Reklamasi di Tanjunguncang Berlanjut, Warga Panen Debu

1792
Pesona Indonesia
Aktifitas reklamasi di belakang Perumahan Glory, Tanjunguncang, Jumat (23/9). Foto: Eusebius Sara/ Batam Pos
Aktifitas reklamasi di belakang Perumahan Glory, Tanjunguncang, Jumat (23/9). Foto: Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos.co.id – Aktifitas reklamasi di belakang Perumahan Glori, Tanjunguncang terus berjalan sampai saat ini. Padahal lokasi reklamasi tersebut merupakan satu dari 14 titik lokasi reklamasi yang dihentikan oleh pemerintah untuk sementara waktu, belum lama ini.

Warga di sekitar kembali mempertanyakan ketegasan pemerintah atas instruksi penghentian sementara aktifitas reklamasi itu, sebab akibat berlanjutnya aktifitas reklamasi itu warga yang bermukim di sekitarnya diterpa badai debu setiap saat. Dan yang lebih parah lagi perairan di sekitar kawasan Marina yang menjadi alur berlayar kapal jadi semakin sempit dan dangkal.

“Itulah tak jelas pemerintah ini. Hanya keluar larangan saja, tapi pengawasan tidak ada. Kegiatan (reklamasi) ini berjalan terus kok sejak awal seolah tak ada larangan apapun, kami warga di sini selalu panen debu,” ujar Safrizal, salah seorang warga di dekat lokasi reklamasi tersebut.

Warga setempat sudah berulang kali melakukan aksi protes, namun tidak digubris pihak yang melakukan reklamasi.

“Yang kami protes itu debu yang berterbangan dari lokasi reklamasi itu. Kayak badai debu sampai ke perumahan Marina Garden.

Aksi protes yang sama juga datang dari warga yang berdiam di sekitaran pantai Marina termasuk terminal Ferry di Marina. Akibat reklamasi itu alur pelayaran di lokasi reklamasi jadi sempit dan dangkal. Tanah perbukitan yang dipotong dan dibuang ke laut menyebabkan laut semakin dangkal dari waktu ke waktu.

“Lumpur tanah yang ditimbun itu terbawa sampai ke sini, makanya alur laut jadi dangkal dan sempit,” kata Hendro salah seorang warga di kawasan Marina.

Jika saja aktifitas reklamasi itu tak segera ditindak lanjuti, warga khawatir perairan Marina dan sekitarnya akan tertutup selamanya. Padahal perairan tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran baik untuk kapal ferry, kapal-kapal yang dok ke indusri galangan kapal atau pun kapal nelayan lainnya.

Pantauan di lapangan, siang kemarin (23/9), aktifitas reklamasi yang dikeluhkan warga itu masih berjalan sebagaimana mestinya. Dua alat berat bersama sejumlah truk pengangkut tanah tampak hilir mudik di lokasi reklamasi itu.

Alat berat meratakan tanah perbukitan dekat kawasan PT Book Seng dan truk-truk mengangkut tanah tersebut untuk ditimbun ke laut yang bersebrangan dengan terminal Ferry Marina.

Seorang pekerja saat dikonfirmasi mengaku hanya menjalankan tugasnya sebagai pekerja saja. Sementara bagaimana prosedur reklamasi itu sepenuhnya tanggung jawab pihak pengelola.

“Yang koordinatornya pak Ace. Ke dia saja pak tanyanya,” ujar pekerja pria tersebut.

Sementara Ace sendiri saat dikonfirmasi via telepon mengaku tak tahu menahu lagi dengan kegiatan reklamasi itu.

“Bukan saya lagi penanggung jawabnya pak,” ujar Ace singkat. (eja)

Respon Anda?

komentar