Kurikulum SMK Dirombak, Kelas 2 Sudah Harus Kerja Praktik di Industri

361
Pesona Indonesia
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Foto: istimewa
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Foto: istimewa

batampos.co.id – Setelah mengeluarkan rencana penerapan sekolah seharian penuh (full day), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali melakukan terobosan baru dengan merombak kurikulum pendidikan vokasi atau sekolah menengah kejuruan (SMK).

Yang paling menonjol dalam perombakan kurikulum SMK itu adalah porsi kerja praktiknya yang lebih besar dari teori.

“Skema barunya 70 persen praktek dan 30 persen teori,’’ sebut Mendikbud Muhadjir Effendy usai menyaksikan penandatanganan perjanjian kerjasama Kemendikbud dengan Trans Retail. Kesepakatan dua pihak ini juga dihadiri bos CT Corp Chairul Tanjung.

Dengan komposisi itu, sejak kelas II atau XI anak-anak didik nantinya sudah berada di dunia industri untuk praktik.

Muhadjir menjelaskan tujuan utama merombak komposisi praktek dan teori itu didasari dengan keinginan memperekat anak-anak SMK dengan dunia industri.

Dengan penambahan itu, Muhadjir mengatakan praktik belajar di dunia industri semakin lama. Sehingga anak-anak bisa semakin terampil dan ahli.

Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, ke depan anak-anak lulusan SMK menghadapi persaingan yang ketat. Apalagi dengan masuknya tenaga kerja terampil dari negara-negara ASEAN lainnya.

 ’’Dengan keterampilan yang baik, Indonesia bisa tampil gagah di tengah persaingan,’’ tegasnya.

Chairul Tanjung menyambut baik perjanjian kerjasama dengan Kemendikbud itu. Dia menjelaskan tahun depan akan membuka 30 unit gerai baru Transmart atau Trans Retail. Kemudian pada 2019 akan menyusul pembukaan 30 unit gerai lainnya.

’’Khusus untuk 30 gerai yang baru dibuka tahun depan, membutuhkan 15 ribu pegawai,’’ katanya.

Nah mantan Menko Perekonomian itu mengatakan hampir separuh atau sekitar 7.000 pegawai baru akan diisi lulusan SMK. Sehingga keterampilan anak-anak SMK harus disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Kerjasama ini meliputi banyak sektor. Seperti fasilitas praktik kerja lapangan (PKL) bagi peserta didik, peningkatan kompetensi guru produktif, dan penyusunan standar operasional pelaksanaan PKL.

Kemudian penyusunan materi dan tempat uji kompetensi, pengembangan database lulusan SMK, serta pemantauan dan evaluasi kegiatan. (pojok/jpg)

Respon Anda?

komentar