Gara-gara Tambah dan Limbah Pembudidaya Ikan Terancam Gulung Tikar

321
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Petani budidaya ikan nila kerambah di Pinggiran Sungai Batanghari, Jambi mulai kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ekonominya.

Pasalnya, masyarakat Sungai Duren yang mayoritas penghasilannya dari budidaya ikan ini menderita kerugian besar akibat banyaknya ikan yang mati.

Sedangkan bantuan atapun dari pemerintah, baik itu tingkat kabupaten maupun provinsi tidak ada sama sekali.

Suhendra, masyarakat pembudidaya ikan nila kerambah Sungai Duren mengatakan, banyaknya ikan mati, disebabkan karena kondisi air sungai batanghari yang keruh dan tercemar berbagai macam limbah.

“Ini bang, kalau siang hari jam 2 an, air sungai sudah keruh pekat sekali bang. Hampir tiap hari ada aja ikan yang mati,” ujar Sehendra seperti diberitakan Jambi Independent (Jawa Pos Group) hari ini (15/9).

Dampak dari banyaknya ikan yang mati, kata Suhendra, membuat banyak petani sesama pembudidaya di Sungai Duren gulung tikar. Karena keuntungan setiap kali panen sudah tidak mampu lagi menutupi biaya produksi. “Dak punya modal lagi bang, untuk pakan be satu kerambah biso abis 2 sampe 3 karung, sekali panen nyampe Rp 1 juta nian lagi idak,” ujar Suhendra lagi.

Bantuan dari pemerintah sendiri, kata Suhendra, belum ada hingga saat ini. Padahal kasus banyak ikan mati di tahun 2016 ini sudah sangat parah dari tahun-tahun sebelumnya. Ini juga dirasakan oleh hampir seluruh pembudidaya ikan kerambah di Sungai Batanghari.

“Sampai saat ini belum ada bantuan bang, jangankan bantuan perhatian aja belum ada. Kami di sini penghasilan dari kerambah ini, kami butuh perhatian pemerintah, dan solusinya lah bagaimana mana selanjutnya,” tambah Suhendra.

Pembudidaya ikan lainnya, Azhar saat dikonfirmasi ketika sedang mensortir ikan di kerambah miliknya juga mengeluhkan hal yang sama. Dijelaskannya dari 5000 bibit ikan dalam satu kerambah miliknya, kini hanya bisa dipanen kurang dari 1000 ikan saja.

Padahal biaya produksi ikanya dalam satu kerambah bisa menghabiskan hingga satu Rp 1 juta, sedangkan hasil panen Rp 500 ribu pun sulit. “Ini baru umur 2,5 bulan bang, tinggal seribuan be lagi. Menjelang 4 bulan agek ntah tinggal berapo lagi lah. biaso satu kerambah dapat Rp 1 – 2 juta, kini Rp 500 ribu be payah bang tekor yang ado,” keluh Azhar

Terpisah, Ketua Asosiasi Pedagang dan Pembudidaya ikan Nila Jambi (AP2NJ) Zulkifli mengatakan kerugian yang dialami masyarakat tahun 2016 ini bisa mencapai Rp 2 Miliar. Hal ini karena hampir dari seluruh pembudidaya ikan mengalami kerugian.

“Di sini satu kepala keluarga punya sekitar 10 samapi 20 kerambah, satu KK itu bisa rugi tiap panennya 4 bulan sekali Rp 15 sampai 20 juta. Jumlah pembudidaya kita di sini banyak sampai 500 lebih. Saya sendiri aja sudah rugi ratusan juta,” jelas Zulkifli.

Sebagai ketua asosiasi, dirinya sudah berusaha membawa keluhan masyarakat ke Pemerintah, baik melalui kementrian perikanan provinsi ataupun kabupaten. Namun belum ada solusi nyata yang diberikan. Untuk itu, dirinya meminta pemerintah lebih memperhatikan Fenomena banyaknya ikan yang mati sebelum masyarakat menjadi gerah.

“Kalau teman teman kemarin memang sudah ada niatan untuk turun menyampaikan aspirasi langsung. Tapi ya saya tahan dulu, kami ingin yang terbaik lah dari pemerintah. Soalnya ini sudah menyangkut urusan perut dan sekolah anak anak kami kan,” tegas Zulkifli lagi.

Masih di katakan Zul, banyaknya ikan yang mati ada indikasi dari banyaknya penambang di Hulu Sungai Batanghari baik itu pasir dan emas. Akibat penambangan, air Sungai Batanghari menjadi sangat keruh. Belum lagi bahan kimia atau limbah yang dibuang ke Sungai Batanghari.

“Indikasinya bisa jadi karena penambangan, baik itu pasir atau emas. Belum lagi limbah, lihat air batanghari tu, tambah parah saja keruh nya. Baunya pun sudah tidak enak dan menyengat terutama saat surut,” jelas Zulkifli.(jpg)

Respon Anda?

komentar