Pengrajin Kayu Ukiran Minta Dukungan Pemerintah Daerah

682
Pesona Indonesia
ilustrasi kayu ukiran jepara.
ilustrasi kayu ukiran jepara.

batampos.co.id – Pengrajin kayu di Anambas meminta dukungan Pemerintah Daerah. Pasalnya saat ini pelanggan sudah menurun akibat dari pemerintah daerah yang membatasi penebangan kayu. Zaenuri satu diantara pengrajin kayu asal Teluk Rit, Desa Tarempa Timur mengatakan, meski ada pelanggan yang datang itu tidak banyak, hanya ada satu atau dua saja.

Pria asal Jepara yang sudah lima tahun terakhir bermukim di Anambas ini mengatakan, dukungan dari pemerintah yang dimaksud lebih kepada arah serta keikutsertaan para pengrajin pada even-even maupun pameran baik pada tingkat daerah maupun yang berskala nasional. Cara tersebut menurutnya tidak hanya menguntungkan daerah, namun juga membuka peluang bagi pengrajin untuk melebarkan pangsa pasarnya.

“Seingat saya ada pameran tapi hanya kerajinan tangan yang berbahan rotan. Untuk pengrajin kayu, saya belum pernah diikutsertakan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, permintaan akan kerajinan serta ukiran kayu sempat membludak sejak beberapa tahun terakhir. Mulai dari permintaan pembuatan pintu, daun jendela, kursi hingga meja sempat dirasakan olehnya.

Bahkan dirinya sempat mendatangkan dua orang pekerja yang ahli untuk membuat ukiran kayu langsung dari Jepara untuk memenuhi permintaan tersebut. Sayangnya, dua orang tenaga ahli itu pun terpaksa pulang kembali ke kampung halaman setelah satu tahun terakhir berada di Anambas karena sepinya pesanan.

Tidak jarang beberapa pekerja lainnya pun mencari alternatif pekerjaan lain dengan bekerja kuli bangunan dan membuat batu bata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Kalau bisa harapannya itu. Artinya, ada dukungan dari pemerintah. Kalau kami hanya bekerja sendiri rasanya berat,” terangnya.

Menanggapi hal ini Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas Abdul Haris, berkomitmen untuk mendukung para pengrajin dalam kaitannya membangun daerah. Ia pun mengaku saat ini tengah mendata mengenai pengrajin di Anambas.

Tidak hanya itu, ia pun meminta kepada para pengrajin untuk dapat berinteraksi dengan Pemerintah Daerah melalui aparatur desa, sampai kepada dinas yang membidangi hal ini.

“Ada niat saya, agar para pengrajin ini dapat membuat kerajinan yang bersifat khas Anambas. Tentunya selain memberikan nilai ekonomis, ini bisa menjadi cinderamata bagi wisatawan yang berkunjung,” ungkapnya.

Kalau memang sudah menyampaikan kepada aparatur desa, camat hingga ke SKPD namun tidak ada respon, jangan ragu untuk memberitahu kepadanya. Menurutnya sebelumnya juga ada juga pengrajin dari Palmatak yang mengadukan masalah seperti ini.

“Saya sempat meminta ia untuk membuat kerajinan ikan ketipas (Napoleon, red) dari kayu. Sebelumnya, ia sempat membuat teko berikut cangkir berbahan kayu Mentigi. Serta ada beberapa kerajinan berbahan kayu lain seperti toples,” ungkapnya. (sya/bpos)

Respon Anda?

komentar