Usai Bakar Rumah, Pria Ini Bunuh Diri dengan Tragis

720
Pesona Indonesia
Kebakaran hebat menghangsukan belasan rumah kayu di Desa Sri Tanjung, Tarempa, Anambas, Jumat (20/5). foto:syahid/batampos
Ilustrasi. foto:syahid/batampos

batampos.co.id – Aksi nekat Tumin, 55, mengemparkan warga Tiyuh (Kampung) Makarti, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tuba Barat), Lampung.

Pasalnya, setelah membakar rumahnya hingga hangus, Tumin mengakhiri hidup dengan cara menenggak racun serangga. Peristiwa nahas itu terjadi Sabtu (18/9) dini hari.

Kobaran api melahap rumah mulai sekitar pukul 00.00. Barang-barang di dalam rumah ukuran 8×12 meter itu nyaris tak ada lagi yang bisa terselamatkan. Si jago merah menghanguskan separuh lebih rumah tersebut.

Api muncul dari dari kamar dan ditengarai berasal dari terpal yang dibakar. Warga sekitar bergotong royong memadamkan api. “Kalau saja ini kejadian siang, mungkin habis, karena hampir 97 persen masyarakat tengah bekerja di kebun atau sawah,” papar Mardiah (48) istri Tumin, seperti diberitakan Radar Lampung (Jawa Pos Group) hari ini (19/9).

Menurut Mardiah, sejak lima hari belakangan, suaminya menunjukkan gelagat aneh. Ayah dua anak ini kerap merengek minta lebih diperhatikan Mardiah. Mardiah yang mulanya tak curiga menuruti kemauan suaminya itu. Tumin sendiri sudah tak lagi bekerja lantaran menderita stroke 18 bulan lalu. Sejak itu dirinya terlihat depresi dan tertekan.

Mereka tinggal berdua saja di rumah. Kedua anaknya sudah hidup terpisah. Devi anaknya yang pertama merantau ke Tanjungbalai, Riau. Sementara Arfiah, sudah tinggal dirumah sendiri sekitar 1 kilometer dari rumah orangtuanya.

Pada jumat (16/9) Tumin memarahi dirinya tanpa sebab jelas. Meski demikian Mardiah memilih diam. “Ya mungkin emosinya sedang tidak bagus. Jadinya marah-marah. Tapi saya tetap diam aja. Walaupun dia marah-marah. Saya kasih makan nggak pernah telat,”tuturnya kemarin.

Tetapi emosi Tumin malah menjadi. Mardiah malah diusirnya. Sambil menangis Mardiah pergi sambil membawa barang-barangnya. Dia pun mengungsi ke rumah Arfiah.

Usai Mardiah pergi, Tumin yang tengah menderita stroke itu langsung mengunci pintu dan jendela hingga malam hari. Jadi nggak ada orang yang bisa masuk,” tutur Mardiah.

Sekitar pukul 23.30 WIB, Mardiah baru mendapat kabar bahwa rumahnya nyaris ludes terbakar.

“Saya sampai rumah sini orang sudah banyak. Pada bawa air untuk memadamkan api. Sebagian lagi dobrak pintu dan akhirnya menemui suami saya sudah nggak sadar dan mulutnya berbusa,” jelas Mardiah.

Tumin langsung dibawa ke puskesmas Rawat Inap (PRI) Dayamurni untuk mendapatkan pertolongan. Tapi, kondisinya sudah kritis. Dia kemudian dirujuk ke RS Assyfa, Daya Asri, Tumijajar, Tuba Barat. “Sayangnya Tuhan berkata lain, Tumin meninggal dunia,” papar Mardiah.

Menurut Mardiah, Tumin berhenti bekerja sebagai tukang bangunan lantaran penyakit yang dideritanya. Sebagai istri, Mardiah berusaha mengobati penyakit suaminya. Hasilnya, meski belum pulih namun Tumin sudah mulai bisa berjalan dan makan.

Selama Tumin sakit, Mardiah bekerja membanting tulang. Dia mengambil upahan menanam singkong, padi dan pekerjaan serabutan lainnya. Kedua anaknya, sudah hidup terpisah dari Mardiah dan Tumin. Devi anaknya tengah merantau ke Tanjungbalai, Riau.

“Tapi memang abis sakit suka marah-marah terus sejak 3 bulan lalu. Saya diam saja. Nggak bantah-bantah. Yang penting dia gak marah lagi,” paparnya lesu.

Menurut Mardiah, rumah mereka yang sudah hangus adalah hasil kerja Tumin jadi buruh bangunan di Malaysia sejak 2002 sampai 2010.

Kapolsek Tuba Udik, AKP. Sainul AR mengatakan pihaknya masih mengumpulkan barang bukti dan keterangan. “Semua sedang kami selidiki, tim kami tengah bekerja,”papar Sainul.(jpg)

Respon Anda?

komentar