Pasangan Buta, Berjuang Bertahan Hidup

609
Pesona Indonesia

warkaNyoman Warka, 46, warga Banjar Saba, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Bali memiliki keterbatasan penglihatan. Ia menikahi Ni Made Tangen yang juga buta. Keduanya gigih berjuang untuk hidup.

Sebuah ember bekas cat berukuran 20 liter diusung Nyoman Warka. Ember putih tersebut berisi air mineral yang diambil dari sumber mata air di desanya.

Sambil membawa tongkat, Warka yang mata kanannya buta total dan mata kirinya kabur dengan gigih mengantarkan pesanan air itu ke rumah-rumah penduduk di Desa Saba, Blahbatuh.

Air tersebut diperoleh dari sumber mata air yang lokasinya di dekat sawah dengan kedalaman 10 meter.

Namun, pihak desa telah mengangkat air itu dengan sumur bor ke atas tebing, sehingga Warka tidak kesulitan lagi mengambil air turun ke bawah.

“Air yang saya bawa sudah dipesan oleh warga di sini, ada 15 pelanggan yang saya layani,” ujar Warka, di rumahnya yang sudah lapuk.

Meski punya langganan, namun harga air yang diterimanya sebagai upah tidaklah banyak. Hanya Rp 2.000 per ember besar.

“Saya memang tidak mematok harga, sukarela mau ngasih berapa,” terangnya.

Menurut pria kelahiran 1967 ini, rata-rata air yang diambilnya untuk kebutuhan dapur. Diakuinya, setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia selalu berjualan air.

“Saya jualan air pakai ember sejak 1993, sejak saya masih teruna (bujangan, Red), dulu masih harga air Rp 500. Dulu sudah senang sekali saya,” ujar pria yang pandai pidato bahasa Bali itu.

Dia sendiri menjelaskan, untuk mengangkat air menggunakan ember memang perlu banyak tenaga. Dulu, untuk mencapai sumber kelebutan dia kerap membuat jalan setapak untuk akses ke bawah.

“Kadang jalannya rusak karena banyak yang lewat, dan saya perbaiki sendiri, saya ke sana sini minta batu untuk perbaiki jalan ke sumber kelebutan,” tandasnya.

Diakuinya, dulu pesanan air sangat banyak. Tapi, sekarang zaman sudah semakin berubah. Banyak warga di desanya sudah beralih memakai mesin pompa air untuk mengambil air kelebutan itu menggunakan pipa.

“Sekarang pesanan saya sedikit, ini 15 pelanggan. Itu pun tidak semuanya minta air setiap hari. Kadang 5-6 pelanggan,” jelasnya.

Dengan makin minimnya peminat jasa Warka, dia tetap berusaha bertahan hidup. Padahal, Warka yang bertemu dan menikahi istrinya Ni Made Tangen, pada 31 Juni 2010 lalu ini berkeinginan merubah nasib.

Sang istri, Tangen mengaku membantu kebutuhan dapur dengan berjualan canang sari. Meski banyak canang yang dia buat, namun keuntungan bersih yang diperoleh hanya Rp 10 ribu per hari.

“Saya ada yang ajarkan buatkan canang, sekarang setiap hari saya buat canang 300 biji. Karena belum dipotong busung (janur, Red) dan biaya lain, ” ujar Tangen yang mengaku bertemu Warka di sebuah acara tuna netra di salah satu hotel di Denpasar itu.

Beruntung, dari buah perkawinannya, Warka dan Tangen memiliki putra Wayan Widiasa, 5, yang lahir normal. Widiasa pun kadang membantu ayah dan ibunya beraktivitas.

Widiasa yang kini bersekolah di sebuah TK di Gianyar itu juga kerap mengantarkan ayahnya menyeberang jalan saat membawa air. Widiasa sendiri bisa sekolah berkat bantuan warga asing asal Australia.

Sementara itu, untuk perhatian pemerintah, Warka mengaku hanya dibantu beras miskin setiap bulan.

“Kalau bisa minta, saya minta bedah rumah, apakah atapnya atau semua rumah bisa dibantu, karena rumah ini sudah tua,” harap Warka yang tinggal di rumah berukuran 3×6 dengan dapur terbuka itu. (INDRA PRASETIA, Gianyar)

Respon Anda?

komentar