Atap Sekolah Bocor, Ruang Majelis Guru Beratap Terpal

433
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Sarana prasarana pendidikan di Kabupaten Lingga masih sangat buruk. Hal ini terbukti dari sejumlah bangunan sekolah yang memprihatinkan. Seperti halnya SDN 015 Lingga di Desa Tanjung Dua, Kecamatan Selayar, yang atapnya bocor sehingga basah saat musim hujan.

Informasi yang dihimpun koran Batam Pos dari salah seorang warga dan wali murid, Bujang (samaran) mengatakan, kondisi sekolah di Desa Tanjung Dua tersebut semakin memperihatinkan dan rusak berat. Kondisi atap yang bocor membuat ruang kelas selalu basah karena rembesan air hujan. Untuk dapat melangsungkan proses belajar, siswa harus bergantian menggunakanruang belajar.

“Bangunan sekolah dibangun tahun 2002 lalu. Sekarang sudah uzur dan rusak berat. Lihat saja atap, sekarang sudah bertambah parah. Kalau tidak secepatnya ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah, takutnya proses belajar mengajar terhambat,” ungkap salah seorang wali murid tersebut.

Selain proses belajar mengajar yang terhambat, kata sumber tadi, dari enam ruang kelas yang ada, hanya sebagian ruang kelas yang dapat digunakan saat musim hujan.

“Ada enam ruang kelas dan dua atap bangunan. Satu atap ada tiga lokal. Kalau hujan turun, pelajar harus pindah ke tiga ruang kelas lain dan berbagi ruang dengan siswa kelas lain. Bukan saat hujan saja, kalau panas, sinar mataharipun tembus kedalam kelas,” paparnya.

Dengan 70 orang siswa yang mengecap pendidikan di SDN 015 tersebut, sangat disayangkan jika dalam hal ini pemerintah daerah lamban turun tangan. Beberapa waktu lalu, bahkan wali murid saat perpisahan yang berlangsung di sekolah tersebut telah memaparkan ke dinas terkait kondisi ruang belajar tersebut. Namun sampai tahun ajaran baru, belum juga terealisasi perbaikan. Sementara kerusakan semakin parah.

“Lebih parah lagi, atap majelis gurupun bocor dan harus ditutup terpal,” sambungnya.

Sementara itu ditempat lain, Komisi III DPRD Lingga, Said Agumarli mengatakan, terkait kondisi SD 015 Lingga di Desa Tanjung Dua, Kecamatan Selayar, pihaknya tidak berani mengatakan ada tidaknya ploting anggaran dari pemerintah daerah untuk perbaikan. Ia mengataka, semua itu tergantung Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).

“Kalau memang ada diploting anggaran untuk rehab SD 015 Lingga oleh Disdikpora Lingga, komisi tidak pernah memangkas meskipun ada efesiensi. Semua itu tergantung dinas, kalau kami yang menyangkut kepentingan masyarakat, apa lagi masalah pendidikan, kami tidak pernah memangkas,” kata Agusmarli.

Selama ini, terang Agusmarli, pasca defisit dan efesiensi Disdikpora tidak pernah melibatkan Komisi III. Bahkan, semua urusan efesiensi, kata Agusmarli, dibahas oleh dinas terkait. “Ketika pembahasan anggaran, komisi dengan dinas bersama-sama melakukan pembahasan, tapi ketika melakukan pemangkasan atau efesiensi, Komisi III tidak pernah dilibatkan. Sebenarnya yang berhadapan dengan masyarakat baik buruknya DPRD yang dipersoalkan,” ujarnya.

Agusmarli mengaku hingga kini Komisi III tidak mengetahui apakah ada anggaran rehab sekolah SDN 015 Lingga di Desa Tanjung Dua tersebut.

Sampai berita ini ditulis, dinas terkait belum dapat dikonfirmasi dan memberikan keterangan. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar