Disemprot Uni Eropa Soal Death Squad, Duterte: Persetan dengan Anda Semua

601
Pesona Indonesia
duterte
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Foto: istimewa/www.news.com.au

batampos.co.id -Kalau ada pertanyaan, siapakah presiden paling pemberani di ASEAN? Jawababnnya sudah pasti Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Meski baru lebih dari satu bulan menjabat, Duterte memang langsung menyatakan perang terhadap narkoba. Tidak ada ampun, ia langsung membentuk tim khusus yang disebut Davao Death Squad (DDS), yang khusus menghabisi pelaku kejahatan narkoba.

Tak heran, dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, disebut-sebut sudah lebih dari 3.000 penjahat narkoba meregang nyawa.

Nah, kebijakan Duterte ini menjadi sorotan dunia. Setelah Amerika, kini giliran Uni Eropa (UE) yang mengecam kebijakan Duterte itu. Namun bukan Duterte namanya jika tidak membalas kecaman itu.

”Saya katakan kepada mereka: ‘Persetan dengan Anda semua,”’ ujar Duterte di hadapan para pejabat Pemerintah Kota Davao pada Selasa malam (20/9).

Sambil mengumpat, presiden berjuluk The Punisher tersebut juga memamerkan jari tengahnya. Dalam hitungan detik, gambar yang terekam kamera media itu langsung beredar luas lewat internet. Sekali lagi, Duterte menuai sensasi.

Bapak empat anak tersebut menuduh parlemen UE sengaja mengecam perang antinarkoba yang dirinya canangkan di Filipina sebagai bentuk penebusan dosa. Sebab, menurut Duterte parlemen UE punya banyak sekali dosa. Karena itu, dia akan melanjutkan program perang antinarkoba yang masa berlakunya baru saja diperpanjang menjadi setahun tersebut.

Parlemen UE mengecam Duterte yang mengakibatkan banyak nyawa warga Filipina melayang sia-sia. Dalam sekitar tiga bulan masa jabatannya, dia telah ”menewaskan” sekitar 3.000 orang. Sebagian besar di antaranya justru menemui ajal di tangan death squad. ”Kami menyayangkan aksi main hakim sendiri dan eksekusi yang saat ini berlangsung di Filipina,” tutur parlemen UE pekan lalu.

Lewat surat resminya, UE meminta Duterte menghentikan aksi yang mereka klaim setara genosida tersebut. Dia juga ha­rus menyeret para pembunuh ke meja hijau. ”Mereka berkata muluk-muluk hanya untuk mengusir rasa bersalahnya. Se­bab, siapa yang saya bunuh? Andai saja (pembunuhan, Red) itu benar, siapa mereka yang saya bunuh? Kriminal kan. Dan, Anda menyebutnya genosida,” ungkapnya. (AFP/BBC/hep/c14/any) 

Respon Anda?

komentar