WNI Punya Aset di Singapura Dilema, Ikut Tax Amensty Bisa Dikriminalisasi

594
Pesona Indonesia
Salah satu sudut Singapura. Foto: istimewa
Salah satu sudut Singapura. Foto: istimewa

batampos.co.id – Singapura terus mencoba menghalangi warga Indonesia yang punya tabungan dan aset di negara tersebut untuk mengikuti program pengampunan pajak (tax amnesty) di Indonesia.

Yang terbaru, perbankan Negeri Singa itu akan melaporkan nasabahnya yang ikut amnesti pajak kepada polisi setempat.

Merujuk laporan Reuters, pemerintah Singapura mewajibkan perbankan di negaranya untuk membeberkan nasabah WNI yang ikut amnesti pajak kepada Commercial Affairs Department (CAD), unit kepolisian yang menangani kasus kejahatan finansial di Singapura.

Nasabah WNI yang ikut pengampunan pajak ini bisa diduga terlibat dalam kasus pencucian uang.

Untuk itu, perbankan di Singapura harus mengisi semacam formulir tentang transaksi mencurigakan atau suspicious transaction report (STR). Dalam keikutsertaan program tax amnesty, seseorang bisa saja diduga melakukan pembersihan nama.

Aturan dari CAD ini didukung pula oleh Monetary Authority of Singapore (MAS), sehingga perbankan harus mematuhi kewajiban pelaporan itu.

”Bank telah mengajukan STR,” kata sumber perbankan anonim kepada Reuters.

Sumber itu menyebutkan bahwa nasabah tidak harus diberitahu tentang pengajuan STR itu.

Sumber anonim lain yang juga berasal dari perbankan juga menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan STR, dan bank lainnya di Singapura diharapkan juga melakukan tindakan yang sama.

Pihak CAD dan MAS menolak berkomentar soal ini.

Nasabah dari Indonesia sendiri banyak yang melakukan investasi properti di Singapura dan menyimpan uangnya di perbankan Singapura. Aset private banking dari nasabah Indonesia diperkirakan mencapai USD 200 triliun, 40 persen dari total aset private banking di Singapura.

”Bank perlu melakukan pemeriksaan lebih proaktif terhadap efektivitas pengendalian dan prosedur internal mereka,” kata Wilson Ang, mitra di kantor Singapura dari firma hukum Norton Rose Fulbright. (reuters/JPgrup/Koran bp)

Respon Anda?

komentar