Suku Laut Kongky Rindukan Belajar Baca dan Tulis Lagi

534
Pesona Indonesia
Anak Suku Lau Selat Konky. foto:hasbi/batampos
Anak Suku Lau Selat Konky. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Pasca robohnya balai belajar berantas buta aksara Dusun Selat Kongky, Desa Pena’ah Kecamatan Senayang, akibat angin ribut sebulan yang lalu, aktifitas belajar mengajar yang diikuti anak-anak, ibu rumah tangga, dan kepala keluarga Suku Laut dihentikan. Warga berharap, balai segera diperbaiki agar dapat kembali beraktifitas belajar seperti biasa.

Salah satu murid tim aktivis Jembatan Ilmu Desa Pena’ah, Herman Harun, 35, mengaku merindukan aktivitas belajar. Meski usianya kini tidak muda lagi, Harun begitu antusias mengikuti aktifitas belajar bersama warga lainnya. Sejauh ini diakui Harun, ia sudah bisa mengenal dan menulis huruf-hurf alfabet dan angka-angka yang diajarkan para aktivis.

“Kapan balai kami bisa dibangun lagi. Kami rindu belajar. Anak-anak kami juga harus belajar,” harap Harun.

Awalnya kata Harun, jangankan untuk membaca dan menulis, mengenal uang dan menghitung saja masih sangat sulit ia lakukan. Adanya Densy Diaz, aktivis buta aksara yang secara sukarela mengajari warga Suku Laut membuat warga semakin berminat mengisi waktu luang untuk belajar. “Sekarang sudah kenal sama huruf dan angka. Makanya kami harus belajar lagi agar bisa membaca,” sambungnya.

“Kami berharap balai cepat dibangun ulang. Agar Bunda (Densy Diaz) dapat bimbing kami lagi,” ujarnya.

Sementara itu, pejuang berantas buta aksara tim Aktivis Jembatan Ilmu Desa Pena’ah, Densy Diaz mengatakan sejak robohnya balai belajar ia juga mengurus pengajuan perbaikan kepada pemerintah daerah.

“Sementara kita libur dulu. Kita sudah jumpai BPBD dan mereka siap merehab. Janjinya secepatnya. Aktifitas belajar tidak bisa ditunda-tunda lagi,” tutur Bunda orang Suku Laut ini.

Dikatakan Diaz, sejumlah kebutuhan rumah balai belajar di Selat Kongky selain rumah belajar juga dibutuhkan buku-buku, alat tulis, meja, papan tulis serta satu unit musholla untuk mengajari anak-anak dan warga mualaf tersebut beribadah.

“Untuk buku bacaan sudah dipastikan dari Pak Haryono, salah satu dosen UNRI. Kami juga kurang tenaga pendidik. Karena kami hanya beberapa orang tim saja,” ujarnya.

Di tempat yang sama Kades Pena’ah, Abang Marwan, mengatakan untuk rehab bangunan balai balai belajar murid-murid buta aksara sudah diajukan RAB-nya.

“RAB-nya sudah diajukan ke BPBD. Kita berharap terealisasi secepatnya,” imbuh Marwan.

Diakui Marwan, adanya Diaz dan tim berantas buta aksara serta keinginan masyarakat suku laut untuk belajar sangat didukung pihak desa. Bahkan secara pribadi, Marwanlah yang selalu menfasilitasi mobilitas para aktivis untuk memberikan pendidikan bagi warga Suku Laut. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar