Ekonomi Masyarakat Singkep Lesu, Berharap pada Pertanian

530
Pesona Indonesia
Menteri Pertanian Andi Amran saat turun menyemai padi di persawahan Lingga. Foto: hasbi/batampos
Menteri Pertanian Andi Amran saat turun menyemai padi di persawahan Lingga. Foto: hasbi/batampos

batampos.co.id – Camat Singkep Selatan Muhammad Saman mengkhawatirkan kemerosotan perekonomian warganya. Hal ini disebabkan tidak adanya geliat perusahaan dan sektor industri yang menjadi tonggak pertumbuhan perekonomian di kecamatan yang berpenghuni 2.500 Kepala Keluarga (KK) itu.

“Masyarakat kami rata-rata berprofesi sebagai nelayan dan sedikit bertani. Jika musim barat datang seperti sekarang ini mereka tidak dapat mencari ikan ke laut,” kata Saman ketika ditemui di Dabo Singkep, Minggu (25/9) pagi.

Kecamatan yang membawahi tiga desa yakni, Desa Marok Kecil, Desa Resang dan Desa Berhala, ini dalam kondisi mengkhawatirkan. Terlebih, aktifitas yang biasa dilakoni masyarakat ketika tidak melaut seperti menebang kayu di hutan sudah tidak dapat dilakukan mereka lagi karena berbenturan dengan hukum.

Namun Saman mengaku mendapat angin segar dengan pembukaan lahan sawah yang bekerjasama dengan Pemkab Lingga dan TNI AD. Sedangkan pekerja yang mengolah lahan persawahan tersebut akan dilakukan oleh masing-masing KK warga Kecamatan Singkep Selatan yang bersangkutan dengan lahan tersebut.

“Rencananya TNI AD dan alat berat akan turun dalam pekan ini. Target 75 hari kerja selesai pemetakan sawah,” ujar Saman.

Camat berawakan kecil ini menurutkan, telah menyediakan lahan untuk persawahan nantinya seluas 255 hektare berlokasi di Menserai, Dusun II, Desa Resang. Sedangkan di Desa Marok Kecil, tepatnya di Langkap, Dusun I, akan disiapkan seluas 480 hektare.

Saman sangat berharap dengan proyek persawahan ini karena dapat menjadi penghasilan yang baik bagi masyarakatnya. Terlebih, sebagian masyarakat di daerah yang dipimpinnya telah melakukan pertanian padi namun masih dalam skala kecil.

Masalah yang masih perlu diatasi, menurut Saman adalah belum adanya alat penggeling padi. Jika warganya hendak menggiling padi di Lingga tentunya memakan biaya yang cukup tinggi karena jarak yang cukup jauh.

“Bayangkan saja kalau dari tempat kami, harus lewat darat, lalu melintas laut dan harus menempuh jalan darat lagi. Berat diongkos,” kata Saman.

Sehingga warga yang bertani padi, saat ini lebih banyak membawa hasil panen mereka untuk di jual ke Jambi. Selain itu, Saman juga berharap pemerintah dapat men-suport warganya yang bertani dalam bidang penyediaan pupuk murah sekaligus penyediaan hilir hasil panen nantinya. (wsa/bpos)

Respon Anda?

komentar