Narkolema Sebabkan Kerusakan Otak

1113
Pesona Indonesia
Elly Risman menjadi pembicara pada seminar parenting di Hotel CK Tanjungpinang, Sabtu (17/9) lalu. foto:faradila/batampos
Elly Risman menjadi pembicara pada seminar parenting di Hotel CK Tanjungpinang, Sabtu (17/9) lalu. foto:faradila/batampos

batampos.co.id – Dampak kerusakan yang ditimbulkan dari kecanduan pornografi bagi anak-anak cukup akut. Psikolog pakar pengasuhan anak kenamaan di Indonesia, Elly Risman mengistilahkannya sebagai narkolema atau singkatan dari narkotika lewat mata.

Melalui seminar parenting di Hotel CK Tanjungpinang, Sabtu (17/9) lalu, Elly mengingatkan kepada seluruh peserta bahwasanyanya pornografi sebagaimana narkotika dapat menyebabkan kecanduan yang merusak.

“Bahkan bagi anak-anak, kecanduan pornografi ini menyebabkan kerusakan otak secara permanen,” kata Elly.

Sebagaimana dijelaskan Elly mengikuti penelitian para ahli, bahwasanya pornografi mampu merusak otak secara permanen. Yang kata dia, seumpama otak manusia yang mengalami cedera fisik akibat kecelekaan dan benturan di kepala.

“Bahkan dampaknya bisa lebih buruk dari narkotika. Karena pornografi merusak lima sel otak, sementara narkoba merusak tiga sel otak. Yang rusak bagian direktur atau dalam otak, mengganggu moral dan nilai-nilai. Direktur ini tempatnya mereka merencanakan masa depan, mengatur emosi dan pengontrolan diri,” terang Elly.

Anak-anak yang kadung tercandu narkolema akan terkena BLAST. “B yang pertama artinya bored alias bosan,” terang Elly. Anak-anak akan senantiasa merasa bosan dengan rutinitas kesehariannya. Termasuk juga rutinitas untuk mengikuti pelajaran di sekolah.

“L itu lonely. Anak-anak akan merasa kesepian karena merasa tidak dekat oleh orang tuanya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Lalu A itu angry dan afraid. Anak-anak jadi pribadi pemarah bila ada banyak hal yang tidak mengena di hatinya dan takut untuk bercerita dengan orang tuanya. Sementara S itu artinya stress dan T itu tired, atau anak akan selalu merasa kelelahan,” beber Elly.

Paparan BLAST ini yang ditandai Elly kerap membuat anak lebih memilih berkutat kepada gawai, gim, komik atau novel yang bernuanasakan pemenuhan hasrat seksualitasnya. Dikarenakan anak memang merasa perlu kasih sayang yang sayangnya tidak mereka rasakan.

“Jika tidak ada pengawasan dari orang tua, jelas anak akan terjerumus terhadap pornografi dan aksi-aksi negatif lagi kontradiktif,” terang Elly.

Seharusnya, sambung Elly, dengan zaman digital yang semakin berkembang dan juga di tengah tuntutan, anak harus mengikuti perkembangan zaman. “Namun pesankanlah kepada anak untuk menahan pandangan dan juga menjaga kemaluan,” pungkas Elly. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar