Kisah Department Store Pertama di Indonesia

631
Pesona Indonesia

srnbatampos.co.id – Tahukan Anda department store pertama di Indonesia? Sarinah Jawabnya.

Presiden Soekarno meletakkan batu pertama pembangunan Sarinah, di Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, 17 Agutus 1962.

Hari itu Bung Karno mengatakan, Sarinah mutlak perlu untuk sosialistische economie. “Tidak ada satu negara sosialis tidak mempunyai satu distrubusi legal, tidak mempunyai departement store.”

Selain sebagai alat distribusi legal, sambung Si Bung, department store juga berfungsi untuk menurunkan dan menekan harga. Istilah Bung Karno, prijs stabilisator!

“Kalau di department store harganya cuma lima puluh rupiah, di luar departement store, orang tidak berani menjual seratus rupiah,” ujarnya.

Artinya, orang tidak akan berani menjual harga lebih tinggi di luar departemen store.

Kepada pejabat BUMN yang nantinya akan mengelola Sarinah, Presiden RI pertama itu mengamanatkan supaya barang yang dijual departement store tersebut, harus barang berdikari. Barang bikinan Indonesia.

“Yang boleh impor hanya 40%. Tidak boleh lebih. 60 % mesti barang kita sendiri. Jual-lah di situ kerupuk udang bikinan sendiri. Jual-lah di situ potlot kita sendiri,” serunya.

Bukan Sembarang Soeharto

Proyek Sarinah masuk dalam agenda pembangunan 10 Juli 1959 dan 6 Maret 1962.

Bung Karno menugaskan R. Soeharto mewujudkan pembangunan Sarinah—diambil dari nama perempuan pengasuh Bung Karno semasa kanak-kanak.

Eits…jangan salah dulu. Ini bukan Soeharto yang kemudian hari menggantikan Soekarno sebagai presiden. Soeharto yang ini Menteri Muda Perindustrian Rakyat yang juga dokter pribadi Soekarno.

Anggaran pembangunan Sarinah dari harta pampasan perang Jepang. “Saya saksi pembangunan Sarinah dari awal sampai akhir,” kata Kirishima, orang Jepang yang mengurus harta pampasan perang, saat jumpa JPNN.com, tempo hari.

Untuk mewujudkan mimpi Soekarno, ditunjuk Abel Sorensen dari Denmark sebagai arsitek.

Bogor, 15 Januari 1966…

Empat tahun paska peletakan batu pertama. Dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora yang dihadiri wartawan dan perwakilan mahasiswa, Bung Karno kembali menegaskan pentingnya Departement Store Sarinah untuk memperkuat tatanan ekonomi sosialis.

Dia lagi-lagi menegaskan, tak ada negeri-negeri sosialis yang tak punya department store.

“Datanglah ke Hanoi, ada. Datanglah ke Peking, ada. Datanglah ke Nanking, ada. Datanglah ke Sanghai, ada. Datanglah ke Moskow, ada. Datanglah ke Budapest, ada. Datanglah ke Praha, ada,” tandas proklamator dengan gayanya yang berapi-api.

“Kalau Sarinah di Thamrin itu sukses, untuk Jakarta saya perintahkan buat tiga lagi. Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur. Another there, my dear friends, another three Department Store Sarinah itu,” katanya penuh harap.

Jakarta, 15 Agustus 1966…

Sarinah diresmikan oleh Bung Karno. Inilah pionir toko serba ada di Indonesia. Ketika itu, sebagaimana ditulis Eka Budianta dalam buku Cakrawala Roosseno, Singapura belum dibangun dan Kuala Lumpur masih rawa-rawa.

Kini, selain Departement Store Sarinah di Thamrin, PT Sarinah (Persero) telah mendirikan dan mengelola Pejaten Village, di Jakarta Selatan, Basuki Rachmat di Malang, Kraton di D.I. Yogyakarta.

Unit bisnis BUMN ini juga merambah bisnis ekspor (furniture, singkong) dan impor (beras, minuman beralkohol, cengkeh, saccharine—pemanis buatan). Di samping itu, PT Sarinah juga menjadi distributor terigu dan gula.

Namun, apakah perkembangan Sarinah sesuai dengan harapan Soekarno? Yakni, sebagai prijs stabilisator! Dan sudahkah ia berfungsi untuk memperkuat ekonomi sosialis? (Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network)

Respon Anda?

komentar