Musalahnya Roboh, Warga Suku Laut Kesulitan Salat Berjamaah

1394
Pesona Indonesia
Warga Suku Laut Pulau Mensemut. foto: Nondo untuk Batam Pos
Warga Suku Laut Pulau Mensemut. foto: Nondo untuk Batam Pos

batampos.co.id – Warga Pulau Mensemut, Desa Penaah, Kecamatan Senayang, mengharapkan adanya tempat ibadah. Sejak robohnya musalah akibat angin ribut warga tidak bisa lagi melaksanakan salat berjamaah.

Pemukiman warga di pulau kecil yang berbatasan langsung dengan Selat Karimata dan Laut Cina Selatan ini, sedikitnya didiami 17 kepala keluarga (KK) Suku Laut. Meski terkenal rawan bencana dan jauh dari desa induk, warga yang telah hidup turun menurun di pulau tersebut enggan pindah ke pulau lain yang lebih aman. Ketergantungan akan alam dan hasil laut yang melimpah menjadi alasan warga.

Jarak tempuh untuk mencapai pulau tersebut dari Pulau Pena’ah memakan waktu satu hingga dua jam menggunakan pompong. Sayangnya ketika musim selatan, pulau ini sulit dijangkau akibat angin yang kencang.

Ketua RT 04 di Pulau Mensemut, Rusman, mengatakan beberapa waktu lalu, tempat ibadah yang dibangun warga roboh diterjang angin. Akibatnya warga kesulitan untuk melakukan salat berjamaah. Apa lagi di ketika hari raya Idul Adha baru-baru ini.

“Kemarin musalah yang dibangun roboh. Sekarang tidak ada lagi. Kami sekarang jarang salat berjamaah. Paling salat di rumah aja,” ungkap Rusman.

Dituturkan Rusman, sejak masih kecil ia sudah menetap di Mensemut. Semua warga Suku Laut yang mendiami Mensemut dikatakan Rusman telah memeluk islam.

“Di sini sudah memeluk Islam. Jadi kami memang merindukan tempat ibadah dan musalah. Juga tempat belajar agama anak-anak kami,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Penaah, Abang Marwan mengatakan, terkait keinginan warga memiliki bangunan tempat ibadah, telah ia sampaikan kepada pemerintah setempat. Hal tersebut, agar BPBD Lingga dapat membantu rehab musalah yang roboh.

“Namun, ketika diusulkan, justru pemerintah inginkan warga pindah ke pulau lain. Ini kan tidak mungkin, ” imbuhnya.

Diakuinya Marwan, letak geografis Mensemut sulit dijangkau. Bahkan, sejak menjadi Kades, ia baru dua kali mengunjungi pulau tersebut. Untuk memindahkan warga, kata Marwan, bukan perkara mudah. Apalagi warga telah tinggal turun menurun di pulau tersebut sebagai salah satu tempat pengahil laut yang baik. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar