Penyelundupan di Batam Meningkat Drastis, Berikut Modus-modus Yang Sering Digunakan

900
Pesona Indonesia
MV Tourmaline yang diduga melakukan transaksi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar secara ilegal di perairan Tanjungpinggir Batam, Kamis (14/4). foto:ist
ilustrasi. foto:ist

batampos.co.id – Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai (BC) Tipe B Batam mencatat peningkatan drastis pada kasus penyelundupan. Hingga pertengahan bulan September 2016, BC telah menindak 241 kasus penyelundupan.

Padahal tahun 2015, BC hanya menindak 182 kasus penyelundupan. Diantaranya, penyelundupan handphone, beras, gula, minuman mengandung etil alkohol (MMEA), serta narkotika.

Kepala Seksi Penindakan KPU BC Batam, Slamet Pramono mengatakan meningkatnya kasus penyelundupan ini disebabkan murahnya harga barang. Selain itu adanya keterbatasan kuota barang.

“Handphone dan laptop harganya jauh murah di Batam dan yang paling sering kita temukan (tangkap). Sehingga menjadi daya tarik penyelundup,” ujar Slamet.

Slamet menjelaskan mayoritas transaksi penyelundupan ini dilakukan di wilayah perairan OPL (out of port limit). Modusnya yaitu penyelundupan dilakukan pukul 00.00-04.00 WIB antara ship to ship (kapal ke kapal) untuk barang seperti beras, dan gula.

Sedangkan, modus penyelundupan handphone serta narkotika mayoritas dilakukan antara kapal menuju speedboat. “Pada saat penyelundupan itu, untuk mengelabui petugas seluruh lampu kapal dimatikan,” terangnya.

Menurutnya, para penyelundup tersebut memiliki alat khusus untuk mendeteksi keberadaan petugas. Ditambah dengan speedboat dengan kecepatan tinggi.

“Penyelundup itu juga memiliki pelacak dan dengan kecepatan tinggi. Jika mereka mendeteksi ada petugas, mereka memilih jalur lain,” tuturnya.

Dia menambahkan dari ratusan kasus yang ditangani, seluruh nahkoda maupun anak buah kapal (ABK) tak mengakui pemilik barang ilegal tersebut.

“Mereka (nahkoda) pasang badan. Dan kasusnya selalu kita proses,” tuturnya.

Slamet mengatakan dalam penindakan kasus penyelundupan ini, pihaknya terkendala jumlah personil dan alat patroli. Dimana, BC hanya memiliki 35 petugas penindakan serta 3 kapal patroli.

“Sementara jalur maupun lokasinya (pelabuhan tikus) sangat banyak. Jadi pengawasan jadi minim,” keluhnya.

Sementara itu, Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) IV Lajaamana Pertama (P) TNI, S. Irawan mengaku geram dengan ulah para pelaku penyelundupan. Sebab, dalam sebulan terakhir pihaknya telah menindak 7 penyelundupan di perairan Kepri.

Para tersangka yang ditangkap tersebut kerap memberikan perlawanan kepada petugas. Seperti melarikan diri dan membuang barang bukti ke laut.

“Saya sudah instruksikan, kalau kejahatan di laut dan kekerasan di laut akan tembak di tempat,” tegas Irawan di Mako Lanal Batam, Batuampar, pekan lalu.

Dia menegaskan kepada seluruh pelaku yang berniat melancarkan aksi penyelundupan untuk menghentikan niatnya. Sebab, pihaknya sudah menjaga ketat seluruh jalur penyelundupan tersebut.

“Saya menghimbau pelaku kejahatan untuk menghentikan niatnya,” katanya.

Irawan mengatakan pemberantasan penyelundupan tersebut merupakan atensi utama Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL). Sebab, Kepri yang berbatasan dengan negara tetangga menjadi lokasi utama tujuan barang selundupan.

“Kita bersama stackholder lainnya sudah kompak untuk memberantas penyelundupan ini. Jadi jangan coba-coba,” tegasnya lagi. (opi/koran bp)

Respon Anda?

komentar