralisir, kalau racunnya masih lolos, masuk ke hati, dinetralisir hati, masih lolos, masuk ke jantung, dipompa itu tadi. Kalau sudah melewati semua, mati, karena metabolisme diam,” kata Gatot.

Berbeda apabila racun sianida berbentuk gas, akan langsung terhirup dan meracuni pernafasan sehingga menyebabkan korban meninggal dengan cepat, karena racun langsung masuk ke target organ.

“Kalau sianida dalam bentuk gas itu cepat, karena nggak masuk hati, jadi nggak bisa dinetralisir hati,” kata Gatot.

Dari pemeriksaan otopsi tubuh Mirna, hanya ditemukannya 0,2 miligram per liter sianida dalam sampel lambung Mirna. Menurut Gatot, hal itu tidak bisa menjadi kesimpulan yang komprehensif. Selain itu pada saat pemeriksaan Mirna, ahli forensik tidak mengambil sampel tiosianat.

“Dalam kasus ini, tidak ada pemeriksaan tiosianat, hanya sianida. Jika sianida tidak ada, maka kemungkinannya sianida yang masuk tidak banyak dan dinetralisir oleh rodanase,” kata Gatot.

Menurut Gatot, tiosianat adalah zat yang dihasilkan oleh enzim rodanase dari zat sianida. Jika sianida yang masuk ke dalam tubuh sedikit, kata dia, maka enzim rodanase akan menetralisir sianida menjadi tiosianat. Hasilnya hanya tiosianat yang akan ditemukan dalam tubuh.

“Scientifically seharusnya tes sianida dan tiosianat dilakukan,” kata Gatot.

Hal ini membuat hasil pemeriksaan dari puslabfor Mabes Polri menjadi tak lengkap. Dosen dari Universitas Hasanudin Makassar itu pun meragukan kesimpulan yang diambil Puslabfor, bahwa Mirna tewas karena sianida.

Setelah kesaksian Gatot, sidang ditunda. Rencananya hari ini Kamis (15/9) sidang akan digelar kembali dengan dua saksi ahli yang diagendakan bersaksi kemarin namun tertunda karena keterbatasan waktu. (elf/JPG)

Respon Anda?

komentar