Banjir Terjang Desa Batu Berdaun, Ayam Jualan Ikut Jadi Korban

364
Pesona Indonesia
Banjir yang merendam rumah warga di Desa Batu Berdaun, Dabo, Lingga. foto;wijaya satria/batampos
Banjir yang merendam rumah warga di Desa Batu Berdaun, Dabo, Lingga. foto;wijaya satria/batampos

batampos.co.id – Sejumlah rumah warga Kampung Baru, RT 02 RW 02, Desa Batuberdaun, Dabo Singkep, kembali diterjang banjir setelah beberapa saat hujan melanda. Warga kesal karena air mengalir deras dari dataran tinggi seberang jalan di RW 01 hingga masuk kedalam rumah mereka dan semakin dalam karena tidak dapat mengalir lancar ke daerah pembuangan.

“Dalam setahun ini sudah lima kali lebih rumah saya masuk air. Siang malam selalu was-was jaga air,” kata Sar, warga RT 02 Kampung Baru, Jumat (16/9) pagi.

Dari pantauan koran Batam Pos di lokasi, Sar kerepotan membuka seluruh saluran air untuk memperlancar genangan air agar lebih cepat mengalir menuju laut yang berada tidak jauh dari rumahnya. Namun air yang datang dari dataran yang lebih tinggi terlalu deras, sehingga menggagalkan usaha Sar tersebut. Air tetap menggenang, masuk ke dalam rumahnya.

Banjir yang terus melanda kampung mereka dikarenakan parit di jalan Kampung Baru hanya ada satu. Tidak seperti jalan lainnya terdapat dua parit di kiri dan kanan jalan. Karenanya, air yang turun dari dataran yang lebih tinggi itu tidak dapat dialirkan ke sungai atau pembungan lainnya. Serta-merta air menuju kampung mereka yang berkondisi lebih rendah.

Karena banjir kali ini, warga Kampung Baru lainnya juga mengalami kerugian. Ayam yang sudah lama dipelihara pria separuh baya itu banyak yang mati akibat tenggelam dan terseret laju arus air.

Menurut Ketua RW 02 Kampung Baru, Asmin, banjir yang selalu melanda daerahnya akibat belum terealisasi pembangunan batu miring parit besar yang ada di daerah mereka. Padahal Pemkab Lingga telah berjanji akan membangun batu miring tersebut pada tahun ini.

“Hingga saat ini tidak ada pembangunan parit besar itu. Dengar kabar, tahun depan pemkab baru dapat membangun batu miring itu,” kata Asmin.

Sementara penyebab banjir lainnya, Asmin menuturkan, parit di samping jalan hanya ada satu saja, karena terkendala dengan persetujuan warga yang tinggal di dekat sungai. Warga tersebut tidak memberikan lokasi sekitar rumahnya untuk dibangun parit pembuangan air ke sungai.

Asmin mengkhawatirkan jika musim penghujan ini berbarengan dengan musim barat membuat air laut naik, tentunya kondisi ini akan memeperparah banjir di daerah mereka. Pasalnya, air darat tidak dapat mengalir ke laut bahkan menambah tinggi genangan air yang telah ada. Karena musim barat sebentar lagi tiba, Asmin meminta pemerintah agar lebih cepat bertindak mengatasi kondisi ini sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Jika air laut naik seperti musim barat nanti, alamat kampung kami terendam air sangat dalam,” tutup Asmin. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar