Gonggong Terbaik Itu dari Perairan Bintan

661
Pesona Indonesia
Gonggong rebus. foto:faradila/batampos
Gonggong rebus. foto:faradila/batampos

batampos.co.id – Siapa yang bertandang ke Tanjungpinang selalu ingin menyempatkan diri menyicip gonggong. Baik itu yang disajikan dalam rebusan atau dalam olahan lain. Tapi, yang paling nikmat untuk mendapatkan citarasa asli gonggong adalah dalam bentuk rebusan.

“Gonggong terbaik dan paling enak itu ya yang ada di perairan pulau Bintan ini,” kata Selvi Saifulloh, seorang blogger asal Bogor, yang singgah di Tanjungpinang, belum lama ini.

Pengalamannya jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat indah yang menyajikan makanan-makanan khas, telah membuat lidah Selvi dengan mudah mengingat citarasa khas sebuah olahan panganan khas daerah. Sempat bermalam di Batam, ia juga menyicip gonggong rebus. Setiba di Tanjungpinang, ia juga memesan santapan yang sama.

“Entah mengapa kok yang lebih enak itu ada di Bintan ini. Lebih gurih gitu lho di lidah,” ungkap bolgger perempuan ini. Sesaat kemudian Selvi memotret sajian boga laut khas Tanjungpinang di atas meja untuk kemudian diunggahnya dalam sebuah artikel khusus di blognya.

Sajian gonggong tidak sekadar menggoyang wisatawan nusantara semacam Selvi. Beberapa waktu yang lalu, Erick Bastian dan kekasihnya, sepasang wisatawan asal Jerman yang tengah berlibur ke Bintan, mengaku sulit menghentikan kunyahan gonggong di mulutnya. Di Jerman ada sajian boga-bahari. “Tapi tidak ada siput seenak ini,” tukasnya.

Abbott, R.T. dalam bukunya The Genus Strombus in the Indo-pacific menerangkan, habitat siput gonggong umumnya adalah substrat lumpur berpasir yang banyak ditumbuhi tumbuhan bentik seperti lamun dan makro alga, mulai dari batas surut terendah hingga kedalaman lebih kurang enam meter. Pemilihan habitat ini mengikuti ketersediaan makanan berupa detritus dan makro alga serta kondisi lingkungan yang terlindung dari gerakan massa air.

Gonggong lebih bersifat epifauna atau hidup di atas permukaan substrat. Walau begitu, gonggong juga memiliki kebiasaan membenamkan diri pada waktu-waktu tertentu. Pemilihan ini dikarenakan kegiatan mencari makan dan reproduksi dilakukan di permukaan substrat. Sedangkanan mesti membenamkan diri untuk berlindung ketika terjadi perubahan massa air secara masif.

Berdasarkan teori tersebut, tidak ayal kawasan perairan Tanjungpinang dan Bintan secara umum jadi wahana tinggal favorit gonggong. Kontur pantainya yang landai dan berpasir adalah lanskap yang membuatnya nyaman. Sehingga pernah terdengar sesumbar orang, gonggong di Pulau Bintan ini tidak ada habisnya.

Setiap musim liburan atau akhir pekan, permintaan hidangan gonggong semakin tinggi. Rata-ratanya pelancong yang memesan gonggong. Ranti, salah seorang pengusaha rumah makan sajian boga laut, biasa memesan dua kali lipat jumlah gonggong dari hari biasanya. Jikalau sedang ramai-ramainya, dalam sehari bisa habis 100-200 ekor gonggong. Dengan rata-rata seporsi berisi dua puluh gonggong rebus yang dihargai Rp 35 ribu.

Gonggong memang jadi primadona wisata kuliner di Tanjungpinang. Selain enak di lidah, kandungan nilai gizinya boleh dikatakan tinggi. Seperti hasil pangan laut pada umumnya, gonggong memiliki kandungan protein yang tinggi. Dalam 100 gram gonggong, terdapat 4,1 persen karbohidrat dengan nilai gizi 1,4 kalori, 31,19 protein dengan nilai gizi 124,8 kalori, dan 24,9 persen lemak dengan nilai gizi 224,1 kalori.

Kendati bernilai gizi tinggi, bukan berarti tidak ada risiko bila mengudap gonggong berlebih, lantaran turut terkandung kolesterol. Oleh karena itu, orang yang punya kadar kolesterol tinggi dalam tubuhnya, ada baiknya hanya mengonsumsi sebarang satu atau dua saja.
“Biasanya kalau makan terlalu banyak, pening kepala dibuatnya. Apalagi orang yang punya kolesterol, bisa tumbang,” kata Ranti.

Sebab itu, lazimnya dalam satu paket sajian boga bahari, Ranti menuturkan, pelanggan turut memesan buah-buah penurun kolesterol seperti nenas atau apel. “Ada juga yang memilih pesan jus timun,” tuturnya. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar