Menhan Sebut 23 Simpatisan ISIS Sudah di Indonesia

524
Pesona Indonesia
Menhan RI Ryamizard Ryacudu. Foto: istimewa
Menhan RI Ryamizard Ryacudu. Foto: istimewa

batampos.co.id – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut ada 23 warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi simpatisan kelompok yang meyebut diri ISIS di Timur Tengah (Timteng) yang pulang ke Indonesia. Mereka kini telah berbaur dengan masyarakat.

Ryamizard belum menyebut secara detail identitas 23 WNI tersebut. Ia hanya menegaskan bahwa pemerintah tengah mengawasi secara ketat aktivitas mereka selama berada di Indonesia.

Lebih lanjut, jebolan Akademi Militer (Akmil) 1974 tersebut mengatakan bahwa meski mewaspadai mereka, aparat tidak bisa serta merta menuduh atau menangkap mereka tanpa bukti dan alasan. Karena itu, Ryamizard meminta masyarakat untuk ikut menanggulangi potensi munculnya terorisme di tengah-tengah mereka.

“Makannya bela negara itu penting untuk menangkal itu supaya bangsa ini peka. Kalau dulu satu kali 24 jam harus lapor RT/RW, sekarang kan nggak lagi. Biasanya masyarakat nggak tahu kalau yang sudah tinggal di tempatnya itu teroris,” kata Ryamizard usai melantik para kader bela negara di pos perbatasan Indonesia-Papua Nugini di Desa Skow, Jayapura, Papua, Selasa (20/9/2016).

Sementara itu, Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Wawan Hari Purwanto mengatakan bahwa kepulangan 23 simpatisan ISIS ke tanah air memang sudah terendus sejak lama.

Mengamini pernyataan Ryacudu, Wawan mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan agar pemahaman yang mereka bawa tidak sampai berdampak buruk kepada masyarakat dan negara.

“Jadi selama ini jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang kontraproduktif atau aksi-aksi kekerasan dan sebagainya,” kata Wawan saat dihubungi Jawa Pos (batampos.co.id).

Wawan menjelaskan bahwa kembalinya simpatisan ISIS ke tanah air bukan terjadi kali ini saja. Dia menuturkan sudah beberapa WNI yang menjadi simpatisan ISIS di Timteng telah kembali pulang ke Indonesia, bahkan beberapa di antaranya ditahan aparat karena kasus dugaan terorisme.

Wawan menjelaskan bahwa selain melakukan pengawasan terhadap mereka, pihaknya terus mencoba melakukan upaya deradikalisasi terhadap para simpatisan ISIS tersebut.

“Upaya deradikalisasi itu sudah otomatis dikerjakan. Sepanjang mereka dapat diperbaiki maka wajib diperbaiki,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa tidak semua WNI yang menjadi simpatisan ISIS dianggap berbahaya bagi masyarakat. Itu tergantung kepada peran mereka selama berada di tengah-tengah kelompok ISIS di Timteng.

“Harus diklasifikasikan dulu apakah di sana mereka kombatan atau bukan. Karena ada juga yang cuma datang ke sana tapi cuma di bagian dapur umum atau sebagai kurir. Tapi memang ada juga yang di bagian tempur,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua BNPT Suhardi Alius mengatakan bahwa WNI yang menjadi simpatisan ISIS di Timteng berjumlah lebih dari 500 orang. Sebagian di antaranya sudah kembali ke tanah air.

Terkait hal tersebut, Wawan menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hitungan kasar.

“Masih ada angka gelap lagi yang belum terpantau.┬áTapi upaya-upaya perbaikan terus dilakukan agar bagaimana caranya mereka dapat kembali ke pangkuan ibu pertiwi,” imbuhnya. (dod/jpgrup)

Respon Anda?

komentar