Awe: Usia 14 Tahun Kepri Harus Lebih Cerdas

416
Pesona Indonesia
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos
Bupati Lingga, Alias Wello. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Bupati Lingga, Alias Wello sebagai salah seorang yang terlibat langsung dalam Anggota Komite Pemekaran Kepulauan Riau (KPKR), mengaku kecewa dengan progres dan dinamika pembangunan di Kepri. Di usia 14 tahun, kata Awe sapaan akrab bupati Lingga tersebut, harusnya Kepri menjadi provinsi yang besar dan cerdas dalam melihat peluang maupun potensi yang ada.

Awe menilai Kepri masih jauh dari cita-cita yang digagas bersama anggota KPKR. Menurut Awe, bukan hanya sekedar memisahkan Kepri dari Provinsi Riau namun mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Melayu serta ekonomi yang merata di seluruh wilayah semenanjung bekas kesultanan Lingga-Riau ini.

“Aku masih tidak puas dengan dinamika pembangunan di Kepri. Sebagai salah seorang yang ikut terlibat langsung dalam pemekaran, cita-cita mendirikan Kepri masih jauh dari harapan,” ungkap Awe kepada koran Batam Pos di ruang kerjanya, Bandar Sultan Mahmud Riayat Syah, Senin (26/9).

Padahal, sambung Awe, duit yang dihasilkan dari perut bumi dan kekayaan alam wilayah Kepri serta alokasi dana dari pusat yang mengucur 14 tahun terakhir tidaklah sedikit.

“Tapi kita tidak cerdas mengelolanya. Kita harus mengintropeksi diri, mensolidkan dan menyamakan persepsi untuk menata ulang pondasi pembangunan di alam melayu tanpa melupakan adat istiadat. Kita bangga lahir di wilayah yang pernah jaya sebagai pusat kesultanan Melayu. Kepri harus cerdas, berkarakter dan memacu ketertinggalannya,” kata Awe yang mantan ketua DPRD Lingga tersebut.

Intropeksi dan membaca peluang serta potensi daerah yang begitu kaya, kata Awe, harus dapat dimanfaatkan untuk menata kesejahteraan hingga wilayah pesisir dan pelosok Kepri. Menjadikan orang-orang melayu tempatan sebagai tuan di negeri sendri. Sejumlah besar sektor dimiliki Kepri yang begitu strategis, berada pada gerbang dan berbatas dengan negara-negara Asean. Hasil bumi, laut, pertanian, peternakan dan potensi pariwisata yang dimiliki, sudah seharusnya bisa membuat Kepri mampu bersaing dan sejajar dengan provinsi lainnya di Indonesia.

“Kita tengok selama ini, luar biasa tuntutan pembangunan. Termasuk program pemerintah pusat. Hanya kita kurang cerdas membaca peluang. Akhinya hanya dimanfaatkan pihak lain. Contohnya, kekayaan hasil bumi di Natuna. Tapi kita (red Kepri) tidak mempunyai otoritas dan kemampuan serta memberi pressure kepada pemerintah pusat untuk mengelola sendiri potensi yang ada. Akhirnya, dana bagi hasil kita tidak sesuai dan sangat jauh dari harapan. Tuntutan kita lemah sekali,” bebernya. (mhb/bpos)
Untuk itu, sebagai putra asli daerah yan kini memimpin Lingga, diusia Kepri yang ke 14 tahun, Awe mengatakan Kepri harus lebih cerdas dan solit membaca peluang serta memanfaatkan potensi yang ada. Ekonomi baru yang dibangun di Lingga, kata Awe dimulai dari membuka sektor pertanian. Kedepan, potensi perikanan serta peluang-peluang lainnya akan terus didongkrak dan menjalin kerjasama antar daerah dan juga lembaga-lembaga serta institusi pendidikan di Indonesia. (mhb)

Respon Anda?

komentar