Hidup Sehat dengan Makanan Palsu

796
Pesona Indonesia
Chef Cheerfulcafevegan, Dedy Setiawan yang berpengalaman dalam memasak makanan vegan asal sayuran dan buah-buahan, BCS Mall, Lubukbaja, Kamis (15/9).  Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos
Chef Cheerfulcafevegan, Dedy Setiawan yang berpengalaman dalam memasak makanan vegan asal sayuran dan buah-buahan, BCS Mall, Lubukbaja, Kamis (15/9).
Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

Banyak manfaat menjadi seorang vegetarian. Tubuh menjadi lebih segar dan terhindar dari penyakit. Menjalaninya pun tidak sesulit yang dibayangkan.

Pramusaji itu meletakkan sepiring burger di atas meja. Penampilannya sungguh menggoda selera. Roti bun lapis daging ayam yang sempurna tersiram mayonaise dan saus sambal. Rasanya ingin segera menggigitnya.

Rasa itu berubah menjadi rasa penasaran tatkala Adi mengatakan, burger itu burger vegan alias burger untuk orang yang menjalani pola hidup vegan. Vegan, sebutan bagi orang yang sama sekali tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari makhluk hidup. Baik itu daging-dagingan, ikan, ataupun unggas.

“Daging itu bukan ayam tapi berasal dari bahan lain yang dibuat menyerupai rasa ayam. Rasanya mirip kan?” kata Adi.

Bukan hanya dagingnya yang dimodifikasi. Roti dan mayonaise yang digunakan pun tidak memiliki kandungan telur dan susu. Semuanya murni dari bahan-bahan lain yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi roti dan mayonaise.

Adi menyebut makanan jenis itu sebagai makanan palsu. Sebab, semuanya dibentuk untuk menyerupai rasa aslinya. Sedang kandungannya berasal dari nabati.

“Kami tidak marah itu disebut makanan palsu. Karena memang itulah adanya,” tutur pria yang bekerja sebagai manajer sebuah rumah makan vegan tersebut.

Adi bukan seorang vegan. Ia baru setingkat vegetarian. Ia masih mengonsumsi telur, susu, ataupun keju. Ia baru mulai menjalaninya setahun belakangan.

“Ketika saya bekerja di sinilah,” tuturnya.

Pria bernama lengkap Dwi Riadi itu menjadi vegetarian karena ingin sehat. Lagipula, sejak kecil ia juga tidak terbiasa makan daging – ayam dan sapi, ataupun ikan. Hidup di daerah pertanian di Purwokerto, Adi kecil kerap makan sayur-sayuran, tahu, dan tempe.

Memang, terkadang timbul rasa ingin mengonsumsi daging. Misalnya, ayam. Tapi rasa itu cepat-cepat ia tahan.

“Rasanya sayang kalau saya harus menggugurkan pola makan ini dengan satu potong ayam,” ujarnya.

Pasti berat memulai sesuatu yang baru, yang di luar kebiasaan. Pepatah itu tidak salah. Alvin O Yolanda, pria yang telah menjadi seorang vegetarian selama 30 tahun itu mengakuinya. Di awal ia menjalani pola hidup vegetarian, tahun 1986 lalu, ia banyak mendapat godaan.

Godaan pertama datang dari keluarga. Ibunya sering masak ikan dan hasil laut lainnya. Bagaimana tidak, Belitung -daerah asalnya, kaya akan ikan. Kalau tidak masak ikan, ibunya akan masak sotong atau udang. Dua hewan laut itu, ia juga tak bisa makan.

“Saya satu-satunya di keluarga yang vegetarian, waktu itu. Sekarang, ibu saya sudah mulai ikut vegetarian juga,” tuturnya.

Godaan yang terbesar datang dari kawan-kawan sekolahnya. Ia duduk di bangku SMA kala itu. Ia dicap aneh oleh kawan-kawannya lantaran suka memilih-milih makanan.

“Tahun 1980-an, tidak banyak orang yang menjadi vegetarian. Di kotaku, nggak ada rumah makan yang menjual makanan-makanan vegetarian,” ujar pria kelahiran Belitung itu.

Namun, karena sudah bertekad menjadi vegetarian, Alvin tidak peduli dengan ejekan itu. Ia memang pemilih. Meski, sebenarnya, ia akan bisa makan di warung makan apapun itu. Ia biasa makan tahu dan tempe.

Tekad menjadi vegetarian itu datang dari ceramah di vihara. Isi ceramah itu terngiang-ngiang di kepala dan ia pun mulai mencoba-coba untuk tidak makan daging.

Selain untuk menjaga kesehatan, tidak mengonsumsi daging juga menjadi wujud cinta sesama. Yaitu, dengan tidak menyakiti makhluk hidup yang lain. Ayam, sapi, domba, ikan, sotong, dan udang adalah makhluk yang patut disayangi.

“Saya masih mengonsumsi telur, tetapi telur yang memang untuk diternakkan. Kalau telur dari hewan yang dilindungi, seperti telur penyu, saya tidak akan makan,” ujarnya.

Alvin memiliki dua orang anak. Anak pertama sudah kuliah semester empat sedang anak kedua masih duduk di bangku SMA. Keduanya juga vegetarian. Bahkan, mereka sudah vegetarian sejak di dalam kandungan. Istri Alvin juga seorang vegetarian.

Di meja makan rumah mereka, tidak pernah sekalipun terhidang masakan olahan daging asli. Semua berasal dari sayur-sayuran dan kacang-kacangan. Anaknya justru ngeri melihat makanan-makanan yang berasal makhluk hidup.

“Dia tidak suka makan di luar, malah. Sukanya makan di rumah,” tutur Alvin.

Menjadi seorang vegetarian banyak manfaatnya. Seperti, tubuh menjadi sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit. Adi yang masih menjalankan pola makan ini selama setahun mengatakan, sejak menjadi vegetarian, tubuhnya menjadi lebih segar. Bangun tidur pun tak lagi malas-malasan.

Satu hal lagi. Ia juga tidak membutuhkan waktu lama untuk pemulihan ketika tubuh terserang penyakit. Ketika demam, misalnya. Sekarang, demamnya sudah bisa turun dalam waktu satu hari.

“Kalau dulu, wah, bisa satu minggu,” ujar Adi.

vegansandwichSalah jika orang mengira vegetarian tidak mempunyai tenaga layaknya orang pemakan daging-dagingan. Chef Cheerful Cafe Vegan, Dedy Setiawan, mengatakan, orang vegetarian juga memiliki tenaga yang sama dengan orang yang bukan vegetarian. Ini hanya soal mengkombinasikan jenis makanan saja.

“Kombinasikan karbohidrat, sayuran dan kacang-kacangan. Karbonya kalau mau lebih sehat lagi pilh yang beras merah,” tutur pria yang pernah menjadi chef di Indonesia Vegetarian Society di Palembang tersebut.

Dedy, namun demikian, bukan seorang vegan. Ia masih berada di tataran vegetarian. Ia beberapa kali masih mengonsumsi telur dan susu. Sebab, ia masih perlu melakukan riset mengolah makanan vegan.

Makanan vegan, katanya, unik, berbeda dari makanan biasa. Di sini, Dedy dituntut kreatif untuk bisa mengolah bahan-bahan vegan menjadi serupa bahan-bahan non vegan. Misalnya, daging ayam palsu, udang palsu, hingga keju palsu.

“Umur 15 tahun saya menjadi vegetarian. Umur 16 tahun saya mulai masak makanan vegan,” ujar pria kelahiran Palembang, 5 Desember 1989 itu.

Semua orang bisa menjadi vegetarian, katanya. Ini sebuah pola makan sehat. Ia pernah melakukan demo kombinasi makanan vegetarian untuk orang-orang sakit di Rumah Sakit Charitas Palembang.

Sayur-sayuran mudah ditemukan di pasar tradisional. Banyak juga supermarket yang menjual sayur-sayuran. Begitu juga kacang-kacangan. Tahu dan tempe juga tidak pernah absen dari lapak-lapak warung di pasar.

Kalau tidak ingin ribet, sudah banyak juga rumah makan-rumah makan khusus vegan di Batam. Jumlahnya ada 40-an lebih. Menjadi vegetarian sudah sangat mudah, sekarang.

Bagi pemula, kata Dedy, dapat dimulai dengan mengurangi konsumsi daging. Dari awalnya, tiga hari sekali makan daging menjadi dua hari sekali. Lalu lambat laun meningkat hingga sehari sekali. Hingga akhirnya sama sekali tidak makan.

“Saya dulu, awal mula menjadi vegetarian seperti itu. Sekarang, rasanya, saya sudah tidak punya minat lagi makan daging ayam atau sapi lagi,” pungkasnya.  (WENNY C PRIHANDINA, Batam)

Respon Anda?

komentar