Budaya Membaca Indonesia Kalah dari Vietnam, Gerakan Nasional Literasi Digalakkan

644
Pesona Indonesia
Para siswa peserta Gerakan Literasi yang ditaja Kantor Bahasa Kepri di SDIT Almadinah Tanjungpinang, Kamis (22/9). Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.
Para siswa peserta Gerakan Nasional Literasi yang ditaja Kantor Bahasa Kepri di SDIT Almadinah Tanjungpinang, Kamis (22/9). Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.

batampos.co.id – Membaca sebagai bagian dari budaya literasi belum jadi aktivitas melekat bagi siswa di sekolah. Keberadaan perpustakaan dan buku-buku bacaan bukan jaminan tingginya minat membaca. Sebab itu masih dirasa perlu kegiatan-kegiatan inovatif lagi menarik untuk kian memancing minat baca siswa.

Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau membaca kebutuhan itu. Selama pertengahan September ini, digelar Gerakan Nasional Literasi Bangsa (GNLB) di 10 sekolah dasar yang ada di Tanjungpinang selama dua hari. Sasaran yang ingin dicapai tidak main-main. Ditargetkan ada 1.500 siswa yang terlibat langsung dengan kegiatan literasi ini.

Kepala Kantor Bahasa Kepri, Dwi Sutana menjelaskan, kegiatan GNLB ini bertujuan untuk kian mendekatkan anak pada budaya literasi. Utamanya membaca sebagai pokok dari kegiatan literasi. “Kami membentuk tim dan sejumlah fasilitator dari berbagai kalangan untuk mengajak siswa lebih gemar membaca,” ujar Dwi, kemarin.

Kegiatan ini menjadi penting untuk dilaksanakan bila mengacu pada penelitian yang dilansir PISA (Programme for International Student Assessment). Dinyatakan dalam penelitian tahun 2012 silam itu bahwasanya budaya literasi masyarakat Indonesia menduduki peringkat ke-64 atau dua terburuk dari bawah. Bahkan untuk sejajar dengan Vietnam lumayan jauh panggang dari api. Negara yang pernah dilanda perang hebat dekade 1960-an silam itu kini berada di peringkat 20 besar.

Soal minat membaca lebih pelik lagi. Data statistik UNESCO di tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia cuma 0,001. Ini berarti bahwa hanya ada satu orang yang memiliki minat baca dari seribu orang di Indonesia.

Angka-angka yang tidak menyenangkan ini yang kemudian jadi pemantik semangat tim dari Kantor Bahasa Provinsi Kepri. Melalui pendekatan cerita rakyat, ribuan siswa di masing-masing sekolah diajak agar bisa lebih menikmati kegiatan membaca sebagai sebuah aktivitas sehari-hari. Yang tidak sekadar menghibur, juga mampu memberi banyak manfaat.

“Karena dalam memupuk budaya literasi, yang paling pertama harus dibenahi adalah motivasi. Fasilitator kami di tiap-tiap sekolah punya kewajiban itu. Menumbuhkan motivasi dan minat baca anak,” terang Dwi.

Kamis (22/9) kemarin, GNLB dilangsungkan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Almadinah Tanjungpinang. Di sekolah yang menerapkan sistem full day school itu, kegiatan dilangsungkan selama dua jam. Setelah sehari sebelumnya, siswa diajak membaca cerita rakyat Legenda Pulau Senua, di hari kedua, mereka diminta mengapresiasi hasil bacaan. Ada yang bermain peran sebagai wujud konversi teks, ada pula yang mengajak mereka menulis ulang cerita yang sudah dibaca.

“Anak-anak ini punya minat baca yang luar biasa. Hanya kurang dibiasakan saja,” sebut Al Mukhlis, salah seorang fasilitator GNLB.

Sementara itu, Kepala SDIT Almadinah, Dandan Mardiana mengapresiasi kegiatan kreatif guna mengerek minat baca siswanya. Ia berharap kegiatan serupa lebih sering digelar agar minat baca siswa tetap terjaga. Tentu saja hal semacam ini, kata dia, juga sangat membantu dan berdaya tepat guna dalam membangun kualitas generasi muda yang cinta baca.

“Jangan setahun sekalilah. Beberapa bulan sekali tentu akan lebih tepat,” ungkapnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar