Kebudayaan Melayu di Lingga Aset Bangsa

509
Pesona Indonesia
Ridak K Liamsi
Ridak K Liamsi

batampos.co.id – Rencana peleburan dinas Kebudayaan bersama dinas pendidikan di Kabupaten Lingga menuai komentar pedas dari seluruh pemerhati dan tokoh kebudayaan Lingga. Salah satunya, Datuk Sri Lela Budaya Rida K Liamsi putra asli daerah yang menilai wacana tersebut adalah pelecehan terhadap budaya dan sejarah nenek moyang bangsa melayu.

Aset kebudayaan yang begitu luas di Lingga, kata Rida, adalah sejarah besar Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Sebagai sentral Bunda Tanah Melayu yang diakui negara Asean sejak tahun 1999 lalu, memiliki 106 cagar budaya, aset sejarah, lahirnya bahasa Indonesia, kesenian dan adat istiadat menjadi kekuatan Lingga untuk mempertahankan dinas Kebudayaan agar berdiri sendiri.

“Sebagai daerah dengan aset kebudayaan, tidak tepat jika di Lingga dinas kebudayaan harus digabungkan bersama dinas pendidikan. Siapa nanti yang akan mengurus aset kebudayaan itu dari kerusakan. Menjaga seluruh aset kebudayaan yang begitu banyak,” ungkap Rida K Limasi melalui sambungan telepon, Kamis (15/9).

Menurut hemat budayawan melayu ini, seharusnya urusan kebudayaan tidak bisa dipandang secara general. Meski ada surat edaran dari Menteri Pendidikan mengajurkan kedua dinas tersebut dilebur, Lingga Kepri sama halnya dengan Jogjakarta, Bali dan Aceh yang memiliki kekuatan kebudayaan. Dilanjutkan Rida, memang tidak seluruh wilayah di Kepri harus mendirikan sendiri dinas kebudayaan. Ada daerah tertentu seperti Natuna dan beberapa kabupaten-kota di Kepri yang tidak perlu. Namun Lingga sebagai pusat kesultanan Lingga-Riau dan kota Tanjungpinang sebagai pusat Ibukota Provinsi wajib.

“Kalau di Natuna dinas kebudayaan dilebur tak apa-apa. Kalau di Lingga, itu tidak bisa. Bagaimana kita mendengung-dengungkan Bunda Tanah Melayu, tapi dinas tidak mampu dipertahankan berdiri sendiri. Jangan memandang persoalan kebudayaan secara general, ada wilayah tertentu yang memang tidak memiliki aset kebudayaan, tapi di Lingga siapa yang bisa membantah,” cetusnya.

Terkait persoalan perampingan SOTK, beban kerja dan keuangan Lingga yang defisit dan menunjang efekifitas program, dengan tegas Rida menyampaikan, mengurusi hal kebudayaan tidak akan membuat Lingga menjadi miskin. Dengan kebudayaanlah, Lingga semakin dikenal oleh seluruh bangsa dan semenanjung melayu.

“Dinas Kebudayaan di Lingga harus berdiri sendiri,” tegasnya.

Senada dengan itu, salah seorang pemerhati kebudayaan dan seniman Lingga, Said Parman mengatakan, memang idealnya kebudayaan berdiri sendiri. Ia juga berharap, dalam konsultasi nanti yang akan berlangsung bersama Gubernur Kepri, Lingga dapat memiliki dinas kebudayaan sendiri.

“Idealnya memang berdiri sendiri. Kita berharap, dengan berdirinya dinas kebudayaan sendiri dapat dirasakan langsung oleh kalangan budayawan, sejarah, pelaku seni, seniman dan memang berpatutan sebab Lingga adalah senetral Bunda Tanah Melayu,” terangnya. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar