Guru Jadi Kunci Sukses Full Day School

540
Pesona Indonesia
Suasana pendidikan di SDIT Almadinah Tanjungpinang yang menerapkan sistem Full Day Scholl, Rabu (20/9) Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.
Suasana pendidikan di SDIT Almadinah Tanjungpinang yang menerapkan sistem Full Day Scholl, Rabu (20/9) Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.

batampos.co.id –Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum membakukan secara paten formula penerapan sistem full day school (FDS). Kendati begitu wacana penerapan FDS di beberapa provinsi pilihan yang nantinya dijadikan sebagai proyek percontohan tetap berjalan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Almadinah Tanjungpinang, Dandan Mardiana menilai, tanpa sebuah formula terpadu yang merupakan hasil kajian pakar pendidikan, agak sulit menerapkan FDS secara menyeluruh. “Karena formula itu yang nanti jadi acuan guru di sekolah,” ungkapnya ditemui Batam koran Pos, di ruang kerjanya, Rabu (21/9).

Selama dua tahun memimpin sekolah dasar yang menerapkan sistem FDS, Dandan tanpa ragu menyebutkan bahwasanya guru adalah kunci sukses di balik penerapan FDS. Guru-guru yang andal mampu membuat siswa merasa betah selama berada di sekolah. Sehingga kendati dipulangkan sore hari, siswa masih tetap punya semangat belajar.

“Guru-guru ini yang terus-menerus memancing minat siswa untuk semangat bersekolah. Itulah yang ada di sekolah kami, sehingga angka absensi siswa di sini rendah sekali,” ucap Dandan.

Ketersediaan sarana dan prasarana memadai, sambung Dandan, bukan apa-apa tanpa guru-guru yang benar-benar siap secara fisik dan mental untuk mendidik dalam sistem FDS. Kata Dandan, sarana penunjang FDS semisal ruang ibadah, taman bermain, dan laboratorium itu penting. “Tapi kualitas SDM di masing-masing sekolah tetap harus diperhatikan. Sarana itu kan benda mati. SDM ini motor yang menggerakkannya,” ungkapnya.

Bukti bahwasanya guru menjadi kunci sukses FDS, kata Dandan, bisa ditilik dari proses belajar-mengajar setelah istirahat tengah hari. Ketika stamina dan fokus anak-anak mulai menurun, guru dalam kelas adalah orang yang harus paling tahu cara membangkitkan gairah belajar peserta didiknya. “Guru FDS tidak sekadar hanya bisa mengajar, tapi juga harus kreatif dalam melakukan pendekatan pedagogis ke peserta didiknya,” tambah Dandan.

Penerapan FDS memang bukan hal yang baru. Ada banyak sekolah swasta yang sudah sejak jauh hari memberlakukannya sebagai daya tarik sekaligus pembeda dengan sekolah negeri. Umumnya jam masuk siswa setiap pagi sama. Hanya jam pulangnya saja yang lebih lambat. Ditambah lagi dengan penambahan materi ajar di luar kurikulum utama terbitan dinas pendidikan.

Di SDIT Almadinah, materi tambahan itu berupa sempalan dari pendidikan agama Islam. Di antaranya adalah kemampuan berbahasa Arab dan hapalan surat-surat pendek Alquran. Rupanya penambahan ini dilihat oleh wali murid bukan sebagai beban. Tapi malah sebagai tambahan pendidikan bagi anak-anaknya.

Diakui Luki Zaiman Prawira, orang tua yang menyekolahkan dua putranya di sekolah berbasis FDS. “Saya malah beruntung bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah FDS. Apalagi ada tambahan pelajaran agamanya. Sehingga anak-anak saya itu sekali dayung dua pulau terlampaui,” kata Luki.

Selama bertahun-tahun sepasang putranya mengenyam pendidikan di sekolah berbasis FDS, kisah Luki, tak satu pun dari anaknya mengeluh keletihan dari kegiatan di sekolah. “Saya tidak bebankan anak-anak saya dengan les tambahan lain di luar sekolah,” kata Luki.

Dengan begitu, setiap akhir pekan, anak-anaknya masih dapat bermain bersama teman-temannya dan berkumpul bersama keluarganya, laiknya anak-anak di sekolah lain. “Yang pasti, saya selalu berikan porsi bermain juga yang cukup buat anak-anak. Sehingga mereka tidak jenuh dengan urusan sekolah,” pungkasnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar