Mantan Operator Alat Berat Ini Ciptakan Bentor Pertama di Bintan

1630
Pesona Indonesia
Rosman sedang mengantarkan anak-anak SDN 001 Kijang yang jadi langganan ojek bentornya ketika melintasi Jalan Seiembat, Kijang, Kecamatan Bintim, Selasa (20/9). Foto: Harry/Batampos
Rosman sedang mengantarkan anak-anak SDN 001 Kijang yang jadi langganan ojek bentornya ketika melintasi Jalan Seiembat, Kijang, Kecamatan Bintim, Selasa (20/9). Foto: Harry/Batampos

batampos.co.id – Rosman, 40, warga Kampung Seidatok, Kijang, menciptakan becak motor (bentor) sebagai alat atau angkutan untuk melayani jasa antar jemput anak sekolahan di Kecamatan Bintan Timur (Bintim), Kabupaten Bintan. Bentor yang diciptakan dari tangan ayah dua anak ini berasal dari penggabungan dua unit angkutan barang bekas. Diantaranya Motor Kawasaki Kaze R yang dibelinya seharga Rp 700 ribu dari penampung barang bekas dan becak mini bekas angkutan barang sembako yang dibelinya seharga Rp 2 juta.

“Saya yang rakit sendiri motor dan becak ini. Jadi bentor ciptaan saya ini hanya satu-satunya yang ada di Bintan,” ujar Rosman ketika sedang menunggu anak-anak sekolahan di SDN 001, Jalan Trikora, Kampung Pisang, Kijang, Kecamatan Bintim, Selasa (20/9).

“Bentor ini saya gunakan untuk antar jemput anak sekolah saja. Tapi kalau ada yang carter untuk jalan-jalan saya layani juga,” tambahnya sambil tersenyum.

Diceritakannya, profesinya dulu sangat menggiurkan yaitu sebagai operator alat berat salah satu pertambangan bauksit terbesar di Kabupaten Bintan. Bahkan dengan hanya menjadi operator saja ia bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 6-8 juta per bulan. Sehingga kehidupnya bersama istrinya, Marni, 43, serta kedua anaknya, Sumilah, 21, dan Juhariyah, 17, penuh dengan kemewahan. Namun kondisi itu tak bertahan lama, lantaran 2013 lalu Pemerintah Pusat membuat aturan tentang larangan ekspor bauksit ke luar negeri sehingga perusahaan pertambangan tempatnya bekerja tutup total.

Dari 2013-2015, lanjutnya, ia bersama keluarganya hidup dengan uang sisa tabungan dari hasil kerjanya itu. Karena uang tabungannya berangsur-angsur menipis, anak pertamanya, Sumilah memilih bekerja ke Malaysia untuk menambah keuangan keluarga dan membiayai adiknya. Kondisi memperihatinkan ini mulai membuatnya putar kepala, dengan keahlian yang dimiliki iapun berkeinginan membuka usaha baru sebagai tukang ojek yang melayani antar jemput anak sekolahan. Dari keinginannya itulah tercipta satu unit bentor yang dihiasi dengan pernak pernik lampu kelap-kelip.

“Sisa tabungan ada Rp 2 juta. Lalu saya gadaikan surat motor Honda Supra untuk mendapatkan uang Rp 3 juta. Dengan uang itu saya beli motor dan becak seken. Kemudian merakitnya sendiri menjadi sebuah bentor. Alat inilah yang digunakan untuk ojek antar jemput anak sekolahan,” bebernya.

Kata dia, dengan hadirnya bentor ini biaya untuk memenuhi kehidupan keluarganya bisa tercukupi. Karena selain mendapatkan 20 pelanggan tetap untuk antar jemput anak-anak sekolahan ia juga melayani jasa keliling Kawasan Bintim. Biasanya wisatawan lokal yang menggunakan jasa keliling bentornya untuk melihat lokasi-lokasi peninggalan sejarah dan tempat rekreasi.

Untuk anak sekolahan, sambungnya, ia hanya memungut Rp 2 ribu untuk sekali antar jemput. Sehingga ia bisa mengantongi pundi-pundi rupiah dari 20 pelanggan tetapnya sebesar Rp 960 ribu perbulan. Sedangkan untuk jasa keliling melihat lokasi-lokasi peninggalan sejarah dan tempat rekreasi hanya dipatok Rp 5 ribu per orang. Sehingga dalam satu bulan ia bisa meraup keuntungan sebesar Rp 1-1,5 juta dari jasa keliling tersebut.

“Kalau dilihat dari hasilnya memang tidak sebanding dengan kerja di tambang bauksit. Tapi saya tetap bersyukur dengan hasil yang diperoleh dari bentor ini, sebab bentor inilah yang menyelamatkan hidupnya dari krisis keuangan,” ungkapnya.

“Hasil bentor ini juga bisa membiayai anak kedua saya nikah. Kalau memang diizinkan oleh Allah SWT, anak kedua saya akan nikah pekan ini juga,” pungkasnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar