TNI Deteksi Ada Mata-Mata Militan Abu Sayyaf di Indonesia

541
Pesona Indonesia
Militan Abu Sayyaf. Foto: N Butlangan/AP
Militan Abu Sayyaf. Foto: N Butlangan/AP

batampos.co.id -Militan Abu Sayyaf selalu menjadikan kapal-kapal Indonesia sebagai sasaran pembajakan dan penyanderaan. Mereka tahu persis ada kapal yang berlayar baik saat megangkut batu bara ke Filipina maupun sekembalinya.

Mereka juga tahu kapal-kapal itu milik pengusaha-pengusaha kaya, sehingga berpotensi memperoleh uang dengan jalan menyandera Anak Buah Kapal (ABK) lalu meminta tebusan.

Bagaimana militan Abu Sayyaf mengetahui secara detail kapal-kapal yang mereka jadikan sasaran?

Intelijen TNI ternyata berhasil mendeteksi kalau di Indonesia banyak mata-mata militan Abu Sayyaf. Temuan ini telah disampaikan kepada Polri.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian membenarkan pihaknya mendapatkan informasi dari TNI bahwa ada indikasi mata-mata militan Abu Sayyaf di Indonesia. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

“Harus kerja sama ini,” ucapnya.

“Tentu tidak boleh ada mata-mata kelompok yang mencari keuntungan dari warga Indonesia dengan menyandera. Kalau ada, kami proses,” tegasnya.

Sebenarnya, mata-mata kelompok Abu Sayyaf pernah ada pada 2011-2012. Seorang mata-mata ditangkap di Manado. Dia menggunakan paspor palsu Indonesia.

“Di pengadilan dipastikan dia orang Abu Sayyaf. Kalau tidak salah, kasus yang ini sudah sampai putusan pengadilan dan bersalah,” ujar mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut.

Di Indonesia mata-mata yang telah tertangkap itu langsung berkomunikasi dengan Abu Sayyaf. Bahkan, dia mengirimkan uang kepada kelompok tersebut. “Dia ini orang dari Filipina Selatan,” jelasnya.

Apakah kali ini juga ada orang dari Filipina Selatan? Tito menyatakan perlu mendalami terlebih dahulu. Yang pasti, ada kemungkinan mata-mata itu ingin mengetahui pergerakan pemerintah Indonesia. “Kita lihat nanti, ya.”

Sementara itu, pengamat terorisme Al Chaidar menjelaskan bahwa jaringan kelompok Abu Sayyaf menyebar se-Asia Tenggara. Karena itu, sangat mungkin kelompok yang kerap menyandera warga negara Indonesia tersebut memiliki mata-mata.

“Apalagi, sudah jamak diketahui, kelompok Santoso cs juga terhubung dengan kelompok Abu Sayyaf. Bisa jadi mata-mata ini berasal dari jaringan teror yang ada di Indonesia,” paparnya.

Menurut dia, tentu saja mata-mata itu harus segera ditangkap. Hal tersebut dilakukan agar tidak semakin merugikan Indonesia. “Kalau tidak ditangkap, tentu mengancam WNI terus,” terangnya.

Di sisi lain, kerja sama dengan pemerintah Filipina bisa saja dikembangkan tidak hanya saat membebaskan WNI. Tapi juga untuk memberantas kelompok Abu Sayyaf. Sebab, kelompok itu sudah menjadi ancaman internasional. (idr/c10/ang/jpg) 

Respon Anda?

komentar