Pertamina Targetkan 2 Juta Barel BBM per Hari

496
Pesona Indonesia

batampos.co.id –  Langkah pemerintah merevisi PP 79/2010 yang mengatur cost recovery didukung oleh PT Total E&P Indonesie. Perubahan peraturan tersebut diharapkan membuat investasi migas lebih bergairah.

’’Langkah pemerintah memperlihatkan keseriusan dan kepedulian terhadap masalah yang dihadapi industri migas selama ini,’’ ujar Presiden dan GM Total EP Indonesie Hardy Purnomo kemarin (25/9).

Pemerintah menyatakan siap berbagi beban dan keuntungan dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang menjadi ujung tombak bisnis migas.

Anjloknya harga minyak memang membuat bisnis hulu migas di Indonesia sempat goyah. Kegiatan ekplorasi menurun.

Data dari Ditjen Migas malah sempat menunjukkan bahwa banyak wilayah kerja (WK) yang tidak laku dilelang.

Kondisi itu membuat berbagai perusahaan migas melakukan penghematan untuk bertahan.

Head Department Media Relations Total E&P Indonesie Kristanto Hartadi mengatakan, banyak usaha migas yang melakukan efisiensi, termasuk pihaknya.

Dia menyebut efisiensi dilakukan sejak 2014 di seluruh grup. Jadi, sudah ada budaya berhemat.

’’Tapi, semua itu dilakukan tanpa mengurangi safety. Pokoknya tidak boleh mengurangi keselamatan,’’ jelasnya.

Tahun lalu, Total bisa melakukan efisiensi sampai USD 300 juta. Kini juga ada upaya serupa. Namun, dia menuturkan lupa angka pastinya.

Yang jelas, dari 3.200 pekerja Total EP Indonesie, tidak ada pengurangan karyawan.

Kecuali yang kontraknya habis dan tidak diperpanjang atau pensiun. ’’Pengurangannya alamiah saja,’’ tuturnya.

Secara terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro belum mau banyak bicara mengenai revisi PP 79/2010 tersebut.

Sebab, hingga kini revisi itu belum diresmikan Presiden Joko Widodo.

Namun, dia memastikan Pertamina sebagai wakil negara tidak pernah kehilangan semangat soal anjloknya harga minyak maupun aturan cost recovery saat melakukan eksplorasi maupun produksi.

’’Kalau di kita enggak pernah ada penurunan produksi atau eksplorasi. Semuanya harus naik,’’ katanya.

Pertamina sudah mempunyai rencana jangka panjang terkait bisnis hulu migasnya. Salah satunya bisa meningkatkan produksi bahan bakar minyak (BBM) sampai dua juta barel per hari pada 2025.

Saat ini BUMN energi itu baru bisa memproduksi 600 ribu barel per hari. Beberapa cara sudah dilakukan Pertamina. Di antaranya, pembangunan kilang baru, upgrading kilang lama, sampai mengolah minyak di tempat Shell Singapura.

’’Kami masih mengamati perkembangannya. Di luar itu, kami memang punya target produksi tinggi,’’ paparnya. (dim/c15/sof/jos/jpnn)

Respon Anda?

komentar