Setor Rp 200 Miliar, Dijanjikan Uang Mengganda Jadi Rp 18 Triliun

Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, saat menunjukkan yang yang ia gandakan. Foto: youtube
Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, saat menunjukkan yang yang ia gandakan. Foto: youtube

batampos.co.id – Dimas Kanjeng Taat Pribadi, si penganda uang secara gaib tidak hanya menjadi buah bibir di Jawa, namun hingga keluar Jawa.

Pasalanya, setelah dibekuk oleh ribuan polisi saat penggerebekan, perlahan bisnis penggandaan uang miliknya terkuat. Satu demi satu korbannya angkat bicara.

Baca Juga: Ribuan Polisi Dikerahkan Saat Menangkap Pengganda Uang dengan Cara Gaib

Ada korban yang berasal dari luar Jawa. Salah satunya almarhumah Najemiah Muin yang merupakan seorang juragan tanah asal Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Najemiah sudah lama diketahui sebagai salah seorang pengikut Dimas Kanjeng. Bahkan, di Sulsel dia menjadi penyetor uang terbanyak ke Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Nilainya fantastis. Disebut-sebut mencapai Rp 200 miliar.

Hal tersebut disampaikan menantu Najemiah, Soefian Abdullah kepada Fajar (Jawa Pos Group). Fian, sapaan Soefian Abdullah, mengaku sudah menelusuri langsung kebenaran nilai setoran itu.

Di Makassar Najemiah memang memiliki banyak tanah. Sebagian besar berada di kawasan Tanjung Bunga. Menurut Fian, rata-rata tanah tersebut sudah dijual. Dana dari hasil penjualan itulah yang disetor ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Sejak menjadi pengikut Dimas Kanjeng, posisi Najemiah di Probolinggo cukup disegani. Saat masih hidup, ketika ada pertemuan, dia selalu duduk di samping Dimas Kanjeng. Bahkan, dia dianggap sebagai orang tua Dimas Kanjeng. Panggilannya Bunda.

”Saya pernah bertemu langsung dengan perwakilan Dimas Kanjeng di Jakarta beberapa bulan lalu. Namanya Abah. Bunda (Najemiah, Red) sudah meninggal waktu itu,” tutur Fian.

”Waktu itu rencananya dilakukan pengisian saldo atau istilahnya pembagian uang. Katanya, Bunda akan mendapatkan Rp 18 triliun. Tetapi, kami disuruh sabar dan sampai saat ini tidak ada,” lanjut suami putri Najemiah, Muhyina Muin, itu.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat ditangkap tim gabungan Polda Jatim, 22 September 2016. Foto: Radar Bromo
Dimas Kanjeng Taat Pribadi saat ditangkap tim gabungan Polda Jatim, 22 September 2016. Foto: Radar Bromo

Saat itu, Fian mengklarifikasi langsung soal setoran Najemiah yang mencapai Rp 200 miliar. Abah membantah. Dia bilang hanya Rp 45 miliar.

Fian sudah memperingatkan Najemiah saat baru menjadi santri Dimas Kanjeng. Namun, sang mertua tidak mau mendengar. Pada satu kesempatan, Fian pernah diajak ke Padepokan Probolinggo.

Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ditangkap Polda Jawa Timur pada 22 September 2016. Dia digerebek dan ditangkap di padepokannya di RT 22, RW 08, Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.

Penggerebekan terkait dugaan keterlibatan dalam kasus pembunuhan dua santrinya. Hingga saat ini kasusnya masih ditangani polisi dan terus ditelusuri siapa saja korban pria yang menunjukkan penggandaan uang itu di situs Youtube. (yus/ham/JPG/c22/diq/jpg) 

Respon Anda?

komentar