Korban Kapal Tenggelam Ditemukan Tewas, Satu Masih Hilang

684
Pesona Indonesia
Kasat Polair Polres Karimun, Iptu Sahata Sitorus bersama anggotanya mengevakuasi jenazah Cia Kang, nelayan korban kapal tenggelam. foto;sandi/batampos
Kasat Polair Polres Karimun, Iptu Sahata Sitorus bersama anggotanya mengevakuasi jenazah Cia Kang, nelayan korban kapal tenggelam. foto;sandi/batampos

batampos.co.id – Cia Kang, 12, nelayan yang tenggelam dan hilang bersama ayahnya, Acai Belang, pada Rabu (21/9), di perairan Pulau Pisang dan Takong Hiu, ditemukan oleh nelayan lainnya dalam kondisi telah tewas, Minggu (25/9) pukul 06.00 WIB.

”Kita mendapatkan laporan dari pihak keluarga bahwa ada mayat yang ditemukan nelayan di perairan Boya Takong. Kemudian, kita langsung menindaklanjuti laporan tersebut untuk melakukan penjemputan menggunakan kapal patroli Satpolair. Sementara itu, pihak keluarga, khususnya Cia Cong, salah seorang korban yang selamat diminta untuk menunggu di pelabuhan rakyat Sri Tanjung Gelam,” ujar Kasat Polair Polres Karaimun, Iptu Sahata Sitorus koran kepada Batam Pos.

Pada saat kapal merapat di pelabuhan rakyat, katanya, polisi meminta kepada Cia Cong untuk melakukan pengecekan apakah mayat yang ditemukan tersebut adalah keluarganya. Hal ini mengingat, kondisi mayat yang ditemukan sudah sulit dikenali. Khususnya, pada bagian kepala dan wajah sudah terlihat tengkoraknya. Namun, Cia Cong dapat mengenali pakaian yang digunakan bahwa mayat tersebut adalah Cia Kang.

”Cia Cong menyebutkan bahwa itu benar-benar Cia Kang yang juga sekaligus adalah adiknya dikenali lewat celana berwarna merah yang masih melekat pada mayat. Sedangkan, pakain memang tidak ada. Dengan telah dipastikan mayat tersebut adalah korban nelayan kapal tenggelam, maka tinggal satu korban lagi yang belum ditemukan. Kami bersama Basarnas dan Lanal Tanjungbalai Karimun masih atetap melakukan pencarian,” paparnya.

Cia Cong yang ditemui koran Batam Pos di pelabuhan rakyat Sri Tanjung Gelam menyatakan, memang benar kalau mayat itu adalah adik saya. ”Salah satu ciri-cirinya adalah celana warna merah yang masih dipakai. Karena, celana itu digunakan pada saat sebelum peristiwa kapal kami tenggelam. Dan, pada saat kejadian saya tidak tahu persis, karena sedang tidur. Hanya saja, saya mendengar bapak dan adik teriak kapal dihantam gelombang. Lantas, pada saat kapal tenggelam saya bersama dengan adik dan bapak memegang pelampung jaring untuk mengapung,” ungkapnya. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar