Singapura Bangun Kilang Rp 1,3 Triliun di Batam

1310
Pesona Indonesia

kilangminyakbatampos.co.id – Mega proyek dengan investasi sekitar 98 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,3 Triliun segera dibangun di Batam, tepatnya di Kawasan Industri Terpadu Kabil. Proyek tersebut yakni kilang treated distillate aromatic extract (TDAE) yang akan dibangun investor asal Singapura, PT Enerco RPO International.

Rencana pembangunan kilang ini tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) antara Badan Pengusahaan (BP) Batam dengan PT Enerco RPO Internasional selaku investor dan PT Kabil Citranusa selaku pemilik Kawasan Industri Terpadu Kabil, di Jakarta, Senin (19/9). MoU tersebut ditandatangani oleh ketiga pihak di hadapan Menko Perekonomian Darmin Nasution, kemarin.

“Kami sudah lama sejak dibentuk BP Batam menunggu munculnya investor. Pemerintah ingin mewujudkan Batam menjadi efisien dan kondusif untuk investor. Sudah terlalu lama Batam enggak begitu menarik untuk investor. Dengan upaya yang dilakukan selama 7 bulan terakhir, kami percaya telah sampai jalur yang benar jalur yang cepat,” kata Darmin di kantornya, kemarin.

Kilang yang akan dibangun di atas lahan seluas 2,3 hektare diprediksi akan rampung pada tahun 2017.  Secara geografis, lokasi kilang ini sangat strategis di mana armada tanker akan dipersiapkan langsung dari Batam ke wilayah Indonesia dan negara tujuan ekspor di Singapura, Cina, Korea, Jepang, dan India.

Selain itu, juga akan dipersiapkan sistem logistik untuk mendukung kelancaran distribusi produk TDAE dalam rangka memenuhi kebutuhan industri ban dan karet sintetis di dalam maupun di luar negeri.

Batam dianggap tepat karena lahan dan infrastruktur di dalam Kawasan Industrl Terpadu Kabil memadai.

“Kami persiapkan Batam jadi KEK, special economic zone. Masih banyak masalah yang belum selesai terutama soal pertanahan. Kita harapkan BP Batam bukan hanya mewujudkan Batam menjadi menarik dari sisi infrastruktur,” jelas Darmin.

Kilang TDAE ini dirancang dengan kapasitas produksi lebih dari 100.000 ton TDAE per tahun. Investasi ini menggunakan teknologi berbasis Hak Paten Proses yang dimillki oleh perusahaan swasta nasional bekerjasama dengan salah satu BUMN terkemuka di Indonesia.

Dalam proses pembangunan kilang, PT Enerco bekerjasama dengan beberapa perusahaan engineering dan manufacturing asal Eropa untuk pembangunan kilang TDAE. Selain itu, PT Enerco telah bekerjasama dengan ExxonMobil untuk pasokan bahan baku dari kilang mereka yang berlokasi di Singapura.

“Melalui program Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KILK), BP Batam segera melaksanakan konstruksi pembangunan kilang TDA, sedangkan pengurusan dokumen tetap berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Kepala BP Batam, Hatanto Reksodipoetro, usai penandatanganan MoU, kemarin.

Selain itu, BP Batam juga akan mempersiapkan sistem logistik untuk mendukung kelancaran distribusi produk TDAE dalam rangka memenuhi kebutuhan indstri ban dan karet kilang yang akan segera dibangun. “Proyek ini diyakini akan memberikan kontribusi signifikan dalam menjamin pemenuhan terhadap akan TDAE secara global,” jelasnya.

Kilang TDAE yang berlokasi di Batam ini juga akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia melalui peningkatan substitusi impor serta dukungan terhadap upaya ekspor ban dengan kualitas terbaik.

Sementara Komisaris PT Enerco RPO International, Hendro Sutandi, mengungkapkan memilih membangun kilang TDAE di Batam karena didorong oleh sistem bebas perpajakan yang berlaku di kota industri ini.

“Batam sangat tepat karena dirancang dengan karena faktor tersedianya lahan dan infrastruktur yang memadai di dalam kawasan industri Kabil,” ungkapnya.

Kata Hendro, nota kesepahaman kemarin ditandatangani untuk menjamin kontinyuitas kerjasama produksi TDAE secara jangka panjang. Untuk pemasaran dan distribusinya, pihak investor sudah bekerjasama dengan Sumitomo Corporation Asia & Oceania Pte Ltd.

Kilang TDAE ini akan menjadi yang pertama di Indonesia sekaligus terbesar di kawasan Asia. Kilang ini akan memproduksi minyak proses yang ramah lingkungan dan memenuhi persyararatan kesehatan (non karsinogenik) yaitu Rubber Process Oil (RPO) jenis TDAE yang akan digunakan untuk pembuatan bahan baku ban berstandar internasional.

“Di sejumlah negara maju, jenis RPO yang mengandung senyawa tertentu menyebabkan kanker telah dilarang,” jelasnya.

Bukan hanya itu saja, secara global telah terjadi upaya pengetatan emisi dengan cara penghematan bahan bakar minyak pada kendaraan penumpang yang masih menggunakan jenis dan kualitas ban standar.

“Hal ini telah mendorong tumbuhnya permintaan baru untuk ban berperforma tinggi yang menggunakan karet sintetis jenis terbaru yakni Solution Styrenne Bufadiene Rubber (S-SBR),” jelasnya lagi.

Dijelaskan, S-SBR mampu menghasilkan penghematan bahan bakar kendaraan sekaligus tetap mempertahankan kinerja keselamatan berkendara.

Menurut Hendro, RPO jenis TDAE yang akan diproduksi oleh kilang Enerco mampu meningkatkan kualitas ban terkait faktor keselamatan (safety) dengan memberikan nilai wet grid terbaik pada kompon karet ban. Sekaligus tetap mempertahankan tingkat rolling resistance secara optimal.

“Tingkat rolling resistenace merupakan faktor pendukung untuk upaya penghematan bahan bakar kendaraan,” terang Hendro. (spt/leo)

Respon Anda?

komentar