Terpikat Bunyi Petikan Ghuzeng

468
Pesona Indonesia
Yuli, perempuan pemetik Guzheng atau Kecapi Cina. foto:fatih/batampos
Yuli, perempuan pemetik Guzheng atau Kecapi Cina. foto:fatih/batampos

batampos.co.id – Ada yang menarik pada malam pamungkas helatan perayaan Festival Mooncake Perkumpulan Teo Chew, di Gedung Bapindo Lama Jalan Yusuf Kahar Nomor 3 Tanjungpinang, Sabtu (17/9) lalu. Bukan tentang koleksi barang-barang antik yang dipamerkan. Bukan pula berkenaan pameran foto Tanjungpinang tempo dulu yang disajikan. Melainkan bebunyi alat musik etnis Tionghoa yang diperdengarkan.

Beberapa pengunjung sontak meriung. Mendekat dan melihat langsung aksi Yuli, perempuan pemetik Guzheng atau Kecapi Cina di ruang utama. Jemari lentik mahasiswi asal Tanjungpinang ini berpindah dari satu senar ke senar lain. Menghasilkan bunyi musik khas Tionghoa yang memikat pengunjung untuk lebih mendekat, lebih merapat.

“Pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan alat musik petik kebanyakan seperti gitar,” terang Yuli kepada pengunjung yang meriung di sekitarnya. Untuk membuktikan omongannya, ia pun kemudian membawakan beberapa lagu pop Indonesia melalui alat musik Ghuzeng, yang belum lama ini ditekuninya.

Guzheng mempunyai bentuk seperti kotak yang cembung dan terbuat dari kayu sebagai kotak suara, di atasnya terbentang 21 senar. Di tengah senar tersebut ditempatkan pengganjal yang dapat digeser untuk menaikan atau menurunkan frekuensi nada. Senar-senar tersebut disetel pada nada pentatonis Cina yang terdiri dari nada: do, re, mi, sol dan la.

Sebagai remaja etnis Tionghoa, Yuli menukas, dirinya ingin lebih mengenal kebudayaan leluhurnya. Musik jadi pilihannya. Kini ia terus mengasah kemampuannya memainkan alat musik tradisional lainnya. Sebab itu, 9 November mendatang ia berencana mengisi sebuah acara di Tanjungpinang dengan menampilkan kemampuannya membawakan alat musik tradisional.

“Semoga ada banyak lagi orang yang bisa lebih menyukai alat musik tradisional seperti ini. Karena bunyinya manis sekali bukan,” katanya.

Terpisah, Ketua Perkumpulan Teo Chew Tanjungpinang, Jeni mengatakan, perayaan Festival Mooncake ini dilakukan dengan berbagai acara. Di antaranya melakukan persembahan kepada dewi bulan, makan bersama keluarga, menyaksikan bulan purnama sambil makan kue bulan dan anak-anak bermain lampion bersama.

Pada tahun ini, festival ini hadir dengan memamerkan koleksi berupa foto-foto tempo dulu tentang Kota Tanjungpinang serta barang antik zaman dahulu dan terbuka untuk umum selama tiga hari.

“Sebelumnya setiap tahun kami hanya melakukan pawai lampion saja, tetapi untuk tahun ini kami melakukan Festival Mooncake dengan menggelar pameran foto dan perkakas zaman dulu dan alat-alat musik tradisional,” pungkasnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar