Kapolri Janji Pidanakan Penyidikinya yang Peras Tersangka

1020
Pesona Indonesia
Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Foto: Tom Heneghan/reuters
Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Foto: Tom Heneghan/reuters

batampos.co.id – Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian bertekad membersihkan semua polda, polres, dan polsek di Indonesia dari penyidik yang suka memeras tersangka dan memainkan barang bukti, terutama dalam kasus narkoba. Aksi bersih-bersih ini akan berlangsung seterusnya agar citra polisi membaik di mata publik.

”33 Polda dan semua polresnya harus memperbaiki diri dan meningkatkan kinerja,” ungkap Tito.

Hal itu disampaikan Kapolri menyusul ditangkapnya Direktur Narkoba Polda Bali karena memeras tersangka. Untuk satu kasus kecil, ia diduga meminta uang Rp 100 juta.

Jenderal Tito mengatakan, sebenarnya semenjak diinstruksikan untuk setiap polda perang terhadap narkotika, Divisi Profesi dan Pengamanan Internal (Divpropam) juga diinstruksikan mengawasi dengan ketat.

”Saya minta secara diam-diam untuk monitoring, mana saja yang main-main sama narkotika,” jelasnya.

Bahkan, Mantan Kapolda Metro Jaya tersebut mengaku meminta Divpropam untuk langsung menangkap siapapun oknum yang bermain dalam kasus narkotika.

”Saya pastikan kalau polda, polres, dan polsek tidak berprestasi dalam kasus narkotika silakan minggir,” tegasnya.

Anggota Komisi Kepolisian Nasional, Poengky Indarti, menuturkan bahwa perhatian masyarakat yang begitu besar atas pengungkapan pemerasan yang dilakukan oknum kepolisian ini tentunya akan berdampak besar. Terutama, pada citra dan kinerja kepolisian.

”Dampaknya akan positif dan menunjukkan profesionalitas Polri,” paparnya.

Sebenarnya, oknum-oknum yang koruptif itulah yang selama ini mengorbankan institusinya. Mereka membuat nama Polri tercoreng di mata masyarakat.

”Maka, tidak ada gunanya oknum semacam itu dilindungi,” jelasnya.

Senin (19/9/2016) lalu, Divisi Propam Mabes Polri menangkap Direktur Reserse Narkoba Polda Bali, Kombes Franky Haryadi Parapat, karena terlibat kasus pemotongan anggaran DIPA 2016 dengan barang bukti uang Rp 50 juta.

Selain itu, Kombes Franky juga terlibat  pemerasan 7 kasus narkoba di bawah 0.5 gram. Di mana tiap-tiap tersangka dimintai uang Rp 100 juta. Satu tersangka asal Belanda bahkan dimintai satu buah mobil Toyota Fortuner edisi terbaru. Dalam penangkapan tersebut, tim Propam mengamankan sejumlah barang bukti.

Kasus inilah membuat Kapolri bertekad membersihkan semua penyidik yang sering main kasus.

Kemarin, Kapolda Bali mencopot Franky dari jabatannya. Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menuturkan bahwa pencopotan jabatan pada Direktur Reserse Narkoba Polda Bali itu dilakukan Kapolda Bali Irjen Sugeng Priyanto.

”Kapolda memang punya kewenangan, tapi nanti tetap harus izin pada Kapolri,” tuturnya.

Terkait status dari Franky juga akan segera dipastikan. Bisa jadi, dia akan menjadi tersangka atas kasus dugaan pemangkasan DIPA 2016 dan pemerasan tujuh kasus narkotika yang setiap kasusnya dimintai Rp 100 juta.

”Bisa saja nanti, tapi sekarang masih terperiksa ya,” jelasnya.

Tidak hanya Franky, bawahannya juga akan diperiksa keterkaitannya dengan kasus tersebut. Boy menjelaskan, kalau terhubung tentu akan didalami apakah ikut terlibat atau tidak.

”Tapi, kalau tidak ada keterlibatan tentunya Polri hanya perlu untuk memberikan dorongan lebih agar berprestasi,” tuturnya. (jpgrup)

Respon Anda?

komentar